Pembukaan Training Instruktur dan LK II Tingkat Nasional HMI Banda Aceh 

Ini Pesan Koordinator Presidium KAHMI Banda Aceh, Muhammad Saleh

Ini Pesan Koordinator Presidium KAHMI Banda Aceh, Muhammad Saleh
Azhari Usman/ MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik

Banda Aceh l H. Muhammad Saleh, Koordinator Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Banda Aceh mengatakan. Perkaderan di HMI adalah wajib, bukan sunat. Ini dilakukan secara berjenjang. Mulai LK I, II, III, Senior Course, LKK Kohati hingga Pusdiklat seperti Lembaga Pers, Lembaga Dakwah dan Lembaga kesehatan. Model kepemimpinannya ibarat piramida, melahirkan banyak kader dan pemimpin. Sebaliknya, hasil atau out putnya seperti piramida terbalik. Artinya, semakin ke atas atau tinggi, melahirkan banyak ilmu dan pengetahuan tentang kebangsaan (Indonesia) dan ke-Islaman.

Itu disampaikan Muhammad Saleh dalam sambutannya pada pembukaan Latihan Kader (LK) II dan Training Instruktur Tingkat Nasional yang dilaksanakan HMI Cabang Banda Aceh, Gedung Sultan Salim II, Jalan. ST. Almahmudsyah, Kampung Baru, Banda Aceh, Jumat malam, (8/12/17).    

Kata Muhammad Saleh, kenapa itu dilakukan? Karena sesuai tujuan HMI: terciptanya insan akademis, pencipta dan pengabdi bernafaskan Islam. Ini bermakna, sebagai kader bangsa dan umat yang dilandasi muatan historis (Ke-Indonesiaan) dan ideologis (ke-Islaman). Kader dan alumni HMI memang berperan dalam berbagai strata sosial, budaya, ekonomi, politik dan birokrasi. Sementara landasan ideologis, HMI memiliki Nilai Dasar Perjuangan (NDP) atau Nilai Identitas Kader (NIK). "Perpaduan dua nilai tersebut, menjadikan HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam pejuang, pencipta dan pengabdi," ujar dia.

Nah, nilai inilah yang membuat kader HMI menjadi sosok intelektual yang beretika, logik dengan model kepemimpinan yang pluralis dan humanis. Kenapa? Karena didalamnya ada nilai ke-Indonesia yang menghargai keberagaman serta ke-Islaman yang menjadi kader HMI milik semua golongan. "Tidak ada fanatisme aliran atau mazhab di HMI," tegasnya.

Semua ini sebut pimpinan redaksi Tabloid MODUS ACEH, MODUSACEH.CO dan Majalah INSPIRATOR (Kelompok Media), sesuai dengan spirit trilogi misi Islam, yaitu: Al Khair (kebajikan universal). Al Makruf (yang telah diketahui-sebagai kebenaran hukum/kebaikan) dan Al Munkar  (yang diingkari berdasarkan hati nurani).

Karena itu, dalam Garis Besar NDP/NIK adanya berbagai kajian tentang hakekat kehidupan dalam  mencari kebenaran sebagai kebutuhan dasar manusia serta Islam sebagai sumber kebenaran.   Sedangkan hakekat kebenaran itu bergerak dari    konsep tauhid: La Ilaha Illa Allah, Muhammad Rasulullah. "Eksistensi dan sifat-sifat Allah serta    rukun Iman dan Islam sebagai cara mencari kebenaran. Termasuk hakekat alam dan semesta lainnya," papar Muhammad Saleh.

Selain itu, ada pula hakekat masyarakat atau ummat. Karena itu, kader HMI perlu menegakkan keadilan dalam masyarakat dan mendorong lahirnya kepemimpinan yang menegakkan keadilan. Sebab hakekat ilmu adalah sebagai jalan mencari kebenaran, karena adanya    hubungan dengan Iman, Ilmu dan Amal. "Karena itulah, pada fase tertentu, HMI sebagai organisasi kader menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi bangsa dan elit negeri serta daerah ini (Aceh). Kiprah, pemikiran dan gerakannya, mampu menyedot energi berbagai pihak," ulasnya.

Yang menjadi  persoalan kemudian adalah, kiprah, pemikiran dan gerakan itu menjadi tumpul bahkan nyaris tak mampu menyinari ruang etika dan dialektika keilmuan dan ke-Islaman yang menjadi ciri khas dan utama bagi seorang kader HMI. "Kolektivitas gerakan, sadar atau tidak telah berubah menjadi lorong-lorong yang penuh abu-abu dan lebih bersifat personal, sehingga muncul berbagai pertanyaan dan gugatan tentang kiprah kader HMI kekinian. "Kenapa? Menurut saya pola perkaderan di HMI hanya menjadi sebuah tradisi kepengurusan, bukan kebutuhan doktrin dari nilai dasar perjuangan. Harusnya, itulah yang menjadi landasan utama," kritik Muhammad Saleh.

Sistem perkaderan yang terstruktur berdasarkan metodologi gerakan, berubah drastis dengan mengadopsi sistem pelatihan di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), sehingga perkaderan di HMI menjadi kehilangan roh. Baik dari sisi internal maupun eksternal. "Di LSM itu, memberi apa yang dibutuhkan oleh peserta, sementara perkaderan di HMI tetap harus berformat pada apa yang diinginkan oleh HMI, sebagai kawah candradimuka produk kader itu sendiri. Ada kurikulum  dan silabus perkaderan," ujarnya.

Lantas, kenapa ada sinyalemen HMI tidak lagi dipandang menarik di kampus? "Karena tawaran HMI sebagai organisasi pergerakan dan perjuangan dinilai oleh kalangan mahasiswa, sudah tidak mampu memberikan benefit (keuntungan secara intelektual). HMI sudah tidak dapat mengakomodir student needs and student interests. Indikasi lainnya adalah, gaung HMI pada organisasi intra kampus dengan posisi-posisi strategis yang semakin jarang ditemukan di kampus-kampus besar di Indonesia," ulas Muhammad Saleh.

Faktor lain, reproduksi intelektual (Insan Akademis, Pencipta, dan Pengabdi), nyaris tenggelam dalam lautan sejarah HMI yang menciptakan para pemikir hebat. Sebut saja Nurcholis Madjid (Cak Nur) dan kawan-kawan. "Hingga saat ini, dirasakan belum ada kader HMI yang mampu untuk menjadi Cak Nur kedua atau ketiga.  Itu artinya, Zero Population of Intellectual," ungkap Saleh, begitu dia akrab disapa.

Imbasnya, pola pengkaderan HMI mulai kering dengan diskusi tematik dan kontemporer yang menjadi tradisi dan kebiasaan para kader. Citra HMI sebagai organisasi kader berbasiskan kajian, mulai terlihat pudar. Mulai terasa, tidak ada kajian yang benar-benar solid dan dalam, terkadang hanya bersifat artifisial dan seremonial belaka. Sedangkan ragam training yang telah dilakukan sedikit miskin nilai, sehingga proses pengkaderan semakin kabur.

Di sektor lain, follow up training, reproduksi instruktur, agaknya merupakan hal teknis dan sederhana yang lama kelamaan dilupakan dan sedang menjadi konsumsi tersendiri bagi para pengurus HMI ditingkat Cabang serta Komisariat.  "Harusnya, pola pengkaderan terus berkembang dan beradaptasi dengan student needs and student interests serta mengikuti perkembangan zaman," usul Saleh.

Itu sebabnya, Muhammad Saleh mengajak para kader dan alumi HMI Banda Aceh untuk kembali ke roh HMI dan memiliki kemampuan beradaptasi dengan zaman agar tetap survive, bukan menjadi oportunistik dan menjadikan HMI hanya sebagai rakit pohon pisang di kala musim hujan.

Sebelumnya, Walikota Banda Aceh diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi Ir. Sukri, Msi mengatakan. Tarining instruktur ini merupakan wadah mempererat silaturrahmi antar kader HMI.  Juga  menjadi salah satu proses pematangan bagi kader HMI. “Pemuda adalah pembawa perubahan. Perubahan itu dari individu. Jika, kader HMI dilatih secara individu dengan baik. Maka, ke depan akan lahir pemimpin- pemimpin yang baik,” kata Sukri membaca pidato resmi Walikota Banda Aceh, Aminullah Usman.

Sukri juga mengharapkan. Tarining instruktur dapat mencetak kader–kader HMI berakhlak Karimah. Sehingga, bisa memberikan sumbangsih pemikiran untuk pembangunan Kota Banda Aceh yang lebih maju sesuai dengan syariat Islam. “Besar harapan kami, semoga kader HMI yang telah mengikuti perkaderan ini, bisa memperoleh ilmu yang bermanfaat dan bisa menjadi motor penggerak, di daerah masing-masing,” harap Sukri.

HMI Cabang Banda Aceh melaksanakan Training Instruktur dan LK II Tingkat Nasional, tanggal 8-14 Desember 2017 di Banda Aceh. Ada 21 peserta Latihan Kader (LK) II dan Training Instruktur yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia.***

 

 

 

 

Komentar

Loading...