Breaking News

Harmoko, Eks Wartawan yang Jadi Orang Kepercayaan Soeharto

Harmoko, Eks Wartawan yang Jadi Orang Kepercayaan Soeharto
Harmoko yang menjabat sebagai Menteri penerangan era Orde Baru meninggal dunia pada Minggu (4/7). (Foto: AFP/JOHN MACDOUGALL)
Penulis
Rubrik
Sumber
tempo.co

Jakarta | Menteri Penerangan era Presiden Soeharto, Harmoko, meninggal pada Ahad 4 Juli 2021. "Innalillahi wa innailaihi rojiun telah meninggal dunia Bapak H. Harmoko bin Asmoprawiro pada hari Minggu 4 Juli jam 20:22 WIB di RSPAD Gatot Soebroto. Mohon dimaafkan segala kesalahan beliau dan mohon doanya insya Allah beliau husnul khotimah. Aamiin," demikian pesan yang diperoleh Tempo.

Pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur 7 Februari 1939 ini melejit dari seorang kartunis menjadi Menteri Penerangan paling lama dalam kabinet Soeharto. Selama tiga periode 1983 hingga 1997, Harmoko memegang kewenangan luar biasa yang bisa menentukan hidup-mati media massa di rezim otoriter Orde Baru. Ketika Orde Baru tumbang, Harmoko bertahan.

Sebelum masuk ke dunia politik, Harmoko lama berkarier sebagai wartawan dan kartunis di Harian Merdeka dan Majalah Merdeka pada 1960. Pada 1964, Harmoko menjadi wartawan di Harian Angkatan Bersenjata. Sempat gonta-ganti media, Harmoko dan sejumlah rekan mendirikan Harian Pos Kota pada 1970.

Kiprahnya di dunia media massa, membuat Soeharto kepincut. Pada 1983, Presiden kedua Indonesia itu mengangkatnya menjadi Menteri Penerangan. Selama menjabat Menteri Penerangan, Harmoko menjadi sosok di balik pembredelan beberapa media seperti Tempo, DeTik dan Editor. Alasannya stabilitas pemerintah.

Harmoko menjadi orang kepercayaan paling efektif Soeharto. Wartawan senior Muhamad Chudori pernah bercerita setiap bulan Harmoko memanggil para pemimpin redaksi untuk mendengarkan wejangannya selama berjam-jam. “Harmoko akan bicara tentang beberapa hal yang disampaikan oleh Presiden kepadanya,” kata Chudori mantan Pemimpin Redaksi Antara, dikutip dari Majalah Tempo edisi 12 Januari 2003.

Kerja keras Harmoko mengontrol pers tak sia-sia. Pada 1993, dia dipilih menjadi Ketua Umum Golkar. Jabatan itu sebelumnya hanya pernah dipimpin oleh bekas jenderal. Melalui partai itu dan restu Seoharto, Harmoko bisa menjadi pemimpin DPR/MPR pada 1997. Setahun kemudian, restu itu menjadi boomerang untuk Soeharto.

Menjelang Pemilihan Presiden tahun 1998, Presiden Soeharto sebenarnya berniat mundur. Namun, Harmoko mendukungnya untuk melanjutkan pemerintah. Setelah kembali terpilih, krisis moneter terjadi pada Mei 1998. Kerusuhan pecah.

Di tengah kerusuhan itu, Harmoko memandu pimpinan DPR pada 16 Mei 1998 ke Istana Presiden meminta Soeharto mundur dari jabatan yang telah digenggamnya selama 32 tahun itu. Harmoko menjenguk Soeharto di Rumah Sakit Pusat Pertamina pada 2008. Itu menjadi pertemuan mereka yang terakhir sebelum pemimpin Orde Baru itu meninggal.

Hancurnya Orde Baru tak ikut melengserkan Harmoko dari kekuasaan. Harmoko masih menjabat Ketua MPR hingga 1999. Selesai dari dunia politik, Harmoko kemudian melanjutkan bisnis media massanya. Hingga akhirnya, mantan pejabat itu mengembuskan nafas terakhirnya pada Ahad malam, 4 Juni 2021.

Harmoko diketahui sudah sakit sejak beberapa tahun lalu. Putra Harmoko, Dimas Azisoko, mengatakan pada Mei 2021 lalu, kondisi kesehatan ayahnya kian menurun lantaran usia yang sepuh. Ketika itu Dimas menyebut sang ayah sudah tak bisa berkomunikasi.***

Komentar

Loading...