Breaking News

Musda V Partai Demokrat Aceh dan Titik Timbang "Menggusur" Nova  

Musda V Partai Demokrat Aceh dan Titik Timbang "Menggusur" Nova  
Nova Iriansyah (Foto: Dok.MODUSACEH.CO)
Rubrik

Tanggal 23 September 2021, Musyawarah Daerah (Musda) V Partai Demokrat Aceh akan berlangsung di salah hotel berbintang di Banda Aceh. Hampir dapat dipastikan, Nova Iriansyah tergusur dan Muslim didapuk sebagai ketua.      

MODUSACEH.CO I Sejak dua hari lalu, Warung Kopi Solong di episentrum Ule Kareng, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh ramai disatroni kader dan Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat se Aceh.

Ini bukan tanpa alasan, selain menghadiri perhelatan akbar bertajuk Musda V Partai Demokrat Aceh. Mereka juga ikut menemani Muslim, anggota DPR RI Fraksi Demokrat Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh-2.

Maklum, nama Muslim mencuat sebagai salah satu calon kuat, mengantikan kursi ketua yang saat ini duduki Nova Iriansyah. Hingga, Rabu, 22 September 2021, 13 DPC se Aceh masih kokoh mendukung Muslim.

Sisanya 10 DPC, kabarnya masih bertahan untuk mendukung Nova Iriansyah. Begitupun, diperkirakan mereka akan berbalik arah saat Musda berlangsung. 

“Kami perkirakan ini akan terjadi jelang pemilihan ketua. Mudah-mudahan Nova Iriansyah akan menyatakan undur diri,” ungkap seorang sumber media ini di DPD Partai Demokrat Aceh, Rabu petang di Banda Aceh.

Kata dia, selain Muslim, sejumlah unsur DPP Partai Demokrat sejak kemarin sudah tiba di Banda Aceh. “Dijadwalkan Musda akan dibuka secara daring oleh Sekjen DPP PD Teuku Reifky Harsya,” kata dia.

Semula, sempat dijadwalkan tanggal 12-13 Juni 2021. Namun, karena status Kota Banda Aceh masuk zona merah Covid-19. DPP Partai Demokrat akhirnya menunda kegiatan tersebut.

Padahal, sempat beredar kabar, Nova Iriansyah bersama tim suksesnya sangat haqqul yakin akan terpilih kembali. Maklum, sejumlah Pengurus DPC Partai Demokrat se-Aceh, sudah mampu dirangkul. Terlepas dengan berbagai cara yang dia lakukan.

Namun, harapan memang tak selamanya menjadi kenyataan. Berat dugaan, keinginan Nova untuk terpilih kembali sebagai Ketua PD Aceh, lima tahun ke depan justeru semakin tipis, seiring munculnya nama Muslim.

Lazim terjadi, pesta demokrasi (Musda) memang kerap melahirkan dinamika di internal partai. Misal, soal usung mengusung dan dukung mendukung calon. Terkini, beredar kabar dan dipastikan Nova akan tergusur dari bursa kursi orang nomor satu PD Aceh.

Syahdan, 13 dari 23 Dewan Pengurus Cabang (DPC) PD se-Aceh sudah berikrar untuk mendapuk Muslim, anggota DPR RI Fraksi PD dari Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh-2, sebagai Ketua Partai Demokrat (PD) Aceh, untuk lima tahun ke depan (Periode 2021-2026). 

“Kami siap menyukseskan Musda dan telah bersepakat mengusulkan Bang Muslim sebagai nahkoda Demokrat Aceh yang akan datang," tegas Muzakkar A. Gani, Ketua DPC PD Bireuen, beberapa waktu lalu di Bireuen.

Ketua Forum DPC Bersatu, HT Ibrahim menegaskan, 13 DPC yang hadir dan tergabung dalam Forum DPC Bersatu ini, secara tegas mendukung dan memenangkan Muslim sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Aceh ke depan.

Dia menyatakan, komitmen dan dukungan terhadap Muslim telah diformalkan dalam bentuk surat dukungan dan telah diserahkan kepada Steering Committee (SC) Panitia Musda beberapa waktu lalu.

Dari catatan yang diperoleh media ini tertera, ada nama HT. Ibrahim ST. MM (Ketua DPC Aceh Besar), Arif Fadillah SIKOM (Ketua DPC Banda Aceh), H. Herman SE (Ketua DPC Aceh Barat), Mirnawati SE (Ketua DPC Aceh Timur), T. Sofianus SE (Ketua DPC Lhokseumawe), Tantawi SHI (Ketua DPC Aceh Utara).

Selain itu,  ada DR. Muzakkar  A Gani (Ketua DPC Bireuen), Indra Nasution (Ketua DPC Sabang), Drh. Nurdiansyah Alasta (Ketua DPC Aceh Tenggara), Syahyuzar Aka (Ketua DPC Langsa), Rajudin (Ketua DPC Gayo Lues), T. Hasyimi  Puteh (Ketua DPC Aceh Jaya), dan Hasdian Yasin (Ketua DPC Simeulue).

Sekilas, pengakuan Muzakkar dan HT. Ibrahim memang terkesan biasa dan normal saja. Begitupun, bila menelisik lebih dalam, “pengusuran” Nova Iriansyah dari kursi Ketua PD Aceh untuk periode kedua, bukan tanpa sebab.

Secara internal misalnya, kepemimpinan Nova dinilai cenderung menabur kegaduhan. Termasuk dengan anggota DPR Aceh dari Fraksi Demokrat. “Dia tidak melihat kami sebagai mitra. Tapi sebagai anak buah dalam satu perusahaan,” ungkap seorang anggota DPR Aceh dari Fraksi Partai Demokrat Aceh, Senin lalu di Banda Aceh.

Entah itu sebabnya, program pokok pikiran (Pokir) yang menjadi tanggungjawab politisi PD Aceh di DPR Aceh, nasibnya juga tak memberi banyak kesempatan dan keuntungan. Padahal,  apa yang mereka lakukan justeru untuk membangun citra positif terhadap Nova dan Partai Demokrat Aceh.

“Hingga kini, saya masih terhutang Rp1 miliar saat Pilkada 2017 lalu untuk mendukung Nova, sementara pihak lain malah mengambil keuntungan dari kepemimpinan dia,” ungkap sumber tadi.

Soal komunikasi dan relasi internal partai juga setali tiga uang. Nova dinilai cenderung “otoriter” dan tak boleh dikritik. “Padahal, kami sering memberi saran untuk soliditas dan kemajuan partai. Namun, semua itu dianggap angin lalu,” ujar sumber tersebut.

Pernah sekali waktu tambah sumber ini, ada belasan Ketua DPC PD se-Aceh mendatangi dan bertanya, apakah dia (Nova) akan maju kembali sebagai ketua. Saat itu, Nova menepis dan mengatakan; “Itu urusan nanti, saya ini Gubernur Aceh,” ucap sumber tersebut, mengulang perkataan Nova.

Sebaliknya, saat menjelang Musda yang dijadwal 12-13 Juni 2021 lalu, birahinya muncul kembali dan dia menyatakan tak bersedia dicalonkan kembali. Tapi diam-diam justeru mengalang kekuatan.

“Itu memang sudah karakter. Omongannya tak bisa dipegang. Hari ini A, besok atau dalam hitungan jam sudah berganti menjadi B,” ungkap seorang sumber, Pengurus DPD Partai Demokrat Aceh pada media ini.

Lantas, bagaimana dari sisi eksternal. Diakui sumber tadi, Aceh dibawah kepemimpinan Nova, sadar atau tidak selalu dalam “kegaduhan”, baik dengan DPR Aceh maupun elemen masyarakat sipil lain.

“Contoh paling nyata adalah, Nova tidak dekat dengan ulama. Selain itu, kasus kepemimpinan Majelis Adat Aceh (MAA) yang hingga kini masih menyimpan persoalan. Padahal sudah ada putusan Mahkamah Agung (MA). Tapi tetap tidak dieksekusi. Ini membuat citra Partai Demokrat menjadi kurang elok,” jelas sumber ini secara terbuka.

Selain itu, persoalan pribadi, terkait pernikahannya dengan Yunita Arafah (Yuyun), istri keduanya juga tidak bisa diselesaikan secara baik, sehingga menjadi konsumsi publik dan media pers. 

Hasilnya, Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh mengusulkan Yuyun untuk diberhentikan secara tidak hormat kepada Menristekbikbud di Jakarta.

Belum lagi berbagai isu dugaan praktik korupsi yang mulai menjadi atensi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Inilah akumulasi mengapa kemudian kami berkesimpulan untuk melakukan regenerasi kepemimpinan Ketua PD Aceh,” papar salah satu Ketua DPC PD di Aceh pada media ini.

Lalu, bagaimana sikap DPP Partai Demokrat? Sumber media ini menyebut, pihaknya sangat menghargai keputusan 13 DPC PD se-Aceh yang mengusung Muslim sebagai calon Ketua PD Aceh, mengantikan Nova Iriansyah. 

Kata dia, Musda merupakan proses demokrasi yang patut dan wajid dihargai dan lalui setiap kader. Hanya saja, semua perjalanan regenerasi itu harus dijalankan, sesuai aturan dan mekanisme partai.

“Muslim itu juga kader partai yang telah teruji memiliki militansi dan loyalitas tinggi terhadap partai,” ungkap sumber tersebut.

Terkait berbagai laporan dan rekam jejak Nova Iriansyah dalam memimpin partai ini, sumber tadi mengakui sudah mempelajarinya. 

“Bung Nova juga sudah berbuat banyak untuk membesarkan partai. Hanya saja, tuntutan dan proses regenerasi yang diinginkan kawan-kawan di Aceh, juga menjadi pertimbangan DPP. Dan, Bung Nova akan kami beri porsi lain di DPP,” ujar dia.

Lantas, bagaimana jika hasilnya justeru akan berbeda?

"Ya, sesuai AD/ART partai, keputusan akhir ada pada DPP Partai Demokrat. Andai atau boleh saja Nova terpilih kembali, tapi yang berhak menentukan adalah DPP. Tapi kami kira, DPP punya pertimbangan khusus terhadap Bang Muslim. Karena itu, kawan-kawan DPC dan Nova jangan "bunuh dirilah," ungkap seorang Pengurus DPC PD pada media ini, Rabu pagi di Banda Aceh.

Sayangnya, berbagai asumsi dan pengakuan tersebut, tak bisa dikonfirmasi kepada Nova Iriansyah. Maklum, sejak menjadi orang nomor satu Aceh, paska Irwandi Yusuf dijerat KPK, awal Juli 2018 lalu. Nova menutup akses terhadap media ini. Perintah serupa juga disampaikan kepada seluruh kepala dinas atau SKPA di jajaran Pemerintah Aceh.

“Ya,itu disampaikan saat rapat pimpinan (Rapim) Kepala SKPA beberapa waktu lalu,” kata beberapa kepala dinas pada media ini, Senin, dua pekan lalu di Banda Aceh.***

 

 

Komentar

Loading...