Gawat, Akibat Anggaran Minim Santri di Pesantren Simeulue Kekurangan Gizi

Gawat, Akibat Anggaran Minim Santri di Pesantren Simeulue Kekurangan Gizi
H. Marjudin, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Aitami Simeulue.

Simeulue | Akibat minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap kesejahteraan pondok pesantren yang ada di Kabupaten Simeulue, sejumlah santri yang sedang mondok mengalami kekurangan gizi. "Karena anggaran yang diberikan pemerintah sangat sedikit, sehingga makanan yang diberikan pada santri juga terbatas. Akibatnya, banyak santri yang sedang menempuh pendidikan di pesantren mengalami kekurangan gizi,  sebab kebutuhan makanan yang diberikan pada mereka sangat kurang," kata, H. Marjudin, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Aitami, Kecamatan Simeulue Timur, Simeulue, Kamis, (28/06/2019).

Dikatakan, saat ini Pesantren Darul Aitami Desa Linggi memiliki 147 santri, Pemerintah Simeulue melalui dinas terkait memberikan bantuan tiap bulannya Rp 25 juta rupiah setelah dipotong pajak. Setiap santri mendapatkan bantuan subsidi biaya makan per hari hanya sebesar enam ribu rupiah, kalau dihitung per bulan maka setiap santri hanya mendapatkan biaya makan Rp 180 ribu rupiah.

Tenaga pengejar juga sangat minim gajinya, per orang hanya diberikan 1.2 juta per bulan, itu sudah mencakup semuanya, tanpa ada uang masuk yang lain. Untuk itu dikatakan, pemerintah memperhatikan hal ini, guna meningkatkan kualitas santri, karena para santri tersebut nantinya akan menjadi penerus masa depan.

"Dengan biaya sebesar itu, santri yang memiliki jam pelajaran cukup banyak setiap harinya, tidak dapat belajar dengan normal sebab makanan yang diberikan tidak mencukupi nilai gizinya, sehingga mengakibatkan kualitas santri menjadi menurun, belum lagi gaji guru yang sangat sedikit, semakin menambah permasalahan ini," ucap Marjudin.

Nurul Amin, pembina sekaligus Pengurus Asrama Pesantren Darul Aitami mengatakan. Selain biaya makan bagi santri yang terbatas, juga fasilitas pesantren saat ini sangat memperihatinkan. Contohnya untuk kebutuhan air bersih, saat ini pesantren itu tidak memilikinya, sehingga untuk kebutuhan sehari-hari para santri menggunakan air yang kurang baik kualitasnya.

"Karena air bersih tidak ada, para santri menggunakan air apa adanya, sehingga menyebabkan banyak santri yang terkena penyakit kulit seperti gatal-gatal," ungkap Nurul Amin.

Lebih lanjut dijelaskan, saat ini Pesantren Darul Aitami sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah, sebab untuk melahirkan santri berkualitas juga harus didukung fasilitas yang memadai. "Kami berharap pemerintah memberi perhatian lebih pada sejumlah pondok pesantren yang ada di Simeulue, sehingga santri kita dapat bersaing dengan santri di luar sana," pintanya.

Heri, warga yang pernah bekerja di salah satu Puskesmas setempat, membenarkan apa yang dikeluhkan pengejar pesantren itu, sebab ia pernah melihat langsung ada santri yang masuk Puskesmas disebabkan kekurangan gizi.

"Dulu waktu saya masih bekerja di Puskesmas daerah itu, ada santri yang sakit dibawa ke Pustu (Puskesmas Pembantu) yang disebabkan kurangnya gizi yang dikonsumsi," tutur Heri.***

Komentar

Loading...