SBY: Jangan Ada Lagi Teror dan Intimidasi!

SBY: Jangan Ada Lagi Teror dan Intimidasi!

Saya berharap pada pemimpin di Aceh, mulai dari gubernur, para bupati dan wali kota dengan wakilnya, betul-betul menjaga dan menjalankan amanah perdamaian menuju kesejahteraan rakyat Aceh. Perdamaian, keadilan dan kesejahteraan. Laksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Berdosa jika amanah dan kepercayaan rakyat disia-siakan.

SBY mengatakan, rakyat Aceh sendiri juga harus punya sikap untuk menjaga betul jerih payah semua pihak, sehingga Aceh damai dan rukun. Jangan lagi ada curiga untuk membangun Aceh masa depan.

Selain itu, organisasi yang bertangungjawab terhadap keamanan Aceh ada TNI dan Polri, juga wajib menjaga keamanan dan ketertiban Aceh. Khusus untuk Pilkada mendatang, SBY berharap calon-calon yang maju menjelaskan pada rakyat Aceh, kalau terpilih apa yang akan dilaksanakan. "visi dan misi yang muluk-muluk, tapi sulit untuk dilaksanakan dan wujudkan," kata SBY.

Harus punya alat dan konsep tentang bagaimana jika diberi amanah oleh rakyat. Sampaikan, dengan demikian rakyat memilih pemimpin Aceh yang punya konsep dan arah yang jelas. Pemimpin yang membawa solusi, jangan obral janji tanpa solusi dan tidak bisa ditepati. "Nanti rakyat marah. Sedikit berjanji tapi banyak berbuat nyata untuk rakyat Aceh," kata SBY.

Sebab, kata SBY, hal itu adalahcita-cita kita semua, Aceh semakin damai, Insya Allah kalau semua itu dilaksanakan, Aceh akan lebih baik dan sejahtera dengan izin Allah dan kerja keras semua pihak.

Terkait adanya pengamat asing yang masuk ke Indonesia saat pilkada? SBY menjelaskan, Indonesia saat ini menjadi negara demokrasi ketiga dunia. Ini berarti tidak ada halangan, siapa pun bisa melihat Pilkada di Aceh tapi jangan main ancam mengancam. "Ingat! Mereka tidak boleh mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Urusan kita, undang-undang dan aturannya jelas. Jangan sekali kali mencampuri."

Kepada para calon, saran SBY, kalau ada persoalan, jangan melapor ke lembaga internasional. Menurut SBY hal ini keliru, sebab kalau ada masalah, Indonesia punya KPU dan Bawaslu dan sebagainya. "Itu menurut pandangan saya, biasa terjadi pada daerah yang baru bebas dari konflik. Karena ada pilkada, maka dunia Internasional ingin melihat apakah betul-betul demokratis, tertib dan aman."

SBY sempat mengingat bahwa dulu sering diuangkapkan bahwa Jakarta tidak memberi kesempatan dan peduli pada Aceh. "Sekarang diberi ruang yang luas, ada partai lokal. Sejarah mencatat, apakah pemimpin bisa membawa keadilan, kemajuan, aman dan sejahtera bagi masyarakat Aceh? Sekali lagi, jangan ancam mengancam, intimidasi dan teror. Itu pesan penting saya," tegasnya.

Ada yang menyebut bahwa rakyat Aceh belum dewasa dalam berpolitik? "Saya tidak berani mengeluarkan pernyataan dan menyimpulkan bahwa saudara-saudara kita di Aceh belum dewasa dalam berpolitik. Tidak boleh gegabah. Kecuali survei membuktikan itu."

Menurut SBY, bukan soal dewasa atau tidak, yang penting laksanakan Pilkada itu dengan aturan yang jelas, demokratis dan tertib. Aparat penegak hukum dan  petugas keamanan harus menjaga betul, jangan biarkan ada gangguan. Jangan ancam mengancam dan teror, intimidasi serta politik uang. Itu merusak dan mencederai demokrasi.

"Saya tidak suka jika masih ada dikotomi ini mantan GAM atau bukan. Katakanlah GAM tidak boleh, tapi mereka punya kesempatan yang sama. Dengarkan suara hati dan aspirasi rakyat. Semua punya kesempatan dan peluang yang sama. Yang penting, pilihlah pasangan pemimpin yang mewakili semua elemen dan diyakini bisa memimpin Aceh ke arah lebih baik," kata SBY.

Menurut catatan SBY, Aceh menjalani pilkada ketiga setelah konflik berakhir. Ada beda dan khas dengan provinsi lain di Indonesia, karena ada partai lokal. "Kalau boleh saya berpendapat, ini kesempatan yang baik bagi rakyat Aceh untuk memilih siapa pemimpin yang dipercaya, bisa memajukan Aceh, memimpin Aceh dan mensejahterakan Aceh. Karena itu lakukan sedemoktaris mungkin, jangan ada teror dan intimidasi," kata SBY lagi.

Pemimpin di Aceh, kata SBY, jangan mensia-siakan kepercayaan dan kesempatan yang ada. Sebab, jika tak sesuai antara kata dan perbuatan, akan terulang kembali persoalan masa lalu. Dan, untuk mengembalikan perdamaian yang sudah tercipta saat ini, harganya sangat mahal. "Karena itu, pada gubernur, wakil gubernur, para bupati, wali kota dan wakilnya saya minta dan berharap, jangan ulangi lagi kesalahan masa lalu."***

Komentar

Loading...