Jembatan Ambruk, Kegiatan Ekonomi Dua Kecamatan Terancam

Jembatan Ambruk, Kegiatan Ekonomi Dua Kecamatan Terancam

“Jembatan itu dibangun tahun 1996. Tapi terhenti pada 1998 akibat konflik. Tahun 2000, pembangunan jembatan tersebut dilanjutkan kembali dan diresmikan pada 2002 oleh almarhum Taufik Kiemas, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia saat itu. Lalu, ambruk kembali, Senin, 12 November 2018, namun masih bisa dilintasi dan rencananya akan diperbaiki akhir tahun 2019. Rencana ini gagal akibat rubuh total dan harus dibangun ulang”.

Meulaboh | Harapan masyarakat Kecamatan Kaway XVI dan Pante Cereumen, Kabupaten Aceh Barat untuk memiliki jembatan baru tampaknya telah pupus.

Kini, pembangunan akses penghubung itu telah dihentikan Pemerintah Aceh Barat.

Sebabnya, pukul 14.00 WIB tadi siang, jembatan yang dibangun pada 1996 tapi terhenti pada 1998 akibat konflik dan pada tahun 2000, pembangunannya dilanjutkan kembali serta diresmikan pada 2002, ole halmarhum Taufik Kiemas, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia saat itu.

Namun, kondisi rubuh total dan tak bisa dilalui lagi, bahkan untuk pejalan kaki sekalipun.

Amatan MODUS ACEH, jembatan rangka baja sepanjang lebih kurang 300 meter itu patah dua, atbumen tengah ambruk dihantam air deras aliran Sungai Krueng Mereubo dan bergeser sehingga terpisah dari badan jembatan.

Letak akses penghubung memang berada ditikungan sungai Desa Sawang Teube, Kecamatan Kaway XVI dan sering terhantam air. Pemerintah mewacanakan pemindahan pembangunan titian itu. Namun ada protes dari warga.

Menghindari masalah berlarut, maka akan dilakukan perbaikan. Sayangnya itu harus dibahas ulang karena bencana alam.

Keuchik Desa Sawang Teubeu, Zulbaili mengatakan. Ambruknya jembatan memang disebabkan debit air yang meningkat lantaran musim hujan yang melanda wilayah itu dalam beberapa pekan terakhir.

Tidak ada korban jiwa atas kejadian tersebut, karena masyarakat lebih dulu mendengar suara keras runtuhan dan menyaksikan langsung jembatan yang jatuh ke sungai secara perlahan.

“Tepat pukul dua siang tadi jembatan ini runtuh karena hantaman air, apalagi ini musim banjir, dan sangat mengganggu akses masyarakat dua kecamatan, apalagi ekonomi sangat terancam kalau kondisinya seperti ini. Tadi saat runtuh bunyinya besar, semua mendengar makanya tidak ada korban jiwa,” kata Zulbaili, Kamis (31/10/2019).

Dijelaskannya, ada 27 desa dari dua kecamatan berada di seberang jembatan dengan perkiraan jumlah mencapai 12.000 jiwa lebih. Kebanyakan dari mereka berkerja sebagai pekebun dan petani.

Jembatan Sawang Teube itu menjadi akses utama mereka membawa hasil pertanian untuk dijual.

Karena telah runtuh, lanjut Zulbaili, mereka harus menggunakan jalan alternatif dengan tambahan jarak tempuh mencapai satu jam atau setara 25 kilometer.

Jika melalui jalan utama hanya membutuhkan waktu 30 menit menuju pusat kecamatan dan 1 jam lebih kurang menuju pusat Kota Meulaboh.

“Dampak terbesarnya pada ekonomi, karena tidak bisa membawa hasil lewat sini lagi. Harus mutar balik, melewati desa lain yang lebih jauh, kira kira 1 jam dengan jarak tempuh 25 kilometer menuju pusat kecamatan, apalagi ke kota bisa lebih lama,” terangnya.

Ia berharap, pemerintah segera membangun jembatan baru karena kebutuhan yang mendesak, dan tidak lagi ada wacana pemindahan lokasi pembangunan karena akan menimbulkan masalah baru kembali.

Pihak petugas juga telah memasang police line di sana agar tidak ada warga yang mencoba memaksa menyeberang dengan berjalan kaki. Karena aliran sungai yang deras mengancam keselamatan.

Tak berselang lama, Wakil Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat (DPRK), Ramli SE, Kepala Dinas dan Kabid Jalan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Aceh Barat tiba ke lokasi dan ikut menyaksikan peristiwa ambruknya jembatan tadi.

Aparat Kepolisian juga berjaga di sana serta warga terus ramai berdatangan untuk mengabadikan kejadian itu dengan smartphone mereka.

Kabid Jalan, PUPRK Aceh Barat, Samsul Rizal mengatakan. Pihaknya akan membuat kajian ulang terhadap pembangunan jembatan Ulee Raket.

Sebelumnya akan dilakukan perbaikan jembatan karena ambruk pada tahun 2018 dengan total nilai mencapi Rp 18 miliar.

“Ini akan kita susun ulang dan buat kajian, apakah tetap di sini atau pindah lokasi, karena kita harus perhatikan faktor alam juga, untuk rencana pembangunan awal dan paket sudah dilelang dan tidak bisa dilanjutkan, ini faktor alam yang tidak bisa kita duga,” katanya.

Ia melanjutkan, tidak ada kerugian bagi pihaknya sebelum proses pembangunan dimulai, hanya saja ada pengeluaran biaya untuk Detail Engeenering Design (DED) jembatan.

”Kita belum mengeluarkan biaya apapun, kecuali untuk DED. Bahkan pihak rekanan belum mengambil uang muka untuk dimulainya pekerjaan, ini tidak bisa dilanjutkan dan harus dibangun ulang, untuk sekarang pekerjaan kita hentikan,” ujarnya.***

Komentar

Loading...