Harga Sewa Lapak di PKA-7 Selangit

Harga Sewa Lapak di PKA-7 Selangit
Pedagang Berjualan pada acara PKA di depan jalan kantor Inspektorat-Gedung Pemuda/Foto Juli Saidi
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Sejumlah pedagang mulai memadati pinggir jalan komplek Pekan Kebudayaan Aceh (PKA), Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu (05/08/2018) siang.

Mereka berjualan beragam barang dagangan. Mulai jualan tas, sepatu, makanan hingga obat herbal, seperti Bawang Dayak, di jalan lintasan Kantor Inspektorat-Gedung Pemuda. Jalan sepanjang sekitar 400 meter itu, terlihat dipadati pedagang kiri dan kanan. Sehingga bisa menyulitkan para aparatur Pemerintah Aceh yang berkantor di sana untuk masuk kerja. Terutama Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Inspektorat dan Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh.

Pedagang yang berjualan di jalan itu, pasti ada hitung-hitungan bisnis yang mereka perkirakan pada momen PKA-7 tersebut. Sebab, tak ada kata gratis. Setiap mereka yang menggunakan lapak di jalan itu, dikenakan biaya sewa dengan harga sewa lapak bervariasi. Misal, Rp 4,5 juta selama PKA-7 berlangsung. Sedang mereka yang menggunakan lapak sekitar lima meter lebih, dikenakan sewa Rp 3 juta.

 

20180805-pka2

Pdagang Bawang Dayak asal Bukit Tinggi, Sumatera Utara Yunardi misalnya, ia bersama empat dagang lain satu wilayah menyewa lapak senilai Rp 4,5 juta. “Kami sewa Rp 4,5 juta,” kata Yunardi yang diamini kawan lain, Minggu (05/08).

Begitu juga pedagang jualan sepatu, Rijal. Disela-sela memasang terpal dagangannya, mengaku menyewa lapak Rp 3 juta. Itu sebabnya, menurut Rijal yang selama ini berjualan di Keudah, Banda Aceh, untuk menutupi biaya sewa lapak, ia harus bisa mengumpulkan uang satu hari Rp 300 ribu. “Kalau ukuran ini lapaknya pendek untuk jual sepatu, kalau Rp 3 juta sewa berarti kami harus bisa kumpul uang untuk bayar sewa saja satu hari Rp 300 ribu,” kata Rijal.

Hitungan Rijal harus bisa kumpul uang Rp 300 ribu per hari, karena Pekan Kebudayaan Aceh ke-7 ini berlangsung 10 hari. “Kalau rezeki kita tidak tahu,” ujarnya.

Begitu juga dengan penjual obat herbal-Bawang Dayak. Dia mengaku memang mahal. Tetapi rezeki  tidak tahu. Yunardi bukan sekali menjual Bawang Dayak di Aceh, saat PENAS lalu dilaksanakan di Aceh, ia juga ikut. Namun kata Yunardi, pada PENAS lalu lapak tidak sewa.***

Komentar

Loading...