Breaking News

Terkait Dugaan Korupsi Rekontruksi Jembatan Pangwa

Giliran Tim Kejati Aceh dan Kejari Pijay Geledah Kantor BPBA, Ada Apa?

Giliran Tim Kejati Aceh dan Kejari Pijay Geledah Kantor BPBA, Ada Apa?
Foto ist.

Banda Aceh | Tim Penyidik Kejaksaan Negeri Pidie Jaya bersama tim Kejaksaan Tinggi Aceh, Kamis (18/3/2021) melakukan penggeledahan Kantor Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) di Jalan Daud Bereueh Kota Banda Aceh.

Penggeledahan tersebut dilakukan, untuk mencari barang bukti (BB) terkait kasus dugaan korupsi pekerjaan Rekonstruksi Jembatan Pangwa Tahun Anggaran (TA) 2017, dengan nilai kontrak Rp11,2 miliar. Kasus ini diduga merugikan negara Rp1 miliar lebih.

Tim dipimpin Kepala Seksi (Kasi) Tindak Pidana Khusus Kejari Pidie Jaya, Wahyu Ibrahim dan tiba di Kantor BPBA sekira pukul 09.30 WIB hingga selesai jam 11.00 WIB. Mereka berhasil membawa sejumlah dokumen terkait pelaksanaan proyek tersebut. Termasuk dokumen pencairan pembayaran hingga 100 persen.

Foto: Ist

Kepala Kejaksaan Negeri Pidie Jaya, Mukhzan, SH. MH kepada media menyampaikan, penggeledahan dilakukan untuk mencari sejumlah alat bukti yang mempunyai relevansi dengan perkara dugaan tindak pidana korupsi pembangunan jembatan Pangwa TA.2017, sehingga membuat terang tindak pidana dan dapat dijadikan barang bukti (BB) di pengadilan nantinya. Penggeledahan dilakukan pada dua tempat yakni BPBA dan pada PT. Zarnita Abadi.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus dugaan tindak pidana korupsi pada rekonstruksi Jembatan Pangwa TA. 2017 telah ditingkatkan ke penyidikan pada 1 Oktober 2020 dan pada tanggal 23 Februari 2021 telah ditetapkan tiga tersangka.

Saat itu juga langsung dilakukan penahanan yakni tersangka Mah (Direktur PT. Zarnita Abadi), AZH (Pengendali CV. Tri Karya Pratama Consultan) dan Mur (Direktur CV. Trikarya Pratama Consultan).

Foto: Ist

Lebih lanjut Mukhzan saat jumpa pers (24/2) lalu di Aula Kantor Kejari setempat mengatakan, para tersangka itu berbagi peran masing-masing dalam pelaksanaan pembangunan Jembatan Panggwa.

MAH sebagai Direktur PT Zarnita Abadi telah melaksanakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi sebagaimana yang tercantum dalam kontrak. Terutama pada bahagian plat lantai jembatan pada pekerjaan rekontruksi jembatan Pangwa.

Modus operandi yang dilakukan tersangka (MAH) adalah, dengan memesan atau membeli readymix sebagai sebagai bahan pengecoran tidak sesuai pada tempatnya atau mengambil dukungan sewaktu mengajukan penawaran yakni PT LB, sebut dia.

"Sebab itu untuk menutupi modusnya, tersangka menyewa mobil perusahaan readymix PT. LB untuk mengantar material redemik ke lokasi Jembatan Pangwa. Berdasarkan fakta dan data hal tersebut jelas mengindikasikan tersangka dalam melakukan tindak pidana korupsi yang merugikan keuangan negara," jelas Mukhzan.

Foto: Ist

Tersangka AZH berperan sebagai konsultan pengawas yang mengendalikan CV Trikarya Pratama Consultan. AZH adalah yang mengendalikan atau mengelola kegiatan pengawasan terhadap pekerjaan jembatan Pangwa.

AZH juga menghadiri rapat-rapat pertemuan di Kantor BPBA Aceh dan dia yang mengendalikan pengawasan pembangunan jembatan nilai Rp343 juta ini. Tersangka AZH juga menandatangani MCO- MC Final, dokumen CCO, Justifikasi teknis dan dokumen dokumen terkait pengawasan jembatan pangwa lainnya dengan mengatasnamakan para ahli (Ir. Firmansyah, Mustafa, S.T dan Dumadi, S.T,” sebut Mukhzan.

"Bahkan tersangka AZH disebut juga aktif berkomunokasi dan sering dihubungi PPTK yaitu T. Raja Al Kausar dan Direkrur CV Trikarya Pratama Consultan yaitu MUR," jelasnya.

Sedangkan tersangka MUR (Direktur CV Trikarya Pratama Consultan) sendiri yang menandatangani kontrak sebagai konsultan pengawas dengan nilai Rp343 juta.

"Tersangka MUR ikut juga menandatangani laporan progress kemajuan pekerjaan di lapangan. Lalu MUR juga menerima fee terkait kompensasi peminjaman perusahaannya tersebut," ungkap Mukhzan.***

Komentar

Loading...