Terkait Nasib Mustafa dan Kartini

Kades Alue Meuganda Bantah Warganya Tinggal di Perbukitan

Kades Alue Meuganda Bantah Warganya Tinggal di Perbukitan
Kepala Desa (Kades) Alue Meganda, Usman

Meulaboh | Keberadaan warga miskin di Desa Alue Meganda, Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat kini menuai protes tentang nasib miris pasangan suami istri yang sudah tiga tahun. Namanya Mustafa (60) dan Kartini (45), tinggal di gubuk 4 kali 3 meter di atas perbukitan daerah itu.

Kepala Desa (Kades) Alue Meganda, Usman, Sabtu, 9 November 2019 menghubungi MODUS ACEH via telephone selular. Dia mengungkapkan fakta versinya yang bertolak belakang dengan pernyataan yang disampaikan Mustafa kepada awak media dan organisasi kepemudaan yang menyambangi kediamannya.

Dia khawatir, informasi tentang  adanya masyarakat miskin yang jauh dari pusat keramaian dan tinggal di gubuk 4 kali 3 meter serta tak dialiri listrik dan peralatan elektronik. Termasuk makan pas pasan maupun kebutuhan gizi untuk Santi (anaknya) berumur 4 tahun, akan berdampak pada alokasi dana desa yang diperoleh desa tersebut.

“Yang disampaikan dia (Mustafa) bukan semua, dia orang yang baru pulang kemari, dulu itu dia merantau keluar, kebun yang ditempati sekarang milik dia, saya minta maaf ini imbasnya kepada dana desa,” jelas Usman.

Ia mengatakan, Mustafa sendiri memiliki harta yang cukup untuk kehidupan dan anak-anaknya. Salah satunya, dia memiliki dua pintu toko di Simpang Empat, Kabupaten Nagan Raya dan sudah menikah 4 kali. Walau pun dirinya mengakui Mustafa sebagai warga asal Desa Alue Meganda. Namun Usman tak terima bahwa dia bercerita demikian kepada publik.

Kendati, untuk pembangunan rumah layak huni bagi pasutri yang tinggal di atas gunung itu belum diplotkan. Namun, Usman mengaku telah memberikan tanah seluas 10 kali 30 meter untuk Mustafa agar dibangun rumah. Pemberian itu juga telah disetujui Bupati Aceh Barat, Ramli MS.

“Memang tercatat sebagai warga desa ini, tapi imbasnya ke dana desa juga. Sementara bantuan ada kami diberikan. Kalau rumah memang belum kita plot untuk dia, ada rumah lain yang lebih diprioritaskan selain dirinya. Ada pernah diberi tanah 10 kali 30 sudah disetujui Bupati,” ungkapnya.

Awak media pers, sebenarnya sudah berusaha menghubungi Kades setempat untuk meminta konfirmasi, terkait  keberadaan warga yang tinggal di rumah tak layak huni. Saat itu, kabar dari istri Kades saat dihubungi bahwa Usman lagi berada di sawah.

Diberitakan sebelumnya, sudah tiga tahun Mustafa dan Kartini tinggal di gubuk 4 kali 3 meter. Jangankan untuk membeli barang, makan saja mereka harus pas pasan, belum lagi kebutuhan gizi untuk anaknya Santi yang masih berumur 4 tahun.

Sebelum tinggal di pengunungan, dahulu keluarga kecil itu menempati rumah bekas Kantor Transmigrasi setempat yang berjarak sekitar 10 kilometer dari tempatnya sekarang. Namun, dekat dengan pusat permukiman warga lain. Hanya saja saat ini kondisi bekas kantor itu sudah lapuk dan membahayakan mereka jika masih disinggahi. Hal itulah membuat Mustafa dan istri angkat kaki dan pindah.

Niat mereka untuk memperbaiki ada, namun itu pupus karena tak punya uang untuk membenahi plafon yang sudah lapuk dan lantai yang sudah keropos.

“Ya beginilah kondisi kami, jauh dari penduduk lain, kami tinggal di tanah orang saat ini yang masih berbaik hati, meskipun jauh dari keramaian tanpa listrik tetap sabar, asalkan tidak tiris saat hujan saja sudha cukup, meskipun kondisi rumah memang sangat sempit ya cukup cukupkanlah,” kata Mustafa saat bercerita kepada wartawan saat itu.***

Komentar

Loading...