PT. Trans Continent "Lempar Handuk" dari KIA Ladong (Bagian Satu)

Ismail Rasyid: Pemerintah Aceh Tidak Miliki Komitmen Jelas!

Ismail Rasyid: Pemerintah Aceh Tidak Miliki Komitmen Jelas!
Ismail Rasyid (Foto: Dok. MODUSACEH.CO)
Rubrik

Setelah enam bulan atau sejak ground breaking (peletakan batu pertama) di Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Kabupaten Aceh Besar. PT. Trans Continent, Jumat, 15 Mei 2020, akhirnya angkat kaki dari Aceh. Salah satu alasan utama adalah, karena Pemerintah Aceh melalui PT. PEMA tidak memiliki komitmen yang jelas. Nah, wartawan MODUSACEH.CO Muhammad Shaleh menulisnya untuk Fokus pekan ini.

TAK kurang Rp30 miliar dana segar telah dikucurkan untuk investasi di Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Dana puluhan miliar itu digunakan untuk pengadaan alat berat (beli baru), guna menunjang rencana bisnis yang digadang-gadang Direktur Utama (Dirut) PT. Pembangunan Aceh (PEMA) Zubir Sahim, sebagai tonggak keberhasilan investasi di Aceh pada erah kepemimpinan Nova Iriansyah sebagai Plt Gubernur Aceh.

Hari itu, Sabtu, 31 Agustus 2019. Kawasan Industri Ladong (KIA) Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh ramai “disatroni” pejabat daerah, pengusaha serta puluhan wartawan. Maklum, selain memang datang atas inisiatif sendiri, ada juga belasan jurnalis yang diundang secara khusus Biro Humas dan Protokol Setda Aceh.

Mudah ditebak, mereka melakukan liputan berbayar, mendongkrak pencitraan Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah, terkait geliat investasi di Aceh paska Irwandi Yusuf (Gubernur Aceh) terjerat hukum karena ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), awal Juli 2018 lalu.

Hasilnya benar saja, hampir sepekan pemberitaan (berbayar) di media cetak dan daring (siber) tentang investasi PT. Trans Continent, menjejal mata serta “menjerat” opini positif di kepala jutaan rakyat Aceh.

Semua itu dibungkus rapi dengan kesan bahwa, Pemerintah Aceh berkomitmen kuat untuk mengundang dan menumbuhkan investasi di Bumi Serambi Mekah. Puja puji pun mengalir deras. Misal, mengukir mimpi di KIA Ladong.

Klimaksnya adalah, mendengar “ocehan” Nova Iriansyah saat meresmikan peletakan batu pertama (ground breaking). Dia yakin KIA Ladong akan mampu mengdongkrak pereknomian dan industri di Aceh serta menyejahterakan masyarakat.

Kata dia, kehadiran berbagai industri dalam Kawasan Industri Ladong nantinya akan meningkatkan nilai tambah komoditas dan produk Aceh.

Itu sebabnya, beberapa kemudahan ditawarkan bagi para investor. Misal, masa tenggang penyewaan lahan, para investor baru membayar sewa ketika sudah mulai beroperasi dan berproduksi. Selain itu, Kementerian Perindustrian juga menawarkan kemudahan perizinan dan pemberian insentif.

“Pemerintah Aceh membuka peluang investasi kepada para investor baik dari dalam maupun luar negeri untuk memanfaatkan Kawasan Industri Aceh (KIA) di Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya  sebagai lokasi untuk membangun pabrik dan berbagai usaha industri,” ujar.

KIA Ladong berada pada areal seluas 66 hektar (yang sudah dibebaskan) dari 250 hektar lahan yang tersedia. Dan diresmikan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, bersama Dirjen Dari Kementerian Industri, I Gusti Putu Suryawirawan, BPIW Kementerian PUPR, Iwan Nurwanto, Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali dan Ketua TP2KIA, Mustafa Hasbullah.

Ironisnya, Jumat, 15 Mei 2020, CEO PT. Trans Continent Ismail Rasyid menarik seluruh alat yang telah ditempatkan pada KIA Ladong sejak enam bulan lalu. Ini artinya, Ramli yang juga mundur dari calon Kepala BPKS ini, akhirnya sah hengkang dan angkat kaki dari KIA Ladong.

Kepada media ini, Sabtu, 16 Mei 2020 siang, Ismail Rasyid berujar. “Saya mundur, karena Pemerintah Aceh melalui PT PEMA tidak memiliki komitmen yang jelas. Mereka tidak bergerak sama sekali. Sejak datang ke sana (KIA Ladong), kami tidak bisa bekerja,” ungkap Ismail Rasyid.

Akibatnya, sudah Rp30 miliar dana segar dikucurkan ke sana, namun hingga kini belum berproduksi  sehingga setiap bulan dia mengaku rugi Rp600 juta. “Total investasi yang telah saya tanam Rp30 miliar, termasuk pengadaan alat berat (beli baru) untuk menunjang rencana bisnis ini,” ulas putra Aceh Utara itu.

20200516-ismail-pindah

Pemindahan alat-alat Trans Continent dari KIA Ladong (Foto: Ist)

Diungkap Ismail Rasyid, sejak perjanjian (MoU) antara pihaknya dengan Pemerintah Aceh melalui PT.PEMA, Pemerintah Aceh hanya membangun pagar depan dan gerbang. Selain itu sistem drainase sangat buruk, sehingga sulitnya mendapatkan air bersih. Termasuk listrik belum mencukupi.

“KIA Ladong itu kawasan pengembalaan lembu masyarakat. Tidak ada pagar. Sangat luar biasa, kawasan yang diklaim sebagai Kawasan Industri Aceh yang digadang-gadang dengan cita-cita besar, hingga saat ini masih bertahi lembu,” kritik Ismail.

Buruknya sistem drainase, diakui Ismail Rasyid membuat lahan yang sudah disiapkan dengan baik oleh Trans Continent kembali rusak karena tergenang air.

Selain itu, pekerja Trans Continent juga diganggu oknum yang dikelola pihak tertentu. Sopir dilarang keluar masuk KIA di malam hari. “Aneh saja, kami yang beraktivitas di sana, kenapa diganggu oleh kelompok-kelompok liar di KIA. Setiap hari kami juga harus membeli air bersih,” kata Ismail. Alamak!***

Komentar

Loading...