Terkait Hasil Tes Kesehatan Haji Sulaiman Ibrahim

Ini kata Kepala RSUZA Banda Aceh, dr Fachrul Jamal

Ini kata Kepala RSUZA Banda Aceh, dr Fachrul Jamal
rri.co.id

Banda Aceh | Kepala Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh dr. Fachrul Jamal menjelaskan, pihaknya hanya sebagai penyedia tempat (sarana dan prasarana) yang ditunjuk Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, untuk tes kesehatan seluruh bakal calon (balon) kepala daerah, menuju Pilkada Aceh 2017 mendatang. Sementara, pelaksana adalah tim dokter, bukan orang perorang. Misal, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh. Karena itu, apapun hasil merupakan keputusan tim dokter yang menangani pemeriksaan.

Penjelasan itu disampaikan dr Fachrul Jamal, terkait komplain Haji Sulaiman Ibrahim (Haji Leman), salah seorang balon Bupati Aceh Utara. “Tim kesehatan itu terikat dengan sumpah dokter dan profesi. Jadi, kami tidak ada kaitan dengan kandidat yang ada. Dan, kami tidak kenal dengan kandidat yang maju dan tak memiliki kepentingan apapun,” ungkap Fachrul.

Jika ada balon yang  tak puas seperti Haji Leman, dr. Fachrul Jamal meminta yang bersangkutan untuk melaporkan ke KIP Aceh. Sebab, hasilnya sudah diserahkan pada lembaga penyelenggara ini. “Keputusan ada pada KIP Aceh, kalau kami diperintahkan untuk melakukan medical check up terhadap Haji Leman, maka kami siap melakukannya,” tegas dr. Fachrul Jamal. “Jadi yang tahu aturan dan mekanisme itu adalah KIP Aceh,” ulasnya.

 Berita Terkait: Dinyatakan Tak Sehat Jasmani Haji Sulaiman Ibrahim: Saya Gugat Kepala RSUZA Banda Aceh!

Seperti diwartakan, Haji Leman merasa dirugikan sepihak, terkait hasil tes kesehatan dirinya di RSUZA Banda Aceh. Maklum, dia dinyatakan mengalami penyakit jasmani. Tak jelas, penyakit jasmani seperti apa yang dimaksudkan sehingga dia dinyatakan gugur atau tak memenuhi syarat oleh KIP Aceh Utara.

Karena itulah, salah satu bakal calon Bupati Aceh pada Pilkada 2017 mendatang ini, berencana menggugat Kepala Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Rencana itu disampaikan pada MODUSACEH.CO, terkait putusan KIP Aceh Utara bahwa dirinya dinyatakan tak sehat jasmani.

“Kalau tidak salah rekomundasi tim dokter RSUZA Banda Aceh, Haji Leman terindikasi mengalami ganguan kesehatan,” duga seorang sumber di KIP Aceh Utara pada media ini. “Ya, saya dengar juga begitu, tapi pada saya tidak mendapat tembusan hasil pemeriksaan yang dilakukan. Karena itu, putusan tersebut telah merugikan saya, baik moril maupun materil,” sebut Haji Leman.

Terhadap putusan ini, Haji Leman mengaku keberatan. Bahkan, dia menaruh curiga adanya praktik permainan ‘kotor’ dari oknum dokter dan pimpinan rumah sakit terbesar di Aceh tersebut. “Saya siap dilakukan medical check up ulang oleh KIP Aceh dengan biaya sendiri. Biar fair dan adil, jangan di RSUZA Banda Aceh. Terserah dimana yang dirujuk KIP Aceh. Bila perlu ke Malaysia, saya siap,” tantang Haji Leman.

Menurut Haji Leman, dia tetap merasa sehat. Bahkan, jika disandingkan dengan beberapa kandidat lain, dirinya lebih sehat. Termasuk adanya kecurigaan dirinya ada beberapa kandidat, yang diduga mengunakan narkoba, tapi hasilnya dinyatakan negatif.

“Saya sempat bertanya, kenapa kandidat itu hanya di tes urin soal narkoba. Coba periksa betul-betul, tapi oleh tim dokter di RSUZA hanya tersenyum,” ungkap Haji Leman. “Semua rakyat dan wartawan tahu, ada kandidat yang sudah ‘uzur’ dan jalan saja sudah susah seperti dr. Zaini Abdullah, tapi kenapa dia lulus. Tulis itu,” kata Haji Leman.

Kepala RSUZA Banda Aceh dr. Fachrul Jamal membantah tudingan itu. “Tidak benar seperti itu, toh semua ada rekam medis yang bisa kami pertangungjawabkan secara keilmuan dan profesi,” ujarnya. Dijelaskan Fachrul Jamal, ada tiga item yang di periksa atau tes tadi. Pertama, kesehatan fisik. Kedua, kesehatan jiwa oleh psikolog dan ketiga tes penguna narkoba. “Jadi, silahkan Haji Leman menggunakan second opinion dan menggugat. Itu hak dia. Yang jelas kami tidak bermaksud untuk menghalang setiap orang untuk jadi calon kepala daerah. Jika bisa, semua kami luluskan,” ungkapnya.

Begitupun, diakui dr. Fachrul Jamal pihaknya tak mau melanggar kode etik dan sumpah profesi. “Kalau hanya flu dan pilek, itu tak masalah. Tak kalau sudah menderita fungsi luhur, tentu sulit. Fungsi luhur yang dimaksud adalah, tak lagi bisa berpikir secara sistematis. “Contohnya begini, ditanya dan diminta sebutkan angka satu sampai sepuluh. Dan dari sepuluh hingga angka satu. Ada yang jawab satu, dua, tiga, lima dan seterusnya. Lalu, dari sepuluh, delapan, lima. Ini namanya tak sehat atau tak bisa bekerja dibawah tekanan. Bagaimana jadi pemimpin daerah kalau tak bisa bekerja di bawah tekanan,” ulas Fachrul Jamal.

Namun disebutkan dr. Fachrul Jamal, kesempatan untuk tes ulang tetap ada. Tapi sangat tergantung pada putusan KIP Aceh. “Kalau KIP Aceh meminta kami melakukan tes ulang, kami siap,” demikian kata dr. Fachrul Jamal.***

 

 

Komentar

Loading...