Di Balik Bantuan Kemensos RI pada Yayasan Tabina Aceh Rp 3,8 miliar

Ini Penjelasan Kemensos RI Soal Bantuan Untuk Tabina

Ini Penjelasan Kemensos RI Soal Bantuan Untuk Tabina
Prayitno, A. KS | Foto IST

Banda Aceh | Kasubdit Kelembagaan dan Sumber Daya Direktorat Sosial, Kementerian Sosial Republik Indonesia, Prayitno, A.KS membenarkan. Kementerian Sosial RI tahun 2016, ada memberi bantuan dana pada Yayasan Tabina Aceh. Namun, kata Prayitno, melalui sambungan telpon, Kamis (12/01/2017),  jumlahnya tidak seperti diberitakan Rp 3,8 miliar. Tapi, 3,267 miliar. “Bantuannya tidak sebesar Rp 3,8 miliar, memang ada bantuan Rp 3. 267 miliar. Bantuan itu, untuk biaya rehabilitasi sosial pencandu dan korban penyalah gunaan narkotika sebanyak 367 orang,” kata Prayitno.

Jelas Prayitno, bantuan sebanyak itu diberikan untuk program rehabilitasi korban pengunaan narkoba di Aceh. Nah, setiap satu orang korban, menerima bantuan per bulan Rp 1,5 juta. “Bantuan itu untuk makan, tes urine, pakaian seragam, menjaga kesehatan yaitu peralatan sabun mandi, sabun cuci, sikat gigi dan lain-lain,” ujarnya.

Selain itu, biaya asesmen, konseling, tukang jaga, tapi tidak termasuk biaya obat-obatan. “Karena ini rehabilitasi sosial, Kementerian Sosial itu IPWLnya tidak menggunakan obat-obatan, masuk panti rehab, itu sudah berhenti,” katanya. Karena itu, Prayitno menegaskan, sistem rehab Kementerian Sosial dengan Kementerian Kesehatan misalnya. Kalau Kemenkes, hanya mengurangi sedikit-sedikit. “Memang tidak boleh ada obat-obatan. Kecuali sakit secara fisik, dia diobati di rumah sakit, diobati dulu sakitnya, baru dikirim lagi ke lembaga itu,” jelasnya.\

Di Aceh kata Prayitno, ada dua yang menerima bantuan yaitu Yayasan Yakita dan Tabina. Untuk Yakita Rp 180 juta karena jumlah kliennya 20 orang. Sedangkan Tabina 367 orang. Dari 367 orang yang direhap, maka biaya makan per hari Rp 25 ribu. Kalau ada yang ingin makan enak, maka boleh diminta tambah pada keluarga yang bersangkutan. “Kalau punya pemerintah itu gratis, tidak boleh bayar, tapi kalau punya masyarakat masih bisa bayar, Tabina punya masyarakat,” sebutnya. Kemudian, dana Rp 3,267 miliar itu, diberikan dalam empat tahap. Pertama Rp 900 juta, untuk 100 klien, kedua juga sama. Sedangkan tahap ketiga Rp 828 juta untuk 92 klien dan tahap keempat Rp 639 juta untuk 71 klien. “Rincinya Rp 1,5 juta kali enam bulan, yang besar itu biaya makan,” kata Prayitno.

Dia juga mengaku sudah memanggil Ketua Tabina, untuk mempertanyakan kenapa laporan tidak diberikan pada Dinas Sosial Aceh. Tapi, pengakuan Tabina pada Prayitno, Tabina telah berikan laporan ke dinas, ada juga ke pusat dan arsip. “Kemarin diperiksa BPK RI tidak ada masalah. Sampai sekarang di Aceh tidak ada temuan, kalau provinsi lain ada temuan,” ujarnya.***

Komentar

Loading...