Breaking News

Kejari Lhokseumawe Eksekusi Putusan MA

Ir. Muhammad Nurdin Risyad Masuk ‘Hotel Prodeo’

Ir. Muhammad Nurdin Risyad Masuk ‘Hotel Prodeo’
Rubrik

Lhokseumawe | Ir. Muhammad Nurdin Risyad bin Risyad, akhirnya terpaksa menginap di ‘Hotel Prodeo’ Lembaga Pemasyarakatan (LP) Lhokseumawe, sekira pukul 10.45 WIB, Rabu (16/11/2016). Ini terkait putusan eksekusi Mahkamah Agung (MA) RI No. 2217 K/PID.SUS/2012,  tanggal 10 Juli 2014 dan Surat Perintah Pelaksanaan Putusan Pengadilan (P-48)  No. 1295/N.1.13/Fu.3/11/2016, tanggal  15 Nopember 2016. Nurdin Risyad (67), terbukti  melakukan penyelewengan pembangunan pagar proyek pada Dinas PSDA Kota Lhokseumawe tahun 2007 silam. Itu sebabnya, dia secara sah melanggar Pasal 3 Jo Pasal 18 UU. RI. No. 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU. RI. No. 20 tahun 2001, tentang  pemberantasan tindak pidana korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Terpidana beralamat di Jl. Buloh Blang Ara No. 89, Gampong Meunasah Mesjid, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Tim eksekutor Kejaksaan Negeri (Kejari) Lhokseumawe, dipimpin langsung Kepala Seksi (Kasi) Pidsus, dibantu Kasi Intel dan dua anggota pengamanan dari Polsek Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Berawal dari informasi yang diperoleh tim intel Kejari Lhokseumawe bahwa terpidana dipastikan berada di rumah. Lalu, sekitar pukul 09.30 WIB, tim bergerak dari Kantor Kejari Lhokseumawe, menuju rumah terpidana dengan menggunakan satu unit mobil Avanza. Setiba disana, tim bertemu istri terpidana dan menyatakan bahwa terpidana sedang berada di luar rumah. Selanjutnya Tim meminta istri terpidana untuk menghubunginya dan kembali pulang ke rumah. Tidak berapa lama kemudian terpidana datang. “Terpidana dan keluarganya mengaku siap dan ikhlas untuk menjalani hukuman, sesuai putusan MA,” kata Kajari Lhokseumawe, Mukhlis SH pada MODUSACEH.CO, Jumat pagi (18/11/2016). Selanjutnya, sekitar pukul 11.00 WIB, terpidana berhasil dibawa dan diserahkan ke LP Lhokseumawe dalam keadaan aman dan lancar.

Sekedar mengulang, MA dalam amar putusannya menyatakan, terpidana Ir. Muhammad Nurdin Risyad bin Risyad, tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan primair. Karena itu, membebaskan terdakwa dari dakwaan primair tersebut. Namun, MA menyatakan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana "turut serta melakukan korupsi" sebagaimana dalam dakwaan subsidiair.

Karena itu, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama satu tahun dan pidana denda Rp 50 juta, dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama satu bulan. Selain itu, menetapkan barang bukti berupa dokumen2-dokumen untuk dikembalikan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk dipergunakan dalam perkara lain serta membebeni terdakwa untuk membayar biaya perkara Rp 2.5 juta.

Kepala Kejaksaan Negeri Lhokseumawe Mukhlis SH menjelaskan, selama tahun 2016, pihaknya telah melakukan  delapan kali eksekusi, berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA). Pertama terhadap terpidana Syamsul Bahri bin Alm M Ali Yusuf, terkait kasus penyelewengan dana honor dayah pada Dinas Syariat Islam tahun 2005-2010. Dasni Yuzar, Amir Nizam dan Reza Maulana, anak Dasni (korupsi dana hibah 2010), Ir. Effendi bin M Yusuf (korupsi pembangunan jalan lingkar Kota Lhokseumawe 2011), Masna Rimayanti (korupsi pembangunan jalan lingkar Kota Lhokseumawe 2011) serta Zulkifli (korupsi dana rumah sekolah bertaraf internasional (RSBI) SMP No: 1 Lhokseumawe) dan terakhir, Muhammad Nurdin Risyad.***

Komentar

Loading...