Laporan Institute for Policy Analysis Conflict (IPAC).

Indonesia Harus Perbaiki Kebijakan Pengelolaan Pengungsi

Indonesia Harus Perbaiki Kebijakan Pengelolaan Pengungsi
Pengungsi Rohingya saat mendapat di pantai Aceh Utara (Foto: Din Pasee)
Rubrik

MODUSACEH.CO | Indonesia harus memperbaiki kebijakan terkait pengelolaan pengungsi yang saat ini masih diserahkan kepada pemerintah daerah. Padahal, mereka tidak memiliki sumber daya cukup.

Itu sebabnya, pemerintah pusat (Indonesia) diharapkan dapat merancang kebijakan perlindungan pengungsi yang menjamin hak-hak mereka, mengingat kedatangan 300 pengungsi Rohingya di Pantai Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, 7 September 2020.

Demikian laporan terbaru berjudul; “Pengungsi Rohingya di Aceh”, dari Institute for Policy Analysis Conflict (IPAC). Laporan ini  memaparkan kronologi pengungsi Rohingya yang baru tiba di Aceh, serta mengkaji isu-isu terkait penanganan pengungsi.

20200913-deka1

Pengungsi etnis Rohingya di pesisir pantai Lancok, Kecamatan Syantalira Bayu, Aceh Utara, Aceh, Kamis (25/6/2020). Foto: antaranews.com)

Diantaranya upaya tetap mencari jalan sendiri untuk pergi ke Malaysia, penipuan uang yang merugikan pengungsi, dan hubungan kerja yang belum sinergis antara relawan pemerintah dengan pekerja kemanusiaan profesional dari lembaga non-pemerintah (NGO).

Dalam rilis yang diterima media ini, Sabtu kemarin menyebut. Kedatangan terakhir pengungsi Rohingya memberikan tantangan yang tidak terduga untuk pemerintah kota Lhokseumawe, yang berdasarkan Peraturan Presiden 125/2016, bertanggung-jawab dalam menangani penanganan pengungsi.

Sayangnya tanpa banyak dukungan dari pusat.

Kedatangan tersebut merupakan yang kedua di tahun 2020, setelah sebelumnya 99 pengungsi Rohingya diselamatkan nelayan Aceh pada bulan Juni 2020.

Seluruh pengungsi tersebut merupakan bagian dari kurang-lebih 800 pengungsi Rohingya yang pada bulan Maret 2020, membayar perahu-perahu penyelundup untuk membawa mereka dari kamp pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh, menuju Malaysia.

20200913-deka3

Warga melakukan evakuasi paksa pengungsi etnis Rohingya dari kapal di pesisir pantai Lancok, Kecamatan Syantalira Bayu, Aceh Utara, Aceh, Kamis (25/6/2020). Foto: antaranews.com)

Terdapat komunitas diaspora Rohingya yang cukup besar di Malaysia, sekitar 130,000 jiwa.  Pengungsi yang tiba di Aceh, sebagian besar perempuan dan anak-anak, berharap dapat bertemu kembali dengan suami atau keluarga mereka di Malaysia.  Ada juga calon isteri untuk yang merencanakan menikah di sana.

“Bantuan dari masyarakat Aceh sangatlah besar untuk para pengungsi, namun permasalahan ini tidak bisa hanya diselesaikan oleh simpati belaka,” kata Deka Anwar, peneliti utama laporan ini.

20200913-deka4

Deka Anwar, peneliti utama IPAC (Foto: Ist)

Masih kata Deka. “Kita perlu respons kolektif regional yang tidak hanya menekankan pada pemulangan kembali (repatriasi) dalam situasi yang tidak memungkinkan seperti sekarang ini. Upaya lebih besar perlu dipusatkan untuk mencari pilihan pemukiman baru (resettlement) bagi para pengungsi dan penegakan hukum terhadap jaringan penyelundup yang mengambil keuntungan dari tragedi ini,” ujarnya.

Selain itu. "Tekanan terhadap Myanmar untuk memberikan hak kewargaanan penuh kepada suku yang tertindas ini juga masih sangat diperlukan," kata Deka Anwar.***

Komentar

Loading...