Peringatan Dini BMKG Malikussaleh

Gelombang Tinggi, Warga Pesisir Diminta Waspada  

Gelombang Tinggi, Warga Pesisir Diminta Waspada  
Gelombang tinggi di Lhokseumawe dan Aceh Utara (Foto: Din Pasee)

Lhokseumawe | Untuk mencegah resiko dan dampak buruk, Stasiun BMKG Malikussaleh mengeluarkan peringatan dini, agar warga di pesisir  Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara, waspada terhadap gelombang tinggi laut yang ganas.

Itu sampaikan Kepala Stasiun Malikussaleh, Kristin melalui Call On Duty  yang menyebarkan peringatan dini dalam Grup BMKG Malikusaleh.

BMKG Malikussaleh mengingatkan masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir pantai untuk tetap waspada, karena saat ini gelombang tinggi laut mencapai 2,5 meter.

“Berpotensi terjadinya gelombang tinggi mencapai 2.5 meter di perairan Selat Malaka Bagian Utara di utara perairan Aceh Utara untuk 3 hari ke depan,” tulis BMKG Malikussaleh, Selasa lalu.

Karena kondisi perubahan cuaca ekstrim itu, para nelayan diimbau tak melaut karena risiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran perahu nelayan. Dirincikan, kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 meter.

Untuk  Kapal Tongkang-kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1.5 meter. Sedangkan kapal Ferry -kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2.5 meter.

Kapal Ukuran Besar seperti Kapal Kargo/Kapal Pesiar-Kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4.0 meter.

“Dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap waspada,” tulis BMKG dalam siaran persnya.

20191128-laut2

Pantauan media di lapangan, hampir sebagian besar nelayan berperahu mesin terpaksa gantung jala demi keselamatan jiwa.

Mereka memilih tak melaut dan menunggu hingga redanya gelombang tinggi laut.  Ironisnya ada sebagian kecil nelayan, khususnya pukat darat justru tidak menggubris peringatan dini BMKG Malikussaleh.

Ahmadi (35), salah seorang nelayan di Desa Hagu Selatan, Kecamatan Banda Sakti mengatakan. Dia bersama rekannya tetap akan menerjang laut untuk mencari ikan.

Ini dilakukannya demi memenuhi kebutuhan harian keluarganya yang miskin. "Kalau tidak melaut, kami mau makan apa. Kami tahu sekarang mulai gelombang tinggi laut, tapi apa boleh buat, melaut adalah satu-satunya cara kami bertahan hidup," ujarnya.***

Komentar

Loading...