Geger Laporan 60% Produknya Gak Sehat, Siapa di Balik Nestle?

Geger Laporan 60% Produknya Gak Sehat, Siapa di Balik Nestle?
Foto: Ilustrasi Nestlé (AP Photo/Keystone, Laurent Gillieron)
Penulis
Rubrik
Sumber
cnbcindonesia.com

Jakarta I Beberapa hari terakhir jagat media dihebohkan oleh bocornya dokumen internal Nestlé yang mengungkapkan bahwa lebih dari separuh produk perusahaan tidak sesuai dengan standar kesehatan yang berlaku.

Hal ini diketahui dari dokumen internal Nestlé yang beredar dan diterima oleh Financial Times, Minggu (6/6/2021). Disebutkan bahwa lebih dari 60% produknya tidak bagus untuk tubuh jika dikonsumsi terlalu banyak dan setiap hari.

Bahkan, dari dokumen tersebut diketahui bahwa hanya 37% dari produk makanan dan minuman Nestlé yang memperoleh rating atau bintang di atas 3,5 dari Australia Health Rating System.

Rating 3,5 adalah ambang batas untuk mengakui kesehatan produk. Dokumen tersebut juga menuliskan bahwa beberapa produk perusahaan tidak akan pernah sehat meski dilakukan banyak pembaharuan.

Contoh saja, menurut Down to Earth, 100 gram cokelat KitKat Nestle mengandung 49% gram gula, di mana ini adalah dua kali lipat dari batas atas kebutuhan gula yang direkomendasikan dalam sehari.

Begitu juga mie Maggi mengandung 3,7 gram garam. Ini adalah sebanyak 75% dari jumlah kebutuhan garam yang dibutuhkan tubuh dalam sehari.

Sementara, Kepala Eksekutif Nestlé Mark Schneider menolak jika produk perusahaannya dinilai tidak sehat. "Dokumen internal bertentangan dengan klaim ini," katanya ke Financial Times.

Lantas, di tengah kehebohan ini sebenarnya siapa yang ada di balik Nestle?

Mengutip penjelasan resmi website Nestlé S.A, perusahaan gizi, kesehatan, dan keafiatan (wellness) ini didirikan pada 1866 oleh seorang ahli farmasi dari Jerman bernama Henri Nestlé, yang berhasil meramu bubur untuk bayi yang tidak dapat menerima Air Susu Ibu (ASI).

Nestlé S.A. kini beroperasi di 186 negara dengan memasarkan lebih dari 2.000 merek. Adapun total pekerja Nestlé per akhir 2020 sebanyak 273.000 orang, angka ini turun dari 291.000 orang pada 2019.

Jenama Nestlé S.A. yang terkenal di kalangan masyarakat Indonesia, seperti bubur bayi Cerelac, produk minuman rasa cokelat dan malt Milo, snack KitKat, kopi Nescafe, makanan kucing dan anjing Purina (di antaranya, Friskies dan Pro Plan)

Nestlé S.A. (Company) adalah perusahaan induk terakhir dari Nestlé Group, berdomisili di Cham dan Vevey, di Swiss, yang terdiri dari anak perusahaan, perusahaan asosiasi dan usaha patungan di seluruh dunia.

Saham Nestlé S.A. di perdagangkan di bursa saham Swiss (SIX) dengan kode saham NESN. Sementara itu, Nestlé S.A. juga diperdagangkan dalam bentuk ADR (American Depositary Receipt) di pasar Amerika Serikat (AS) dengan kode NSRGY.

Sebagai informasi, ADR adalah jenis sekuritas AS yang dapat dinegosiasikan yang mewakili kepemilikan saham yang diperdagangkan secara publik di perusahaan non-AS. ADR diperdagangkan dalam dolar AS di pasar sekuritas AS.

Nestlé S.A. memegang saham NESN sebanyak 86,53 juta saham atau 3,00% dari total saham NESN. Kemudian, di posisi kedua ada Norges Bank Investment Management yang menggenggam 2,67% saham, The Vanguard Group, Inc. (2,54%), UBS Asset Management Switzerland AG (1,55%) dan sejumlah pemegang saham institusi lainnya.

Mengenai kinerja keuangan sepanjang 2020, menurut laporan keuangan perusahaan, penjualan Nestlé tercatat sebesar CHF 84,34 miliar, turun 8,9% dari penjualan tahun sebelumnya yang sebesar CHF 92,57 miliar. Dengan asumsi kurs franc Swiss (CHF) Rp 15.871, maka penjualan 2020 setara dengan Rp 1.339 triliun.

Sejurus dengan itu, laba bersih perusahaan pun terkoreksi 3,0% menjadi CHF 12,23 miliar per akhir 2020 atau setara Rp 194 triliun.

Di Indonesia, Nestlé S.A. memiliki anak perusahaan yang bernama Nestlé Indonesia yang mulai beroperasi sejak 1971 dengan komposisi kepemilikan saham mayoritas (lebih dari 90%).

Nestlé Indonesia kini mempekerjakan sekitar 3.700 karyawan dan mengoperasikan tiga pabrik yang menghasilkan 20 merek, yakni Pabrik Kejayan di Jawa Timur untuk mengolah produk susu seperti Dancow dan Bear Brand, Pabrik Panjang di Lampung untuk mengolah kopi instan Nescafe, serta Pabrik Karawang di Jawa Barat untuk memproduksi Dancow, Milo, dan Cerelac.

Adapun jauh sebelum pabrik perusahaan berdiri di Tanah Air, Nestlé sudah hadir di Indonesia melalui impor susu kental manis Milkmaid, atau yang kemudian dikenal dengan nama Tjap Nona pada 1873.***

Komentar

Loading...