Perilaku Seksual Menyimpang

Gawat! Lelaki Sex Lelaki di Banda Aceh Capai 771 Orang, 89 Positif HIV

Gawat! Lelaki Sex Lelaki di Banda Aceh Capai 771 Orang, 89 Positif HIV
Ratnawati pengelola HIV/AIDS, Dinas Kesehatan Aceh
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Dinas Kesehatan Aceh mencatat, Lelaki Sex Lelaki atau disingkat LSL dari tahun 2018 sampai 2019 di Kota Banda Aceh terus bertambah. Dari 350 orang menjadi 771 orang.

Akibatnya bergerak lurus dengan penderita Human Immunodeficiency Virus atau biasa disingkat (HIV/AIDS).

Fakta miris itu disampaikan Ratnawati, Pengelola HIV/AIDS, Dinas Kesehatan Aceh, usai pertemuan gugus tunas tentang pembinaan dan pemberdayaan penyandang HIV/AIDS Tahun 2019 di Kantor Dinsos Aceh. Kamis, 21 November 2019.

Kata dia, tahun 2018 pihaknya telah melakukan tes HIV terhadap sejumlah kelompok khusus yaitu, Wanita Pekerja Sek (WPS/PSK), Lelaki Sex Lelaki (LSL) dan juga Waria.

Hasilnya sangat mengejutkan, banyak HIV diderita LSL. “Dari kasus 2018 sampai 2019 memang dominan terhadap LSL. Banyak remaja khususnya laki laki yang ditemukan sudah terkena virus HIV,” ujar Ratna.

Biasanya, dalam setahun terdapat 10 penderita HIV bagi golongan LSL. Namun saat ini semakin meningkat. “LSL dulunya hanya setahun 10 kasus, tapi sekarang bisa 20 atau 30 orang LSL. LSL adalah lelaki sex lelaki, bukan lelaki suka lelaki," katanya tersenyum.

Menurutnya, sex bebas yang marak terjadi di Aceh karena kurangnya ilmu agama serta pantauan orang tua. “Tidak ada landasan yang kuat dari keluarga. Disisi lain, yang melakukan free sex, bukan orang hanya yang belum bekeluarga, tapi orang yang sudah berkelusrga pun melakukan seks bebas,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, sejak tahun 2004 di sampai oktober 2019, setiap tahunnya ada peningkatan penderita HIV. Umumnya, kasus yang marak sudah bukan pada HIV namun Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

Ini merupakan virus yang sangat berbahaya bagi kesehatan. “Remaja kita di Aceh saya lihat sangat bebas, orang tua kurang mengawasi. Sehingga anak sudah mencoba melakukan sex dini,” ungkapnya.

Seksi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang, Dinsos Aceh, Drs. Aji Amin.

Sementara itu berdasarkan data Dinas Sosial Aceh, daerah yang paling tinggi penderita HIV yaitu, Aceh Utara dengan jumlah 105 kasus, Banda Aceh (89 kasus), Aceh Tamiang (83 kasus) dan Bireuen (72 kasus).

“Data yang sudah ada 800 kasus, namun untuk secara pastinya bisa lebih,” ungkap Seksi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang, Dinsos Aceh, Drs. Aji Amin.

Sayangnya, dalam pendataan penyakit itu, Dinas Sosial mengalami kesulitan. Karena masyarakat atau si penderita sering merahasiakan identitasnya.

“Penderita biasanya malu untuk mengaku. Biasanya apabila petugas Dinsos Aceh datang memberi bantuan, mereka malu dan lari. Itulah masalah yang kita hadapi,” ceritannya.

Begitupun, Dinas Sosial Aceh secara otomatis akan membantu, sesuai anggaran yang ada.

Sebelumnya Dinsos Aceh membantu penyandang HIV dengan membuat usaha ekonomi produkstif. “Namun di 2019 akan kita berikan bantuan berupa uang, tiga ratus ribu per bulan kepada yang betul-betul membutuhkan,” ungkapnya.***

Komentar

Loading...