Penulis adalah Pimpinan Redaksi MODUSACEH.CO

Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda.

Gairah Bohong!

Gairah Bohong!
Ilustrasi bohong/pinterest.com

APA jadinya ketika kita tahu seseorang sedang berbohong? Padahal, kita selalu diingatkan, berbohong adalah hal yang buruk, walau pun tidak sepenuhnya benar.

Ambil contoh soal terkini yang dilakonkan Yunita Arafah, istri kedua yang dinikahkan Nova Iriansyah, sebelum dia terpilih sebagai Wakil Gubernur Aceh bersama Irwandi Yusuf (mantan Gubernur Aceh), hasil Pilkada 2017 lalu.

Menariknya, Yuyun, begitu dia akrab disapa bukanlah perempuan biasa berpendidikan rendah. Tapi, terikat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Dia tercatat sebagai akademisi di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh dan sedang menyelesaikan pendidikan Strata-3 (S-3) di Jepang.

Ironisnya, Yuyun justru “mengaku” dan tercatat masih berstatus “perawan” alias belum menikah.

Nah, kisah Yuyun mengingatkan saya pada musim pertama serial TV The Good Place (tempat yang baik). Chidi Anagonye, seorang profesor filsafat etika dan moral, menghadapi satu dilema ketika seorang rekannya meminta pendapat tentang sepatu bot barunya.

Chidi benar-benar tidak menyukai sepatu bot berwarna merah menyala dengan lapisan Kristal. Tetapi untuk menjaga perasaan rekannya, ia mengatakan sangat menyukainya.

Tapi Chidi akhirnya menyesal karena telah berbohong dan mulai terobsesi dengan kegagalan moralnya. Apalagi, ketika kekasihnya mulai jengkel dan mengatakan, "terkadang kita berbohong untuk bersikap sopan."

Akhirnya, Chidi tak lagi merasa bersalah dan mengungkapkan hal yang sebenarnya kepada sang rekan; "Sepatu bot itu buruk, dan tampak jelek, aku membencinya!" Akibatnya, rekannya tadi tersinggung dan marah.

Bagi Chidi dan beberapa filsuf, keharusan untuk jujur mengalahkan semua kewajiban moral lain, termasuk untuk tidak menyakiti perasaan orang lain. Namun, kenyataannya, hanya sedikit orang yang benar-benar menjalankan prinsip untuk menjunjung kejujuran.

Itu sebabnya, berbohong harus dimaklumi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Misal kita menjawab "baik" secara otomatis ketika seseorang menanyakan kabar, hingga pujian yang kita berikan saat seorang teman meminta pendapat tentang potongan rambut, jas hingga jam tangan yang dia beli dan kenakan.

Karena itulah, meskipun kebohongan kita temui di mana-mana, tapi kebanyakan dari kita tidak mahir dalam mendeteksinya. Namun, apa yang akan terjadi jika kita tiba-tiba bisa mengetahui, tanpa ragu, ketika seseorang sedang melakonkan kebohongan?

Memang, ada mekanisme teknologi atau psikologi yang mampu mengaktifkan keahlian baru, mendeteksi peran kebohongan seseorang. Sebab, banyak peneliti yakin, manusia mulai berbohong kepada satu sama lain, setelah mereka menciptakan bahasa, terutama sebagai cara untuk tampil menjadi lebih unggul dari manusia lain.

"Berbohong itu sangat mudah dibandingkan dengan cara-cara lain untuk mendapatkan kekuasaan," ujar Sisella Bok, pakar etika Universitas Harvard, kepada National Geographic.

Masih kata Sisella. "Jauh lebih mudah berbohong demi mendapatkan uang atau harta orang lain, daripada memukul kepala mereka atau merampok bank."

Mungkin, karena itu sebabnya, Michael Lewsi, seorang profesor pediatri dan psikiatri terkemuka dari Universitas Rutgers berpendapat. Sepanjang sejarah manusia, berbohong juga menjadi suatu kebutuhan yang terus berevolusi untuk melindungi diri dari hal-hal buruk.

Termasuk perlindungan dari aksi persekusi (menjadi alasan berbohong) yang masih digunakan orang-orang di seluruh dunia saat ini. Dan, berbohong juga bagian yang tak terpisahkan dalam interaksi manusia-seperti ketika mengelak dari apa yang benar-benar dipikirkan tentang gaya hidup serta status pernikahannya.

Kenapa? Saat memasuki gerbang pernikahan, salah satu komitmen yang harus dipenuhi pasangan adalah, saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Seorang suami atau istri sebelum menikah memiliki kehidupan yang dijalani masing-masing. Sebagai anak manusia, kekhilafan menjadi sifat yang tak mungkin tertolak.

Begitu pula dengan perjalanan rumah tangga. Hampir nihil dan sepi dari masalah. Bahkan, keluarga Rasulullah SAW dengan Aisyah RA, juga pernah diuji dengan kabar dusta yang beredar saat Aisyah tertinggal dari rombongan.

Yang jadi soal adalah, jika aib masa lalu yang kita tutupi rapat-rapat tiba-tiba tersingkap oleh pasangan. Bolehkah seorang istri berdusta? Begitu pula jika seorang istri berdusta tentang masalah rumah tangga, yang jika ia jujur akan mendatangkan masalah lebih besar. Bolehkah sang istri berdusta dan bohong?

Pada dasarnya, berdusta termasuk perbuatan yang dilarang. Berbohong juga satu dari tiga ciri orang munafik.

Allah SWT menegaskan, setiap indra yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi Allah. "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, akan diminta pertanggungjawabannya." (QS al-Israa (17).

Perbuatan dusta juga pasti tercatat Allah SWT. Sehingga, tak seorang pun dapat lari dari konsekuensinya. "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS Qaaf (50).

Ancaman nyata dari orang yang gemar berdusta, yakni neraka. Karena seseorang yang gemar mengungkapkan perkataan dusta, akan menyeretnya untuk melakukan perbuatan maksiat lainnya.

"Jauhilah oleh kalian perbuatan dusta. Sesungguhnya dusta itu mengantarkan ke jalan kemaksiatan dan sesungguhnya kemaksiatan itu menyeret ke dalam neraka." (HR Bukhari-Muslim).

Dusta juga bisa menyeret seseorang dalam dosa besar jika berbohong atas nama Allah dan Rasul-Nya atau sumpah palsu. Meski kaidah umum berdusta merupakan terlarang, namun beberapa ulama memandang ada beberapa perbuatan dusta yang diperbolehkan.

Imam Nawawi dalam Riyadush Shalihin bahkan memasukkan satu bab khusus tentang dusta yang diperbolehkan. Dia menyebut, ada beberapa kondisi yang membuat dusta boleh dilakukan yaitu, ucapan merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Setiap tujuan baik yang bisa dicapai tanpa harus berbohong maka haram hukumnya berdusta. Namun, jika untuk mencapai tujuan itu, dan satu-satunya jalan, yakni dengan berbohong, maka berdusta boleh dilakukan.

Hukum berbohong dalam kondisi sebagai satu-satunya jalan keluar juga bertingkat. "Jika tujuannya mubah maka berbohong juga mubah, jika tujuannya wajib maka berbohong juga wajib," tulis Imam Nawawi. Namun, batasan berbohong dalam rumah tangga, yaitu bohong yang tidak menggugurkan kewajiban pihak masing-masing.

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan, ulama sepakat jika yang dimaksud bohong antara suami-istri yang diperbolehkan, yakni bohong yang tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Dalam sebuah penelitian bersejarah tahun 1996, Bella DePaulo, seorang psikolog sosial dari Universitas California, Santa Barbara, mengungkap. Mahasiswa berbohong setidaknya satu kali dari tiga interaksi sosial, dan orang yang lebih dewasa berbohong setidaknya satu kali dari lima interaksi sosial.

"Dalam banyak kebohongan sehari-hari, orang berpura-pura bersikap lebih positif dari apa yang sebenarnya mereka rasakan," tulis DePaulo dalam PsychCentral. "Jika mereka tidak menyukai Anda, mereka akan berusaha menutupinya. Jika mereka bosan dengan omongan Anda, mereka akan berusaha terlihat antusias," tulis DePaulo.

Namun demikian, ada cara-cara agar kemampuan mendeteksi kebohongan menjadi sangat bermanfaat. Salah satunya, ketika kita dapat langsung memergoki pembohong patologis, atau mereka yang melakukan kebohongan secara berseri yang bersifat merusak, serta tidak memberikan keuntungan sosial apa pun.

Pembohong patologis biasanya, orang-orang narsistik yang kebutuhannya untuk memperdaya diri sendiri dipicu. Ini oleh rasa gengsi yang ekstrem dan sangat mengakar. Bahkan, mereka memercayai kebohongan yang telah mereka ciptakan-bertentangan dengan fakta-fakta atau pernyataan yang pernah mereka buat sebelumnya.

Berbohong dalam dunia politik, tentu saja, bukan hal baru, begitu kata Vian Bakir, profesor komunikasi politik dan jurnalisme dari Bangor University in Wales.

Tak hanya itu, Plato juga mengakui manfaat dari suatu "kebohongan mulia," ujarnya, sementara tulisan politik klasik "The Prince for deception" berperan penting dalam kepemimpinan politik.

Karena itu, "berbohong dalam ranah politik tampaknya telah menjadi sangat menggairahkan dalam beberapa tahun terakhir," ujar Bakir.

"Hal yang menjadi sangat buruk saat ini adalah, sejumlah politikus penting seperti Trump, Vladimir Putin dan orang-orang kuat lainnya di seluruh dunia, telah berani berbohong karena sudah terbiasa, menjadi sebuah cara, dan tidak peduli jika mereka ketahuan".

Lantas, bagaimana dengan Nova Iriansyah? Entahlah! Tapi, menurut PolitiFact, situs pemeriksa fakta yang dimiliki organisasi nirlaba Poynter Institute for Media Studies menyebut, ada 70 persen pernyataan Donald Trump kebanyakan salah, bohong atau "ketahuan berbohong", dibandingkan Hillary Clinton yang hanya 32 persen.

Lembaga-lembaga juga bisa tanpa ragu berbohong, tambahnya. Organisasi kampanye Britain's Vote Leave berulang kali menyatakan bahwa Uni Eropa merugikan Inggris £350 juta setiap minggunya-sebuah klaim yang oleh Otorita Statistik Inggris kemudian disebut sebagai "bentuk penyalahgunaan data statistik resmi."

"Karena klaim tersebut bukan hanya salah namun juga menjadi bagian dari materi kampanye yang penting dan direncanakan matang oleh mereka, maka adil untuk mengatakan bahwa ada niat menipu di sana," ujar Bakir.

Nah, lepas dari semua itu, benarkah Yunita Arafah masih sendiri seperti diakuinya selama ini, termasuk dalam catatan resmi pemerintah. Atau sudah menikah dengan Nova Iriansyah? Kebohongan inilah yang harus diungkap anggota DPR Aceh melalui hak interpelasi yang kini sudah bergulir. Semoga!***

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!
Rubrik

Komentar

Loading...