Belum Mampu Optimalkan APBA, Rencana Pemerintah Aceh Berhutang Dinilai Akan Menambah Persoalan Baru

Belum Mampu Optimalkan APBA, Rencana Pemerintah Aceh Berhutang Dinilai Akan Menambah Persoalan Baru
MODUSACEH.CO/Irwan Saputra
Rubrik
Banda Aceh | Pakar Ekonomi Unsyiah, Prof. Dr. Nasir Aziz menilai, rencana hutang luar negeri Pemerintah Aceh pada Kfw Jerman untuk membangun lima rumah sakit regional di Aceh akan menambah persoalan keuangan baru bagi Pemerintah Aceh.

Soalnya, uang yang ada saja tidak mampu dikelola dengan baik, ditambah hutang yang mencapai Rp 1,3 triliun dengan bunga berkisar antara 2,5 hingga 3,5 persen dan berfluktuasi,  maka akan menambah persoalan bagi kondisi keuangan Aceh nantinya.

“Uang yang ada saja tidak mampu dikelola dengan baik, tambah hutang berarti tambah lagi persoalan,” ujar Nasir pada MODUSACEH.CO di ruang kerjanya, Jumat (16/09/2016).

Nasir mengatakan, pinjaman hutang luar negeri memang dibenarkan, namun  harus dilakukan dengan kajian yang matang, karena nilai kurs (nilai tukar)-nya bukan dalam bentuk rupiah melainkan dalam bentuk UERO, jadi kalau disebut bunga berkisar 2,5 persen, ketika dikonversikan ke dalam rupiah mencapai 8,5 persen.

"Kalau bunga sebesar 8,5 persen itu sudah tinggi belum lagi jika terjadi fluktuasi kurs. Hari ini bisa saja Rp 15.000, besok-besok boleh jadi Rp 20.000, maka ketika satu UERO  mencapai Rp 20.000 maka bunga juga otomatis akan tinggi. Tidak lagi, 8,5 persen tapi menjadi 10 persen," jelasnya.

Nasir mengaku sepakat dengan niat Pemerintah Aceh ingin membangun lima rumah sakit regional lagi di Aceh, terutama untuk mengurangi kesesakan di RSUD Zainoel Abidin, Banda Aceh. Namun, masih ada cara lain untuk membangun rumah sakit tersebut tanpa harus berhutang ke Jerman. “Jika berharap pada Otsus untuk membayar, pada 2027 penerimaan ini sudah selesai. Lima tahun sebelumnya Otsus tinggal 1 persen sementara dari DAU, jelas tidak mungkina,” kata Nasir.*

Komentar

Loading...