Breaking News

Dampak Wabah Virus Covid-19 di Banda Aceh

Hunian Hotel Berbintang Mulai Capai “Titik Nadir Terendah”

Hunian Hotel Berbintang Mulai Capai “Titik Nadir Terendah”
Hotel Kyriad Muraya Banda Aceh (Foto: Saiful Haris Arahas)
Penulis
Rubrik
Sumber
Saiful Haris Arahas/Reporter Aceh Besar

Wabah Virus Covid-19 (Corona) mulai berdampak langsung pada bisnis perhotelan dan restoran di Kota Banda Aceh. Tingkat hunian turun drastis. Sejumlah karyawan pun diminta untuk cuti tanpa dibayar. Berharap adanya keringanan pajak dari Pemko Banda Aceh dan Pemerintah Aceh.

MODUSACEH.CO | General Manager Hotel Kyriad Muraya Aceh, Bambang Pramusinto menyebutkan. Tingkat okupansi Kyriad hanya dua persen. Artinya, 98 persen kamar hotel tak terisi alias kosong. Bambang menjelaskan. Untuk Senin, 23 Maret 2020 (tadi malam) misalnya, okupansi kamar hotel yang terisi hanya 17 kamar. Biasanya okupansi Kyriad antara 100 hingga 125 kamar yang terisi.

Sementara untuk Selasa, 24 Maret 2020 (hari ini), okupansi kamar yang terisi hanya 7 kamar. Sedangkan untuk Rabu, 25 Maret 2020 (besok), turun lagi menjadi 5 kamar.

Bambang juga mengungkap, bahkan pada Kamis, 26 Maret 2020, tingkat okupansi kamar hotel hanya terisi 2 kamar. Dan dipastikan, hingga akhir Maret sampai pertengahan April 2020, okupansi kamar Hotel Kyriad Muraya kosong. Artinya, tidak ada tamu sama sekali.

20200324-bambang

General Manager Hotel Kyriad Muraya Aceh, Bambang Pramusinto (Foto: Saiful Haris Arahas)

“April 2020 nanti paling cuma beberapa tanggal saja yang ada, dan itu cuma 1 hingga 2 kamar. Selebihnya nol hingga akhir April nanti. Jadi drop sekali, kita okupansi hanya di 2 persen. Sedangkan untuk Maret ini kita masih bisa closing 45 persen. Dampak ekonomi ini tak pernah lihat akan sampai dimana berakhirnya. Sektor perhotelan dan restoran, sudah mulai terasa sekali dampaknya,” kata Bambang saat dijumpai media ini di Hotel Kyriad Muraya, Kota Banda Aceh, Selasa (24/3/2020).

Salah satu langkah yang dilakukan pihak manajemen hotel dalam menanggapi wabah Covid-19 adalah, dengan melakukan penurunan harga kamar. Sebutnya, Hotel Kyriad Muraya memberikan harga special rate dan pick and rate. Artinya, menawarkan harga kamar yang relatif murah dari harga biasanya.

“Yang biasanya harga kamar paling murah Rp764 ribu, kita sekarang jualnya dengan diharga Rp723 ribu. Tapi nyatanya itu juga tidak mendongkrak, karena memang ngak ada orang yang mau ke Aceh dan nginap di hotel. Ndak ada lagi. Jadi, mau diturunkan ke harga berapapun tidak mengangkat peningkatan hunian,” katanya.

Sementara itu, pihaknya juga akan melakukan upaya pemutusan dengan pihak vendor, seperti clining service, catering, dan sejumlah karyawan dari luar tidak diperuntukan lagi.

Pihaknya juga meminta para karyawan segera menghabiskan sejumlah masa cuti yang masih tersisa. Karena nantinya manajemen hotel akan memberlakukan paid leave. Artinya setiap karyawan wajib mengambil cuti selama enam hari tanpa digaji.

Upaya itu sebagai langkah penghematan dari sisi biaya karyawan. Selain itu, melakukan penghematan dari sisi biaya air, listrik, hanya membuka kamar pada dua lantai saja. Selebihnya, dari lantai 3 hingga 6 ditutup, tidak ada aktifitas apa pun.

“Mulai hari ini, kami  sudah mulai meminta karyawan untuk mengambil cuti. Mereka yang masih punya hak-hak cuti minta dihabiskan di bulan Maret sampai bulan April 2020. Ada yang 10 hari, ada yang 12 hari, jadi bervariasi. Kalau sudah habis cutinya di bulan April, mereka wajib mengambil paid leave yaitu cuti yang tidak dibayar per orang selama enam hari. Tanpa ada kecuali termasuk saya,” jelasnya.

Hotel Kyriad Muraya memiliki 110 karyawan. Ada 70 persen diantaranya putera Aceh, sedangkan 30 persen lagi dari luar daerah seperti Medan, Jakarta, Bali, dan Jawa Timur.

Bambang menyebut, sebagai perwakilan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), dia sedang merekap sejumlah permohonan dari pihak-pihak hotel yang ada di Banda Aceh, terkait permintaan pembebasan pembayaran pajak kepada Pemerintah Kota Banda Aceh dan Pemerintah Aceh selama masa wabah Covid-19.

“Kami bukan minta diringankan pajak, tapi pembebasan pajak selama masa wabah ini. Karena memang tidak ada income. Jadi, bukan ngak mau bayar,” katanya.

Lanjutnya, pihak manajemen Kyriad Muraya juga akan mengusulkan permohonan penangguhan masa pembayaran kredit kepada pihak perbankan. “Pokok hutang tetap kita bayar, tapi untuk pembayaran bunga kita minta direschedule dulu sampai masa wabah ini dinyatakan selesai, dan perputaran ekonomi sudah kembali lancar,” katanya.

General Manager Hotel Kyriad Muaraya ini juga berharap, Provinsi Aceh segera mengeluarkan kebijakan dilockdown. Tujuannya, untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19 di Kota Banda Aceh khususnya dan Aceh umumnya. “Karena untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus ini memang harus dilockdown,” katanya.

Sementara itu, Rara, Front Office Manager Hotel Hermes Palace Banda Aceh mengatakan. Setelah mendapatkan surat himbauan dari Pemerintah Aceh dan Pemko Banda Aceh, pihaknya telah membatalkan sejumlah event dan agenda yang akan dilangsungkan di Hotel Hermes.

Terhitung semenjak Senin, 16 Maret 2020 sampai batas waktu yang belum ditentukan, manajemen hotel telah melakukan pembatalan setiap pesanan konsumen, baik kamar, ruang meeting (pertemuan) maupun sejumlah event lainnya.

20200324-hermes

Foto: Saiful Haris Arahas

“Dari sisi itu kami memang telah lost bisnis. Karena awalnya sudah banyak yang boking kamar, meeting dan event, tapi terpaksa yang harus cancel,” katanya saat dijumpai media ini di Hotel Hermes Palace, Selasa (24/3/2020).

Rara menyebutkan, sampai saat ini okupansi hunian kamar hanya sekitar 10 persen. Ini berarti sangat turun drastis dari sebelumnya. Itu sebabnya, salah satu cara adalah, menurunkan harga hunian. Untuk harga kamar deluxe, kini hanya dipatok Rp649 ribu per malam. Sebelumnya Rp1,9 juta per malam.

Diakui Rara, jumlah okupansi hunian kamar hari ini (Selasa, 24 Maret 2020), hanya terisi 10 kamar. Itu pun tamu lokal. Menurut pengakuan Rara, untuk mencegah penyebaran Covid-19, tamu asing sudah tidak diterima lagi menginap di hotel tersebut.

Selain itu, pihak hotel juga melakukan Standar Operasional Prosedur (SOP), untuk mencegah penyebaran Covid-19. Caranya, melakukan thermo gun untuk mengukur suhu tubuh tamu, memberikan hand sanitizer, dan juga memberikan masker.

Sementara itu, hingga saat ini pihaknya belum memutuskan untuk merumahkan sejumlah karyawannya. “Tapi kita juga belum tahu ke depan seperti apa. Kita lihat dulu per tanggal 1 April 2020 bagaimana. Namun hingga saat ini semua karyawan kita tetap masuk,” katanya.

Lantas, bagaimana dengan Hotel Grand Nanggroe Banda Aceh? Lebih tragis lagi. Operasional manager hotel ini Muhammad Hartanto Budiman menyebutkan, sudah tiga hari jumlah okupansi hunian di Hotel Grand Nanggroe, kosong. Artinya, tidak ada sama sekali tamu.

20200324-nanggroe

Foto: Saiful Haris Arahas

Sebelum adanya himbau dari Pemerintah Aceh dan Pemko Banda Aceh, Hartanto mengakui jumlah agenda meeting dan event lainnya sudah penuh di pesan konsumen atau tamu. Tapi, karena ada himbauan untuk melakukan pencegahan penyebaran Covid-19, semuanya melakukan pembatalan.

“Stres juga sih, tapi mau gimana lagi, pasrah saja. Semoga cepat kondusif kembali,” harapnya saat ditemui di Hotel Grand Nanggroe, Selasa (24/3/2020).

Pihaknya juga meminta pembebasan pajak kepada Pemko Banda Aceh dan Pemerintah Aceh. Karena, selama beberapa bulan mendatang belum ada pemasukan untuk hotel.

“Pihak PHRI akan bertemu Walikota, DPRK Banda Aceh dan juga Plt Gubernur Aceh. Kami meminta keringanan pembebasan pajak selama beberapa bulan ke depan, sampai situasi kondusif kembali,” katanya.

Hotel Grand Naggroe memiliki 70 orang. Rencananya, manajemen hotel akan merumahkan sekitar 70 persen karyawan tadi, sampai waktu kembali kondusif lagi dan mereka akan dipanggil kembali untuk bekerja.

“Bukan kita PHK, tapi kita rumahkan atau cuti tanpa digaji. Dan yang masuk saja yang kita gaji,” katanya.

Berbeda dengan Hotel The Pade, Kabupaten Aceh Besar. Media ini tak berhasil bertemu dan meminta penjelasan dari manajemen hotel tersebut. Maklum, tidak ada seorang pun yang bersedia ditemui.

Berdasarkan pengakuan seorang karyawan bagian recepsionis hotel, General Manager Hotel The Pade sedang berada di Jakarta. Terpantau, situasi di Hotel The Pade juga tampak sepi dari berbagai aktifitas.***

Komentar

Loading...