Seorang Pegawai Lapas Lambaro Dinyatakan Positif Covid-19

Humas Kanwilkumham Aceh Ida Meilani: Yang Bersangkutan Sedang Jalani Cuti

Humas Kanwilkumham Aceh Ida Meilani: Yang Bersangkutan Sedang Jalani Cuti
Humas Kemenkumham Wilayah Aceh, Ida Meilani (Foto: Ist)

Banda Aceh | Humas Kemenkumham Wilayah Aceh, Ida Meilani membenarkan jika seorang pegawai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Banda Aceh, Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, dinyatakan positif terinfeksi virus corona (Covid-19).

Hanya saja sebut Meilani, yang bersangkutan terpapar virus corona, tidak saat bertugas. Tetapi,  sedang menjalani cuti pernikahan.

“Ya, saat dia kembali dari Malaysia, menjalani cuti. Dan saat ini, yang bersangkutan tidak bertugas. Jadi, tidak ada kontak langsung dengan rekan kerja maupun warga binaan.Karena itu, warga binaan dan keluarga tak perlu khawatir,” jelas Meilani pada media ini, Senin di Banda Aceh.

Kata Meilani, pegawai tersebut adalah pengantin yang baru pulang bulan madu dari Malaysia dan saat ini sudah mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Sebelumnya atau Minggu sore (29/3/2020), Direktur RSUDZA Banda Aceh, Dr. dr. Azharuddin, Sp.OT, K-Spine FICS mengatakan, pasien kelima yang baru terdeteksi positif corona, berjenis kelamin laki-laki, dan baru pulang dari Malaysia.

Diketahui, pasien PDP yang sudah dinyatakan positif Covid-19 itu tiba di Banda Aceh, Minggu, 15 Maret 2020. "Hasil pemeriksaan swabnya dikeluarkan Balitbang Kemenkes RI, dan baru diterima RSUDZA Banda Aceh tadi sore (Minggu), dan ternyata positif Covid-19," katanya.

20200330-lapas1

Foto: KBA One

Menurut  Azharuddin, sebelumnya, pasien muda berumur 22 tahun tersebut, sempat dirawat di ruang RICU RSUZA pada Minggu, 22 Maret 2020, dengan keluhan batuk, demam, dan diare.

Selama di RSUDZA, pasien tersebut sudah dilakukan pemeriksaan laboratorium, dan foto thoraks (dada). Juga sudah dilakukan pemeriksaan swab tenggorokan pada Senin, 23 Maret 2020.

"Karena kondisi klinisnya membaik, pada 25 Maret 2020 pasien diperbolehkan pulang (berobat jalan/karantina di rumah). Pasien ini berdomisili di salah satu kecamatan, bagian utara Kabupaten Aceh Besar," katanya.

Sebelumnya, hasil swab pasien PDP tersebut belum keluar dari Balitbang Kemenkes Jakarta. Nah, karena kondisinya terlihat membaik, maka pasien diperbolehkan pulang.

Namun, Minggu sore kemarin (29/3/2020), Balitbang Kemenkes RI menyatakan pasien tersebut itu positif corona. Adapun istrinya kini berstatus orang dalam pemantauan (ODP), dan tidak menjalani rawat inap di RSUDZA.

Azharuddin mengatakan. Tim Surveilans, Dinas Kesehatan Aceh langsung menjemput pasien positif corona tersebut untuk diisolasi, dan dirawat kembali di ruang RICU RSUDZA. Diketahui kemudian, pasien muda itu adalah seorang PNS di Lapas Lambaro.

“Jadi, warga binaan dan keluarga tak perlu khawatir,” harap Meilani.

Menurut Meilani, pihaknya telah memberlakukan lockdown atau menutup akses seluruh Lapas dan Rumah Tahanan (Rutan) di Aceh. Itu berlaku sejak Jum’at, 20 Maret 2020 hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Tujuannya, memutus mata rantai penyebaran virus corona. “Jadi,  jam besuk atau bertamu bagi keluarga warga binaan kita hentikan dulu, hingga batas waktu yang tidak ditentukan,” tegas dia.

Solusinya, diganti dengan cara melakukan video conference (video call), yang telah disiapkan dalam Lapas, antara warga binaan dengan keluarga mereka.

Keputusan ini, sesuai instruksi Direktur Keamanan dan Ketertiban Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Tejo Arwanto.

“Jadi hak-hak dasar mereka telah diberikan seperti kebutuhan makan, kemudian kunjungan yang tadinya langsung ke Lapas, sekarang mengunakan video conference (Vidcon/Video Call). Para warga binaan juga telah memahami kondisi lockdown ini,” jelas Meilani.

Selain meniadakan layanan kunjungan, pihak Lapas juga tidak menerima titipan makanan atau barang lainnya untuk warga binaan yang berada di Lapas.

"Titipan makanan dan barang juga tidak ijinkan masuk, kita tutup. Ini untuk antisipasi agar tidak terjadi penyebaran virus melalui barang yang dititipkan," ucapnya.

Sebelum menutup layanan berkunjung tatap muka, pihaknya juga telah melakukan pemberitahuan dan sosialisasi terkait isu virus corona kepada para warga binaan.

Penutupan layanan kunjungan tatap muka juga berlaku di Lapas, Rumah Tahanan Negara (Rutan), dan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) yang ada di Provinsi Aceh, bahkan seluruh Indonesia. Hal ini sebagai bentuk upaya mencegah penyebaran Covid-19.

“Kami telah menyiapkan ruangan khusus, lengkap dengan alat penunjang video call. Fasilitas ini dapat dinikmati para warga binaan secara gratis, sesuai dengan waktu jam kunjungan. Tapi kita gilir supaya bisa kebagian semua, karena tempat terbatas,” jelas dia.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, telah mengambil empat langkah preventif menghadapi penyebaran virus corona di Lapas, Rutan, dan LPKA.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Nugroho mengatakan, empat langkah tersebut yaitu, melakukan pencegahan, penanganan, pengendalian, dan pemulihan. “Status pada Lapas, Rutan, dan LPKA merujuk pada empat kondisi tersebut. Ada zona kuning dan merah,” kata Nugroho, seperti dilansir tempo.co, Senin, 16 Maret 2020.

Nugroho menjelaskan, yang dimaksud status zona kuning, adalah ketika Lapas, Rutan, dan LPKA tersebut melakukan tindakan pencegahan dan penanganan.

Seperti sosialisasi, penyemprotan disinfektan, penyediaan sarana deteksi (pengukur suhu tubuh), serta penyediaan sarana cuci tangan dengan sabun dan hand sanitizer.

Selain itu, juga memastikan kondisi kesehatan pegawai, tahanan, warga binaan pemasyarakatan, atau narapidan dewasa dan anak memiliki suhu tubuh dibawah 37,5 derajat celcius.

Sementara itu, status zona merah bagi Lapas dan Rutan menyesuaikan daerah masing-masing. Seperti pada Kantor Wilayah Kemenkumham DKI Jakarta yang telah meniadakan kunjungan keluarga bagi penghuni Lapas, Rutan, dan LPKA, terhitung dari 18 sampai 31 Maret 2020.

“Kami telah mengeluarkan draf Instruksi Menteri tentang pencegahan, penanganan, pengendalian, dan pemulihan penyebaran Covid-19 di Lapas, Rutan, dan LPKA,” jelasnya.

Hingga kini, Senin, 30 Maret 2020, berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat sebanyak 1.285 orang positif terinfeksi Covid-19. Sedangkan yang sudah dinyatakan sembuh sebanyak 64 orang. Sementara yang telah meninggal dunia berjumlah 114 orang.

Berdasarakan data BNPB juga tercatat, sebanyak 723,279 orang terinfeksi positif Covid-19 secara global (dunia). Dan yang sudah dinyatakan sembuh sebanyak 151,800 orang. Sementara yang telah meninggal dunia sebanyak 33,993 orang.

Untuk kasus Covid-19 di Provinsi Aceh, sebelumnya dilaporkan, empat pasien positif corona di Aceh, 1 orang dari Kabupaten Aceh Utara (meninggal), 2 orang dari Kota Banda Aceh (masih dirawat), dan 1 orang lagi dari Kabupaten Aceh Besar (masih dirawat).

Berdasarkan data terbaru Covid-19 Aceh dari Dinas Kesehatan Aceh tercatat, jumlah orang dalam pemantauan (ODP) sebanyak 567 orang. Sedangkan jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 41 orang.

Sementara jumlah korban meninggal dunia, sudah 2 orang, yaitu 1 orang warga Kota Lhokseumawe (AA), sedangkan 1 orang lagi warga Kabupaten Aceh Utara yang merupakan pasien PDP Covid-19, namun hingga kini belum ada kejelasan dari Balitbangkes Jakarta, apakah yang bersangkutan positif atau negatif Covid-19.***

Komentar

Loading...