Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Jejak Hafidz dan Imam Muda di Serambi Mekah (bagian satu)

Jejak Hafidz dan Imam Muda di Serambi Mekah (bagian satu)
dok. MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik

Motivasi hafal al-Qur’an terus tumbuh dan berkembang di Aceh. Walau bergerak lambat, namun generasi qur’ani ini sudah lahir di setiap kabupaten dan kota. Mereka menimba Ilmu di berbagai daerah, pesantren serta dayah modern maupun tradisional di Serambi Mekah. Berikut Laporan wartawan MODUSACEH.CO, Juli Saidi dan Azhari Usman.

***

Usianya masih relatif muda. Tapi tak jadi penghalang bagi Mauliza Juliantika (17), untuk meraih berbagai prestasi di bidang hafidz qur’an. Lahir dari keluarga sederhana, Mauliza Juliantika menjadi hafidz al-Qur’an di usia muda.

Sejak 2009 hingga sekarang, gadis remaja asal Kota Lhokseumawe ini, sudah menggondol berbagai penghargaan. Belasan piala berjejer rapi dalam rumahnya di Gampong Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Memang, ketika teman seusianya sibuk bermain, Mauliza lebih memilih untuk menghafal al-Qur’an. Itu dilakukan sejak usia dua belas tahun.

Saban hari, usai shalat Maghrib, Mauliza memulai aktivitasnya menghafal ayat-ayat suci al-Qur’an. Kegiatan itu dia lakukan di LPTQ Banda Masen, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, tak jauh dari tempat tinggalnya. “Satu hari biasanya saya menghafal satu halaman al-Qur’an,” kata remaja ini.

Putri sulung dari pasangan Harmiati dan Abdul Maliq ini dikenal sebagai sosok teladan bagi adik-adiknya. Meski tidak lahir dari lingkungan keluarga berada, tak menyurutkan semangat Mauliza untuk terus belajar dan menuntut ilmu. Itu sejalan dengan pengakuan orang tuanya.

“Pernah suatu hari saat mau berangkat sekolah, saya tidak punya uang, sehingga tidak bisa memberi jajan pada Mauliza. Tapi dia tetap minta diantar ke sekolah,” kenang Ayahnya.

Kehidupan ekonomi yang sulit sering dirasakan keluarga Mauliza. Maklum, Ayah Mauliza berprofesi sebagai pedagang pada siang hari, dia berkeliling menjual buku sekolah dengan sepeda motor. Sedangkan malam hari, Abdul Maliq berangkat ke laut menangkap ikan bersama rekannya sesama nelayan.

Di mata orang tuanya, Mauliza dikenal sebagai sosok anak yang sabar dan tidak pernah mengeluh. Entah karena itu pula, Mauliza sering masuk dalam peringkat lima hingga sepuluh besar di sekolahnya. Kondisi ini, tentu saja membuat orang tuanya bangga pada Mauliza.

Bukan hanya itu, ayahnya juga menceritakan bahwa selama ini, Mauliza juga banyak membantu dan meringankan beban orang tua. “Semua uang hasil menang lomba dia berikan pada keluarga,” terang ayahnya.

Namun demikian, orang tuanya tak serta merta menggunakan uang hasil jerih payah anaknya itu. Mereka menyimpan semua uang tersebut untuk kebutuhan Mauliza. Makanya, beberapa waktu lalu orang tuanya membelikan Mauliza satu unit sepeda motor untuk mempermudah aktivitas remaja ini.

Tentu saja, berbagai prestasi yang diperoleh Mauliza tidak terlepas dari bimbingan sang guru yang dengan sabar menggembleng dan membenarkan hafalannya setiap hari. Teungku Busyairi yang menjadi mentor, memiliki peran penting dibalik keberhasilan Mauliza selama ini.

Di Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) yang dipimpin sang guru ini, Mauliza belajar berbagai teknik menghafal al-Qur’an. Begitupun, adik dan dua sepupunya juga menuntut ilmu agama di tempat ini.

Anak pertama dari lima bersaudara ini bukanlah satu-satunya yang menekuni kegiatan menghafal al-Qur’an. Dua saudara sepupunya yang tinggal berdekatan dengan rumah Mauliza juga menjadi hafidz. Bahkan kakak sepupunya Romi Saputra sempat berada di negeri jiran Malaysia. Dia undang untuk menjadi imam mesjid selama bulan suci ramadhan lalu.

Begitupun, adik kandung Mauliza, Eva Febtianti juga mengikuti jejak kakak sulungnya menjadi hafidz. Dan, Eva sendiri sudah menjuarai beberapa event di tingkat Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

***

Syamsul Huda merupakan anak ketujuh dari tujuh bersaudara, pasangan Basaruddin Berutu dan Siti Rahmah asal Mandumpang, Kecamatan Suro, Kabupaten Aceh Singkil. Remaja kelahiran 12 Februari 1998 ini sudah khatam al-Qur’an 30 juzz. Dia bercita-cita jadi duta besar (dubes) ke Amerika Serikat. Belajar hafal al-Qur’an sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Syamsul Huda pernah meraih juara I Matematika antar SD dan juara III hafal ayat-ayat pendek pada tahun 2009.

Modal dasar satu juz di tingkat sekolah dasar itu, tak disia-siakan Syamsul Huda. Dia kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) di Pesantren Perbatasan Safinatus Salamah, Danau Paris, Aceh Singkil. Di dayah itu Syamsul Huda, menambah hafalannya hingga lima juz.

Usai di Pesantren Safinatus Salamah, remaja yang mengaku hobi membaca dan menulis itu, mengikuti seleksi yang dilaksanakan United Islamic Cultural of Indonesia. Dari sekian banyak siswa yang ikut tes, Syamsul Huda dinyatakan diterima sebagai santri untuk belajar menghafal al-Qur’an.

Semula, Syamsul Huda mengaku kewalahan dengan metode yang diterapkan lembaga milik Turki tersebut. Namun, dia terus meyakinkan diri dengan motivasi hadist Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Daud. Hasilnya, satu hari Syamsul Huda mampu menghafalkan ayat-ayat suci al-Qur’an dua puluh halaman yang kemudian setiap subuh ia setorkan hafalanya pada tujuh ustad asal Pulau Jawa ini.

“Di UICCI, pertama saya stor satu halaman, kemudian naik dua dan tiga halaman, setelah itu diulangi lagi ketiga halamannya. Jadi, dalam satu hari 20 halaman. Saya sudah khatam, saat ini tinggal memperlancar saja. Satu hari saya setor lagi satu hingga tiga juz,” kata Syamsul Huda pada media ini beberapa waktu lalu.

Setelah mahir, Syamsul Huda mulai fokus hafal al-Qur’an. Itu dilakukan sejak 2013 di United Islamic Cultural of Indonesia dan akan melanjutkan belajar membaca al-Qur’an dengan tilawah. Sebab, dia juga termotivasi dengan ayahnya yang membaca al-Qur’an dengan tilawah. “Saya berharap abang dan kakak saya, mudah-mudahan anak-anaknya dapat mengikuti jejak saya untuk menjadi hafidz al-Qur’an. Mudah-mudahan diridha Allah SWT,” doa Syamsul Huda, anak seorang petani.

***

Tabdurrani bukanlah anak ulama, pegawai negeri sipil (PNS) atau pengusaha. Ayahnya Muchtarruddin, hanya bekerja sebagai buruh kasar-petani di Desa Ujong Tanoh, Kecamatan Kota Bahagia, Aceh Selatan. Begitupun, dia sudah mampu menghafal al-Qur’an 20 juz.

Remaja berusia 18 tahun itu lahir di Desa Ujong Tanoh, Kecamatan Kota Bahagia, Aceh Selatan, 3 April 1998. Belajar menghafal al-Qur’an dari nol. Kecuali itu, hanya bermodal tahu panjang dan pendek dalam membaca al-Qur’an.

Pelan tapi pasti, sejak tahun 2013, remaja yang mengaku hobi membaca dan bercita-cita ingin jadi guru Bahasa Inggris ini, masih belajar di United Islamic Cultural of Indonesia dan terus mengejar hafalanya. Sehari, ia mampu menyotor hafalanya sepanjang 14 halaman atau tujuh lembar al-Qur’an. Meski mengaku sering lupa, remaja yang pernah ikut lomba pada beberapa kesempatan di Aceh Selatan pada tahun 2010 dan 2011 ini, berhasil meraih juara I dan II dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), di Aceh Selatan.

Anak pertama dari lima bersaudara pasangan Muchtarruddin dan Maslina ini mengaku, niatnya untuk menjadi hafidz datang dari dirinya sendiri dan keluarga serta dorongan dari guru-gurunya. “Kita harus ikuti al-Qur’an. Mari generasi Aceh belajar menghafal Qur’an. Kita hidup dan tinggal di Aceh, Bumi Serambi Mekkah,” ajak Tabdurrani di sekolah United Islamic Cultural of Indonesia (U.I.C.C.I), Desa Seupe, Kemukiman Bueng Cala, Kecamatan Kuta Baru, Kabupaten Aceh Besar.

***

Dandi Utama Sholin (17 tahun), ingat betul kapan ia menamatkan hafalannya. Persis tanggal 16 Mei 2015 lalu. Dandi sudah menamatkan hafalan al-Qur’an 30 juz. Semula, saat awal bergabung di United Islamic Cultural of Indonesia, Kuta Baru, Aceh Besar pada tahun 2014 silam. Dandi anak pertama dari pasangan Sinar Solin dan Nurlaina Manik, asal Aceh Singkil ini mengaku kewalahan. Sebab metode menghafal dari halaman terakhir belum pernah ia lakukan.

Namun tak butuh waktu lama, akhirnya ia terbiasa dengan metode Turki Utsmani-dengan cara menghafal setiap juz halaman paling terakhir. Kecepatan Dandi yang punya cita-cita ingin jadi Direktur Universitas Hafidzul Qur’an ini, dibuktikan dengan kemampuannya dalam sehari mampu menghafal 20 halaman. “Pertama saya merasa susah menghafalnya karena harus dari belakang, sudah biasa dalam satu hari mampu saya hafal 20 halaman,” kata Dandi, anak dari keluarga petani, Selasa siang pekan lalu.

Di tingkat lokal, Dandi saat duduk sekolah di Pesantren Terpadu Safinatus Salamah, Aceh Singkil pada tahun 2011-2013. Dia pernah mendapat prestasi juara II Pidato Bahasa Arab, Harapan II Hafal al-Qur’an pada MTQ Aceh Singkil dan Juara II Cerdas cermat tingkat pesantren.

Kini, Dandi belajar untuk mengulang-ulang hafalan di UICCI. Sebab, jika itu tidak dilakukannya, maka hafalan akan mudah hilang alias lupa. Menurut Dandi, belajar hafidz di lembaga itu, atas kemauannya pribadi. Sebab kata Dandi, saat ia menimba Ilmu di Pesantren Safinatus Salamah, sudah mampu hafal al-Qur’an empat juz. “Sekarang tinggal masa perbaikan,” ujarnya, yakin saat ditemui media ini beberapa waktu lalu.

***

TIGA tahun mondok di Pesantren Almanar, Fahreza asal Lueng Bata, Banda Aceh, sudah menghafal qur’an tiga juz. Kini, anak Fachrrrazi,  seorang karyawan di Perusahaan Listrik  Negara (PLN) Aceh ini sudah hafal 20 juz. Aktivitas menghafal qur’an fokus dilakukan saat bergabung di United Islamic Cultural of Indonesia, Kuta Baru, Aceh Besar, pada tahun 2014 silam. Belajar dengan gigih, Fahreza yang lahir di Sigli, 5 Februari 1999 itu, mampu menghafal 15 halaman setiap hari.

Giatnya anak kedua dari lima bersaudara, pasangan Fachrrrazi dan Suhartati ini, diakuinya karena menerapkan prinsip bahwa al-Qur’an merupakan sumber ilmu. Untuk lebih termotivasi, Fahreza juga mengaku, disela-sela kesibukannya menghafal al-Qur’an, dia juga membaca arti dari ayat-ayat suci tersebut. “Saya baca artinya, banyak juga ilmunya,” kata remaja yang bercita-cita ingin jadi dosen agama ini. Makanya, dalam proses belajar menghafal al-Qur’an, Fahreza memasang target harus hafal 30 juz. Amin.

***

Badan boleh terlihat sedikit tambun. Tapi, jangan tanya soal kemampuannya menghafal al-Qur’an. Lazim terjadi, anak seusianya memang sedang suka bermain. Namun beda dengan  Muhammad Sahal yang baru duduk di kelas lima Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN). Bayangkan, dia sudah bisa  menghafal al-Qur’an 10 juz.

Itu dilakukan Muhammad Sahal, sebelum duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK). Surat pertama yang dihafal Muhammad Sahal adalah Al-Baqarah. “Sekarang sudah 10 juz,” kata Muhammad Sahal, di Komplek Pesantren Madrasah Ulumul Qur’an, Pagar Air, Aceh Besar, Rabu pekan lalu.

Anak ketiga dari tiga bersaudara itu, berhasil merebut beberapa prestasi di kancah lokal. Tahun 2014, Muhammad Sahal pernah mendapat juara satu menghafal al-Qur’an satu jus. Itu dilakukan saat ulang tahun Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh.

Pada tahun yang sama, Muhammad Sahal meraih juara II hafal al-Qur’an di Kecamatan Blangbintang, Kabupaten Aceh Besar dan juara III di Dayah Darul Alkam pada  tahun 2015. Muhammad Sahal berasal dari keluarga hafidz dan hafidzah 30 juz, pasangan H. Sualip Khamsin dan Syathriyah, S. Ag. Kakaknya, Nailul Ulya dan Minatul Maula, sudah hafal 30 juz. Sedangkan Muhammad Sahal yang masih berusia 10 tahun, sudah hafal 10 juz.***

 

Komentar

Loading...