Terkait Dugaan Pemerasan dan Pengancaman

Hari Ini Aryos Beri Keterangan Kepada Penyidik Polda Aceh

Hari Ini Aryos Beri Keterangan Kepada Penyidik Polda Aceh
Aryos Nivada (Foto: Dok.MODUSACEH.CO)

Banda Aceh | Hari ini, Selasa, 19 Mei 2020. Aryos Nivada, Badan Pendiri Jaringan Survei Inisiatif (JSI) menjalani pemeriksaan (memberi keterangan) oleh penyidik Dit.Reskrimum Polda Aceh.

Akademisi berstatus kontrak di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh ini, Rabu, 29 April 2020, dilaporkan Irsanniadi, seorang pengusaha ke Polda Aceh.

Laporan dengan Nomor: STTLP/137/IV/YAN.2.5/2020/SPKT itu, terkait dugaan tindak pidana pemerasan dan pengancaman. “Benar, yang bersangkutan sudah kita mintai keterangan,” sebut sumber media ini, Selasa petang di Banda Aceh.

Sebelumnya, pelapor Irsanniadi, seorang pengusaha ke Polda Aceh mengaku juga sudah memberi keterangan kepada penyidik. “Ya, setelah saya melapor, langsung dimintai keterangan tambahan oleh penyidik,” katanya beberapa waktu lalu.

Dalam laporannya yang termuat dalam SPKT tadi, Irsanniadi mengaku, tanggal 9 Oktober 2019, sekira pukul 21.00 WIB di Gade Cafe, Jalan Imam Bonjol, Gampong Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, telah terjadi perbuatan yang dia laporkan tersebut.

Sejumlah sumber menyebut, laporan Irsanniadi terhadap Aryos, terkait masalah proyek. “Kalau ngak salah, pemerasan terhadap pemenang paket proyek,” jelas sumber ini. Kata sumber ini, Irsanniadi memenangkan proyek pembuatan instalasi di Rumah Sakit Tgk Abdullah Safii di Sigli Kabupaten Pidie.

Proyek ini dananya bersumber dari APBA (Pemerintah Aceh). Awalnya, diduga Aryos yang juga staf khusus Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah ini mengaku mampu mengurus dan memenangkan proyek ini.

Namun, seiring bergantinya Kepala ULP Pemerintah Aceh dari Pandu kepada Sayed Azhary, Aryos kabarnya undur diri. Selanjutnya, Irsanniadi mengurus proyek itu sendiri alias mengikuti  lelang secara terbuka dan berhasil. Kemenangan itulah yang  kemudian diklaim berkat usaha dan lobi yang dilakukan  Aryos kepada ULP dan Plt. Gubernur Aceh.

“Ya, mungkin saja Aryos benar, sebab dia berstatus sebagai staf ahli khusus Gubernur Aceh saat itu,” ungkap sumber ini.

Itu sebabnya, Aryos meminta sejumlah hak (fee) kepada Irsanniadi. Nah, entah tak sesuai kesepakatan, maka terjadilah perselisihan. “Kabarnya Aryos sempat mengancam Irsanniadi jika permintaannya tidak dipenuhi. Tak tahan dengan perlakuan Aryos, lalu Irsanniadi melaporkan ke Polda Aceh. Sebenarnya keinginan itu sudah lama, tapi selalu urung dilakukan,” ujar seorang sumber yang juga kenal dengan Aryos.

Benarkah keterangan itu? Hingga berita ini diunggah, MODUSACEH.CO, belum berhasil mengkonfirmasi Aryos Nivada.

Dihubungi kembali melalui telpon seluler dan pesan WhatsApp (WA) yang dikirim media ini ke nomor: 081168XXXXX, Selasa, 19 Mei 2020 malam, alumni Magister Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogjakarta itu juga tak  menjawab.

Begitupun, lepas dari penolakan memberi keterangan tersebut, tentu azas praduga tak bersalah tetap harus diutamakan. Sebab, polisi tak mungkin menolak setiap laporan dari masyarakat.

Hanya saja, setelah serangkaian proses penyelidikan dilakukan, baru diketahui apakah laporan tersebut telah (dapat) memenuhi unsur tindak pidana.

Jika terbukti, selanjutnya akan ditingkatkan pada status penyidikan dan seseorang baru ditetapkan sebagai tersangka. Jadi, kita tunggu saja proses selanjutnya.***

Komentar

Loading...