Terkait Lima Mahasiswa Peserta Aksi Demo di DPRA

Kapolresta Banda Aceh: Kami Minta Keterangan, Bukan Ditahan

Kapolresta Banda Aceh: Kami Minta Keterangan, Bukan Ditahan
Lima mahasiswa peserta aksi demo, kembali ke rumah masing-masing, usai memberi keterangan di Polresta Banda Aceh (Foto: Ist)
Penulis

Banda Aceh | Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto menegaskan. Pihaknya tidak menahan lima mahasiswa peserta aksi demontrasi di DPR Aceh yang berakhir ricuh, Kamis kemarin di Banda Aceh.

“Mereka itu adik-adik saya juga. Tidak ditahan, kami hanya minta keterangan terkait terjadinya aksi tersebut. Jadi, tidak benar kami tahan,” kata Kapolresta Banda Aceh pada media ini, Jumat pagi di Banda Aceh.

Katanya, keterangan itu diperlukan sebagai bahan bagi pihaknya dan itu berlaku normal. “Protapnya memang seperti itu, kami hanya ingin mengali penyebab dari terjadinya “pergesekan” antara mahasiswa dengan anggota saya di lapangan,” jelas Trisno Riyanto.

Sebut Kapolresta, sesuai laporan yang dia terima, awalnya aksi tersebut berjalan normal. Namun, mulai memanas jelang shalat ashar, usai peserta aksi bertemu dengan Ketua DPR Aceh, Tgk Sulaiman. “Adik-adik keluar dan ingin mengibarkan bendera Aceh melalui salah satu tiang kayu yang sudah disiapkan. Lalu, terjadilah saling dorong mendorong,” jelas dia.

Tentu ulasnya, dalam aksi tersebut bisa jadi para pihak tak dapat menahan emosi sehingga terjadilah “pergesekan”. “Sejak awal saya sudah ingatkan kepada anggota, khususnya Shabara untuk menjaga adik-adik mahasiswa. Tapi ya itu tadi, biasalah dalam setiap aksi demo,” sebutnya.

20190816-mahasiswa2

Itu sebabnya, dia juga meminta kepada para mahasiswa yang melakukan aksi demontrasi, mematuhi setiap aturan yang berlaku. “Misal, tetap menjaga ketertiban umum serta berlangsung aman dan damai. Tidak anarkis dan lainnya,” himbau Kapolresta Banda Aceh Pol Trisno Riyanto, saat bertemu lima mahasiswa tadi, sebelum akhirnya dipersilahkan pulang ke rumah.

“Hak mengeluarkan pendapat di depan umum memang dijamin undang-undang, sebaliknya, tata cara menyampaikan pendapat juga diatur sesuai aturan. Karena itu, mari kita kerjasama dan saling menghargai. Toh, selama ini sudah berjalan dengan baik,” ajak Kapolreta.

Tak hanya itu, dia juga membantah bahwa, permintaan keterangan terhadap lima mahasiswa yaitu, Rizki (Presiden Mahasiswa) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Ikhwanul Fuadi (UIN Ar-Raniry Banda Aceh), Lukmanul Hakim (UIN Ar-Raniry Banda Aceh), Sabar ( Wakil Presiden Mahasiswa) Unimal Lhokseumawe dan rekan sekampusnya yaitu, Zubaili, tak ada hubungannya dengan rencana pengibaran bendera Aceh.

“Itu urusan politik, bukan ranah kami. Saya hanya menjaga dan bertugas dari sisi Kamtibmas. Jika sudah mengarah pada munculnya ganguan Kamtibmas, maka kami wajib mengantisipasinya. Jika tidak, kami bisa disalahkan masyarakat. Kok, polisi diam saja,” ujarnya sambil bercanda.

Sementara itu, sekira pukul 01.30 WIB, Jumat dini hari, kelima mahasiswa tadi, dipersilahkan pulang. Mereka didampinggi H. Muhammad Saleh, Koordinator Presidium Korps Alumni HMI (KAHMI) Banda Aceh, tim penasihat hukum dari Koalisi NGO HAM Aceh serta staf Senator asal Aceh Fakrur Razi di Aceh.

“Baik, disaksikan juga oleh senior kalian Bang Saleh yang juga Juru Bicara Partai Aceh (PA), silakan kembali ke rumah masing-masing dan ke depan, kita dapat bekerjasama lebih baik lagi,” kata Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Trisno Riyanto, sambil memeluk dan berjabat tangan, dini hari tadi.

Diakui Kombes Pol Trisno Riyanto, Muhammad Saleh telah hadir di Polresta Banda Aceh, mendampinggi lima mahasiswa tersebut, sejak usai shalat magrib. “Wah, kami sudah menghabiskan beberapa gelas kopi,” katanya.***

Komentar

Loading...