H. Harun Keuchik Leumiek Luncurkan Buku Hikayat Aceh

H. Harun Keuchik Leumiek Luncurkan Buku Hikayat Aceh
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Setelah sebelumnya meresmikan pendirian Masjid H. Keuchik Leumiek. Kini H. Harun Keuckhik Leumiek bekerjasama dengan Lembaga Studi Kebudayaan dan Pembangunan Masyarakat (LSKPM) Aceh, meluncurkan buku berjudul: "Hikayat H. Harun Keuchik Leumik, Antrologi Sastra Hikayat Aceh".  Peluncuran buku itu dilakukan, di halaman masjid itu,  Tepi Kali, Gampong Lamseupeung, Kota Banda Aceh, Senin, 25 Maret 2019.

H. Harun Keuchik Leumiek menyampaikan, hikayat dulu merupakan bacaaan rutin dalam kehidupan masyarakat Aceh. Tapi, hikayat Aceh itu sudah jarang didapatkan. Malahan, naskah kuno banyak yang tidak diselamatkan dan justeru berada di Malaysia serta Singapura.

"Saya pergi ke Museum Singapura, saya lihat ada batu akik Aceh. Sedangkan di sini Aceh tidak ada keperdulian untuk membudidayakan batu akik. Itulah masyarakat Aceh, kurang perhatian terhadap budaya sendiri," katanya sambil geleng kepala. 

Padahal menurutnya, hikayat dan benda Aceh yang mempunyai nilai budaya yang harus dilestarikan. Tujuannya, agar tidak punah dan dapat diperkenalkan kepada generasi muda. "Anak muda jaman sekarang malah tidak tahu tentang Hikayat Aceh. Ini suatu yang disayangkan," ungkapnya. 

H. Harun menyampaikan, buku yang diluncurkan hari ini merupakan tulisan hikayat tentang kisah hidupnya dan keluarga. "Sebenarnya saya keberatan, jika ditulis tentang saya. Namun, Pak Amir Hamzah beserta kawan-kawannya telah menulis dan mengetahui kehidupan saya dari kecil. Apa lagi saat saya berpacaran. Itu ditulis, saya malu sendiri," jelasnya. 

Sastrawan Aceh, sekaligus Editor Buku H. Keuchik Leumiek, Bahani As menjelaskan. Dulunya masyarakat Aceh tidak bisa melepaskan diri dari hikayat. Bahkan, di tempat umum seperti mushalla berhamburan hikayat-hikayat Aceh. Itu merupakan bentuk merakyatnya hikayat di masa lalu. Namun, tidak dengan jaman moderen saat ini.

“Generasi saat ini malah tidak tahu apa itu Kikayat Aceh, Bahasa Aceh, kata-kata dalam bahasa Aceh malah hilang begitu saja. Malahan, 600 hikayat Aceh saat ini telah berada di Jakarta. Tahun 1983 saya menelusuri. Mendatangi perpustakaan nasional, tak saya jumpai.  Saya mendengar, 600 hikayat Aceh itu dibeli seseorang yang disimpan di pustakaan pribadi,” jelasnya. 

Padalah, Hikayat Aceh atau naskah kuno merupakan bukti sejarah Aceh. Bukti, kekayaan intelektual Aceh yang wajib dikembalikan. Dengan ada naskah kuno atau hikayat, anak muda Aceh dapat mengetahui kembali tentang pengalaman masa lalu yang dilewati totok-tokoh penting di Aceh yang merupakan peninggalan sejarah.

Selain itu, Bahani As turut prihatin dengan generasi pemuda saat ini. Menurutnya, anak Aceh jaman sekarang malah tak tahu dengan kosa kata Bahasa Aceh. Lebih memilih mengunakan Bahasa Indonesia dan bahasa asing lainnya.

“Sebab itu, hikayat Aceh harus dilestarikan kembali. Agar Bahasa Aceh tidak punah. Sekarang malahan, dalam peralatan dapur anak-anak tidak mengenal lagi aweuk (sendok kuah) dan lainnya. Saya kira persektif hikayat yang kita luncurkan, merupakan awal untuk menghidupkan kembali Bahasa Aceh pada generasi muda,” harapnya.***

Komentar

Loading...