Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Hasil Pansus Rumah Sakit Cut Nyak Dhien Meulaboh Mengendap di DPRK Aceh Barat

Hasil Pansus Rumah Sakit Cut Nyak Dhien Meulaboh Mengendap di DPRK Aceh Barat
Penulis
Rubrik

Meulaboh | Enam hari kedepan, genap tiga bulan hasil rekomenasi Tim Panitia Khusus (Pansus), Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat tentang berbagai dugaan tak elok di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien Meulaboh.

Tim Pansus yang diketuai Said Rizqi Saifan telah menyerahkan hasil temuan Pansus terhadap rumah sakit plat merah, Selasa (7/7/2020) lalu. Sayangnya, hampir genap tiga bulan, hasil rekomendasi Pansus tersebut tidak diketahui progresnya.

Mantan Ketua Pansus Said Rizqi Saifan, Selasa (29/9) kemarin mengaku. Langkah selanjutnya dari temuan dan rekomendasi Pansus rumah sakit DPRK Aceh Barat, sudah menjadi kewenangan lembaga.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD II) Partai Golongan Karya Aceh Barat ini, terhadap langkah-langkah lanjutan hasil Pansus, sudah diserahkan ke pimpinan dewan.

“Bagaimana langkah-langkah diambil sama pimpinan. Kalau diminta keterangan dari Pansus, Pansus siap memberikan keterangan,” kata Said Rizqi Saifan.

Begitupun lanjut Said, hari ini secara legitimasi sudah menjadi hak kelembagaan. Artinya jelas Said, setelah menjadi hak lembaga maka wewenang kelembagaan. “Tentunya dengan kesepakatan,” ujarnya.

Said mengaku, pasca hasil Pansus rumah sakit Cut Nyak Dhien Meulaboh diserahkan ke pimpinan dewan pada awal Juli 2020 lalu, ada duduk lanjutan untuk membicarakan teknis.

“Untuk membicarakan teknis ada. Mungkin meminta  penjelasan mengenai hal-hal mungkin sebelumnya kurang jelas,” kata Said.

Nah, tim Pansus sudah menjelaskan materi temuan Pansus tersebut kepada pimpinan DPRK Aceh Barat.

Namun saat media ini menanyakan apakah sudah ada langkah-langkah lebih kongkrit yang dilakukan? Said mengaku sudah menjadi porsinya pimpinan.

Alasannya jelas, telah selesai menyerahkan temuan mereka kepada pimpinan dewan. “Karena kami secara Pansus sudah dibubarkan,” tegas Said.

Itulah sebabnya, papar Said hasil temuan dan rekomendasi Pansus DPRK Aceh Barat terhadap rumah sakit plat merah, kini bolanya ada di pimpinan dewan.

“Untuk menghargai kelembagaan, tidak bergerak tanpa persetujuan dari pimpinan,” sebut Said.

Said mengakui, rekomendasi Pansus berkisar belasan. Bahkan ada rekomendasi Pansus untuk diteruskan antar instansi. Artinya, ada rekomendasi untuk ditindak lanjuti secara hukum. Lagi-lagi, rekomendasi antar instansi menjadi kewenangan pimpinan.

“Rekomendasi belasan. Antara instansi ada atau tidaknya itu dipimpinan. Rekomendasi Pansus ada hal-hal secara teknis mau diserahkan ada, itu rekomendasi dari tim Pansus,” ungkap Said.

Ketua DPRK Aceh Barat Selasa kemarin mengaku, ia sudah perintahkan tim untuk teliti hasil temuan Pansus terhadap rumah sakit dimaksud.

“Kemarin sudah saya perintahkan tim untuk teliti. Tapi ngak lama lagi ada hasilnya,” kata Samsi Barmi.

Menurut Wakil rakyat dari Kecamatan Johan Pahlawan ini, setelah selesai tim melakukan konsultasi, langkah berikutnya baru lembaga yang dipimpinnya itu menyiapkan rekomendasi.

“Penyelesaiannya secara kepala dingin,” kata Samsi Barmi, santun.

Samsi Barmi mengaku, ada pendalaman dari tim lain, guna melengkapi dari hasil temuan Pansus. “Sampai hari ini laporannya belum akurat sama saya dari tim,” ujar Samsi Barmi.

Itulah alasannya, rekomendasi diserahkan karena belum dianggap cukup. “Ada hal yang harus dilengkapi yang tidak perlu kita buka,” tegas Samsi Barmi.

Nah, sebagaimana diketahui Pansus menyerahkan hasil kerja mereka ke pimpinan, itu dilakukan tanpa membaca hasil temuan pansus. Padahal, tim pansus sendiri mengakui ada temuan-temuan serius terhadap rumah sakit plat merah Aceh Barat itu.***

Komentar

Loading...