Dibalik Pabrik Sabu-Sabu di Paloh Lada

Jaringan Aceh-Jakarta Semakin Leluasa

Jaringan Aceh-Jakarta Semakin Leluasa
Badan Narkotika Nasional (BNN) Jakarta berhasil menggerebek pabrik pembuatan sabu-sabu di Duson Barat, Gampong Paloh Lada kecamatan dewantara, Aceh Utara. dan berhasil mengamankan Dua tersangka pelaku.Minggu, (14/8/2016). Foto: statusaceh.net
Rubrik
Badan Narkotika Nasional (BNN) menciduk Ed (35) asal Banda Aceh dan Mul (35), seorang warga Desa Paloh Lada, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Minggu, 14 Agustus 2016 lalu.
Penangkapan itu terjadi setelah BNN menggerebek sebuah rumah yang dijadikan pabrik pembuatan sabu-sabu di desa tersebut. Hasilnya,  tim BNN menyita sejumlah barang bukti yang diduga sebagai bahan pembuatan sabu.
Sebelumnya, 12 Januari 2015, personel Satuan Narkoba Polresta Banda Aceh, meringkus Sofyan (52), seorang Bandar, sekaligus pemilik pabrik sabu-sabu (SS) di sebuah rumah di Neusu, Lorong Jeumpa, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Polisi mengamankan satu ons sabu-sabu, kompor gas kecil, jirigen, dan satu paket perlengkapan produksi barang terlarang itu.
Penemuan ini sekaligus menjadi tanda tanya banyak pihak. Sebab, begitu mudah para produsen menjalankan aksinya, tanpa terhendus jajaran BNN Provinsi Aceh. “Aneh saja, kok BNN Pusat yang mengerebek, lalu apa kerja BNN Aceh dan Aceh Utara,” kata Amir, seorang warga Krueng Geukuh, Kecamatan Dewantara pada media ini.
Kedua tersangka ditangkap saat memproduksi sabu di sebuah gubuk persis di belakang rumah tersebut. Diperkirakan, hanya beberapa jam lagi, sabu akan selesai diproduksi. Rumah itu kemudian dipasang garis polisi.
Ketua Tim Penyidik BNN Pusat, Kompol Sudihartono kepada sejumlah wartawan di lokasi kejadian menjelaskan, sebelumnya mereka sudah menangkap seorang tersangka. Namun, Sudiharto tidak merinci tersangka tersebut. “Setelah itu kita pantau terus, sehingga kita temukan rumah ini,” sebutnya.
Dia mengatakan, seluruh bahan yang diperlukan untuk memproduksi sabu-sabu juga sudah dipasok ke rumah tersebut. Jika tim BNN tidak menggerebeknya, dipastikan sabu itu selesai diproduksi dan dijual ke masyarakat.
Sementara itu, ‘home industri’ sabu-sabu di Neusu, Banda Aceh, Januari 2015 lalu, juga mengaku bahan bakunya dipasok dari Jakarta. “Ini berarti ada mata rantai antara pelaku di Jakarta dengan di Aceh,” duga Amir.
Kapolresta Banda Aceh saat itu, Kombes Pol Zulkifli SSTMK SH mengungkapkan, Sofyan ditangkap di rumahnya, Gampong Neusu, Lorong Jeumpa, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, sekitar pukul 20.00 WIB, Senin, 12 Januari 2015. Saat digeledah, ditemukan satu ons sabu-sabu beserta perlengkapan pembuatan lainnya. Dari pengakuan tersangka, modal untuk bahan baku pembuatan sabu-sabu tersebut Rp 50 juta.
Sofyan adalah seorang narapidana narkoba yang divonis 18 tahun penjara di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang dan pada 21 April 2013 dipindahkan ke LP Banda Aceh di Lambaro, Aceh Besar.
Saat itu, pelaku mengaku meminta izin kepada petugas Lapas untuk pulang ke rumah karena ada keperluan keluarga. Namun, izin tadi ia manfaatkan untuk melancarkan aksinya sebagai home industri sabu-sabu.
Bahan baku sabu-sabu yang diproduksi Sofyan, diperoleh dari Jakarta yang dimodali Bunjamin, adik sepupu Sofyan, seorang narapidana di LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Sabu-sabu seharga Rp 75 juta ini rencananya akan dikirimkan ke Lampung.
Kepada penyidik, Sofyan mengaku telah dua kalinya melancarkan aksi, pengolah atau sebagai pabrik sabu-sabu hingga mengedarkannya. Aksi pertama barang haram itu berhasil dijualnya ke seorang pengedar di Lampung seharga Rp 60 juta.
Lolosnya Sofyan atau sering keluar dari LP Banda Aceh di Lambaro, Aceh Besar, karena dia sering memberikan uang kepada oknum petugas LP antara Rp 200 hingga Rp 500 ribu. Sedangkan bahan baku dikirim dari Jakarta dan diantar kurir melalui bus. Selanjutnya barang haram yang sudah jadi itu, diambil kurir di terminal bus di Batoh, Banda Aceh.***

Komentar

Loading...