Muharuddin Sebut Ketua dan Pengurus Perindo Aceh Coba-Coba

Hamdani Hamid: Itu Kontra Produktif Untuk Perindo Aceh dan Hary Tanoe

Hamdani Hamid: Itu Kontra Produktif Untuk Perindo Aceh dan Hary Tanoe
Hamdani Hamid (Foto: Dok. MODUSACEH.CO)
Penulis
Rubrik
Sumber
Huwaidi Johan I Reporter Banda Aceh

Banda Aceh | Usai mendapat kepercayaan sebagai Ketua DPW Partai Perindo Aceh, mengantikan Hamdani Hamid. Nama Muharuddin, terus menuai kontroversi.

Lihatlah, setelah mengaku dirinya mendapat “restu” dari Ketua dan Sekjen DPA Partai Aceh (PA), H.Muzakir Manaf (Mualem) dan H. Kamaruddin Abu Bakar (Abu Razak), hingga berakhir dengan pemberhentian dirinya dari kepengurusan Partai Aceh.

Kini, mantan Ketua DPR Aceh itu pun mengeluarkan pernyataan yang membuat Hamdani Hamid “sakit gigi”.

Melalui laman Serambinews.com, 28 Juli 2021 (wawancara khusus). Muharuddin  mengatakan, Ketum DPP Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (Hary Tanoe) menjadikan Kepengurusan DPW Partai Perindo Aceh dibawah kepemimpinan Hamdani Hamid hanya coba-coba dan cari pengalaman. 

Artinya, orang yang ditempatkan hanya sekedar terisi. Sehingga hasil Pilkada dan Pileg perlu dievaluasi secara menyeluruh di seluruh Indonesia. 

Mendapat pernyataan seperti itu, Hamdani Hamid spontan membantah. Walau Muharuddin mengaku mengutip pernyataan Hary Tanoe. Tapi dia mempertanyakan dari sudut pandang apa, sehingga Muharuddin memberikan penilaian coba-coba. 

“Saya sudah merasakan manis dan pahit memimpin Perindo Aceh. Harusnya, Muhar tak pantas sampaikan itu kepada publik melalui media. Sebagai politisi senior, harusnya dia mengalang simpati dari publik, bukan sebaliknya membangun pencitraan dengan pernyataan yang kontro produktif,” saran Hamdani Hamid.

Dia mengaku, walau tak lagi memimpin Perindo Aceh, bukan berarti dirinya minus pengalaman dalam politik. 

“Saya juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) selama dua periode (1999-2004 dan 2004-2009) era reformasi. Harusnya Muhar menjaga psikologis dan perjuangan kawan-kawan pengurus saat ini hingga mampu mengantarkan partai ini menjadi salah satu konstestan Pileg 2019 lalu. Itu tak mudah,” tegas Hamdani Hamid.

Hamdani juga menilai, pernyataan Muharuddin tentang adanya restu dari Mualem dan Abu Razak maupun mengutip pernyataan Hary Tanoe, menurut Hamdani Hamid, sadar atau tidak telah membangun resistensi terhadap Partai Aceh (PA), Perindo Aceh dan Hary Tanoe di mata rakyat Aceh.

“Tapi saya yakin Hary Tanoe tidak mengatakan seperti itu, karena saya bekomuikasi baik dengan beliau. Jadi, kalaupun ada pernyataan seperti itu, saya tidak bisa menilai apakah benar-benar suara Hary Tanoe atau pendapat pribadi Muhar,” ujar Hamdani.

Itu sebabnya, dia mengaku tidak ingin melayani dan berdebat tentang hal kecil seperti ini.

Menurut dia, berdasarkan pengalaman organisasi dan apa yang telah ia lakukan untuk Perindo Aceh, dia yakin Hary Tanoe tidak menyampaikan hal  demikian. “Ini pemikiran dan pernyataan yang keliru,” kritik Hamdani.

Hamdani mengaku,  ia belum sukses mendongkrak elektabilitas Partai Perindo di Aceh dalam hal perolehan kursi di parlemen maupun pemerintahan itu benar. Sebab, kultur (budaya) masyarakat Aceh yang religius (Islami) menjadi sulit untuk menyambut Partai Perindo secara terbuka. 

“Sekali lagi, namun kami mampu mengantar Partai Perindo menjadi peserta Pemilu 2019 di Aceh,” ujar Hamdani

Hamdani juga mengatakan, mungkin di bawah kepemimpinan Muharuddin, nanti mampu memberikan kursi di legislatif serta eksekutif yang signifikan di Aceh. “Biarlah waktu yang menjawab semua itu,” sebut Hamdani Hamid.***

Komentar

Loading...