Nasib Lansia, Mak Jasa dan Farida

Hidup Serumah Bersama Anak Alami Gangguan Jiwa

Hidup Serumah Bersama Anak Alami Gangguan Jiwa

Simeulue | Mungkin tak terbayang bagaimana rasanya hidup serumah bersama anak kandung, yang menderita gangguan jiwa. Tentu sangat sulit, selain berbahaya pada diri sendiri, dikhawatirkan juga akan memberi dampak pada lingkungan sekitar.

Tapi apa daya, nasib itu harus diterima dan jalani dengan ikhlas oleh Mak Jasa (85) dan Farida (75) istrinya. Hari-hari warga Desa Air Dingin, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, harus merajut asa.

Sebab, sudah enam bulan hidup serumah dan bersama anaknya yang mengalami gangguan jiwa.

Namanya Rajumat (35). Dia anak bungsu dari delapan bersaudara dan sudah enam tahun menderita kelainan jiwa.

Entah apa awal penyebabnya, namun cerita Mak Jasa, sebelumnya Rumajat kondisinya sehat. Dia menjadi tulang punggung dalam keluarga mereka.

Namun jiwanya mulai terganggu sejak ia pulang merantau dari Sumatra Utara, persis di Brastagi.

"Sebelumnya anak saya ini kondisinya sehat, penyakit itu datang sejak ia pulang merantau, entah apa yang terkena disana," duga Mak Jasa, Rabu, 5 November 2019 di Kota Sinabang.

Cerita Mak Jasa, sejak pulang merantau itulah, anaknya mulai menunjukkan sikap aneh. Tingkahnya mulai tidak baik, sering berbicara sendiri, memukul orang di jalan. Bahkan orang tuanya saja turut menjadi korban keganasannya.

Tak tinggal diam. Berbagai usaha telah dilakukan keluarga untuk mengobati anak sulung mereka itu. Mulai dari pengobatan tradisional, hingga medis. Namun hingga kini hasilnya masih nihil. Malah semakin hari, kelakuannyamenjadi-jadi.

"Pengobatan ke dukun sudah pernah, ke rumah sakit juga sudah, namun belum ada hasil, bahkan semakin parah penyakitnya itu,"  keluh Mak Jasa.

Dikatakan Mak Jasa, anaknya itu sudah pernah di masukkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Simeulue dan Banda Aceh. Namun pihak RS tidak sanggup mengobati dan menjaga anak mereka, sehingga dikembalikan pada mereka.

Saat ini, untuk menjaga anaknya agar tidak mengganggu dan membahayakan orang lain. Mak Jasa dan istrinya, mengurung anaknya dalam kamar yang bersebelahan dengan kamar tidur mereka pada ruang berukuran 3x3 meter. Termasuk dipagari besi, kayu, serta ditutupi seng.

"Biar tidak mengganggu orang lain, makanya kami kurung di kamar ini, untuk kebutuhannya sehari-hari kami berikan seadanya, sebab saya juga tidak ada penghasilan jelas," ucapnya lirih.

Mak Jasa, hanya bekerja menjadi penjual sapu lidi keliling dengan berjalan kaki. Penghasilannya tidak menentu. Dari Rp10 hingga Rp 20 ribu per hari.

Istrinya tinggal di rumah menjaga anak mereka. Kedua lansia ini sangat berharap untuk kesembuhan anak mereka, dan juga perhatian pemerintah daerah setempat untuk membantu pengobatan anak mereka.

Pantauan media ini, kondisi kamar Rajumat sangat memperihatinkan. Selain jorok, bau, juga sangat sempit. Semua kegiatannya dilakukan dalam kamar. Mulai tidur, makan, juga buang air besar dan kecil, dilakukan pada tempat yang sama.***

Komentar

Loading...