Penulis adalah Pimpinan Redaksi MODUSACEH.CO

Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda.

“Follow the Money”

“Follow the Money”
Foto: complicitclergy.com

Follow the money (Ikuti uangnya)," begitu saran Deep Throat kepada Bob Woodward. “Cari tahu transaksi keuangan tim pemenangan Nixon dari mana dan berapa jumlahnya,” kata Deep Throat, memberi arahan.

Menariknya, Deep Throat tak mau dihubungi melalui telepon atau dengan cara yang bisa diketahui orang lain. Bila ingin bertemu, dia menyarankan Woodward membuka tirai di apartemennya sebagai sinyal.

Woodward lebih sepakat memberikan kode pot bunga yang ditanami bendera merah dan ditaruh di balkon apartemen.

Ini berarti, jam 2 pagi dia berharap bertemu Deep Throat di basement yang menjadi tempat parkir mobil.

Tapi jika Deep Throat menginginkan sebuah pertemuan, ada prosedur berbeda. Dia akan melingkari nomor halaman koran New York Times langganan Woodward. Tanda itu adalah kode jam pertemuan.

Hasilnya, Deep Throat mengungkap adanya kabar bahwa dana untuk operasi spionase skandal Watergate, dikendalikan beberapa asisten utama John N. Mitchell. Dana itu lebih dari 25 ribu dollar, yang dialokasikan untuk proyek-proyek politik yang sensitif.

Ya, “Follow the Money”. Itulah satu dari sekian kata kunci bagi Bob Woodward dan Carl Bernstein, dua reporter The Washington Post (The Post), yang berhasil membongkar skandal Watergate hingga berhasil mengulingkan Presiden Amerika Richard Nixon.

Kisahnya begini. Pagi itu, Sabtu, 17 Juni 1972, sekira pukul 02.30 dini hari waktu Washington DC, Amerika Serikat. Kantor Pusat Partai Demokrat di Kompleks Watergate, dibobol maling.

Peristiwa ini begitu cepat sampai ke meja redaksi The Washington Post (The Post), khususnya reporter politik, Bob Woodward. Mantan marinir Amerika Serikat yang bekerja di Kapal USS Wright itu bergegas, mencari tahu.

Walau usianya sudah beranjak 29 tahun dan mantan seorang serdadu, tapi tulisan Woodward tidaklah sebaik rekan jurnalis lainnya alias masih acak-acakan.  Itu sebabnya, beberapa teman sekantor Woodward sering menyindirnya: mungkin bahasa Inggris bukan bahasa asli Woodward.

Namun, isu skandal Watergate membuatnya harus bekerja keras bersama Carl Bernstein, kala itu berusia 28 tahun, seorang reporter yang khusus mengarap isu metropolitan. Dia sudah bekerja sekitar enam tahun di The Post.

Petunjuk awal mereka terima dari Alfred E. Lewis, mantan polisi yang menjadi reporter media tersebut. Dia jurnalis yang mudah sekali menembus area penyelidikan polisi walau di wilayah terlarang bagi para pemburu berita.

Hari itu, hanya dia jurnalis yang sepanjang waktu bersama polisi melakukan penyelidikan tempat kejadian perkara (TKP). Lewis menjelaskan, ada lima pria yang ditangkap. Mereka berpakaian setelan bisnis dan mengenakan sarung tangan karet.

Beberapa barang mereka disita polisi. Mulai walkie talkie, 40 gulungan film yang tidak terekspos, dua kamera 35 milimeter, lock picks (kunci pembobol pintu), senjata gas air mata seukuran pena, dan perangkat penyadap percakapan ruangan dan sambungan telepon. Lewis memastikan lima orang itu sudah familiar dengan tata letak markas Partai Demokrat.

Dari memoar yang ditulis keduanya dan terbit pertama kali pada 14 Juni 1974, bertepatan dengan 44 tahun All The President's Man: The most devasting political detective story of the 20th Century (kisah detektif politik paling mematikan dari abad ke-20). Mereka reporter harian yang berangkat dengan tangan kosong.

Woodward beranjak ke pengadilan, memburu pengacara kasus Watergate, Douglas Caddy. Dia juga mendapati satu nama yang mencolok yaitu James McCord, salah satu orang yang membobol Markas Partai Demokrat.

James McCord mengaku pada hakim sebagai mantan konsultan keamanan CIA tapi berupaya menampilkan ekspresi yang jinak. Woodward menulis berita pendek soal itu untuk halaman depan The Post, tanpa menggali lebih dalam siapa McCord.

Esoknya, Associated Press justru yang pertama melaporkan bahwa James McCord adalah koordinator keamanan komite untuk pemilihan kembali Presiden Amerika Richard Nixon. Media itu mengutip komentar resmi John Mitchell, mantan Jaksa Agung AS, yang juga menjadi manajer kampanye Presiden Nixon.

Woodward dan Bernstein mengetahui berita dari layanan kawat Associated Press tadi. Mereka akhirnya berpikir, ocehan resmi tokoh pemerintahan dan para politisi bisa dikantongi dari kantor berita lain. Sedangkan tugas mereka berdua adalah menyisir informasi lain yang lebih dalam.

Mereka mulai mencari tahu siapa James McCord. Mencari alamat dan mendatanginya; menghubungi nomor telepon rumahnya; hingga menemui mantan pengacara James McCord, Harlan A. Westrell. Dari situlah daftar narasumber mengembang.

Secara bertahap, profil James McCord didapat: penduduk asli Texas Panhandle; sangat religius, aktif di First Baptist Church of Washington; ayah dari kadet Akademi Angkatan Udara; mantan agen FBI; cadangan militer; mantan kepala keamanan fisik untuk CIA; guru kursus keamanan di Montgomery Junior College; sangat teliti; pendiam; dapat diandalkan.

Empat narasumber menggambarkan McCord sebagai "loyalis pemerintah" yang sempurna. Tentu enggan bertindak atas prakarsanya sendiri, menghormati rantai komando, tanpa bertanya dalam mengikuti perintah. Daftar narasumber makin rumit ketika petugas personalia tempat McCord bekerja memberi 15 nama untuk dihubungi.

Di sisi lain, dua reporter tadi menghubungi mantan pejabat pemerintahan Nixon dan pejabat Gedung Putih. Hanya mengajak mereka berdiskusi tanpa direkam. Dia juga mencari tahu dari orang-orang yang direkrut sebagai spesialis dalam taktik kampanye Nixon yang bekerja untuk mencegah Partai Demokrat mencuri suara dalam pemilihan presiden.

Mereka menelusuri surat-surat, barang bukti, perusahaan tempat orang bekerja, petugas perpustakaan, dan yang paling penting: daftar transaksi keuangan.

***

"Lain kali bekerjalah lebih keras untuk menggali informasi," kata Bradlee usai tak mengizinkan naskah Woodward dan Bernstein masuk halaman utama. Benjamin C. Bradlee adalah editor eksekutif The Post yang selalu berbicara dengan kaki direntangkan di meja kerja. Dia tak terkesan sama sekali dengan kinerja dua reporternya itu.

Nah, beberapa hari setelahnya, kisah Watergate terhenti. The Post bekerja seperti kebanyakan media lain: fokus pada euforia menjelang Pilpres. Dalam penelitian Louis W. Liebovich, profesor di Universitas Illinois, rentang enam bulan semenjak pembobolan Watergate, The Post telah menayangkan 200 artikel tentang skandal itu.

Jumlah ini lebih dua kali lipat dari yang ada di New York Times. Hanya The Post yang menuturkan secara runut dengan strategi investigasi.

Menariknya, Woodward kembali membuka komunikasi dengan seseorang yang bekerja di Gedung Putih. Dia berjanji tak akan membuka identitas narasumber anonim itu. Tujuannya bukan untuk mencari kutipan, tapi rekan diskusi yang intens untuk menambah perspektif. Istilah lain untuk sumber seperti itu adalah; whistle blower!

Seorang redaktur The Post menamakan sumber anonim itu sebagai “Deep Throat”. Julukan itu diambil dari judul film porno populer yang disutradarai Gerard Damiano. "Saya tidak suka koran," kata Deep Throat, datar.

Dia membenci berita yang dangkal. Dia memiliki akses ke informasi dari Gedung Putih, pengadilan, FBI, dan komite untuk pemilihan ulang Presiden Nixon. Woodward menganggapnya sebagai guru yang tak sok tahu, tapi memihak pada kebenaran.

Ternyata, ada pencucian uang melalui rekening bank di Kanada yang dilakukan John N Mitchel. Bradlee pun meminta Bernstein melakukan konfirmasi pada narasumbernya.

Bernstein menghubungi John N. Mitchel. Bernstein langsung menuding: John N Mitchel mengontrol dana rahasia untuk menyadap Partai Demokrat saat menjabat Jaksa Agung Amerika Serikat. Tentu tudingan itu dibantah sekaligus membuat berita menjadi berimbang.

Beberapa hari setelahnya, Bradlee kembali membuka ruang sidang kecil untuk dua reporternya. Dia tak percaya dua reporternya mendapati Harry Robbins Haldeman, Kepala staf Gedung Putih Nixon, sebagai salah satu orang yang mengendalikan dana kampanye untuk spionase dan sabotase politik. Bradlee tegas tak akan menerbitkan temuan itu karena sumber tak relevan.

Woodward dan Bernstein hanya punya waktu 20 menit untuk meyakinkan Bradlee agar temuan itu dimuat dalam koran besok harinya. Bernstein kemudian menghubungi seorang pengacara di Departemen Kehakiman, untuk menjadi narasumber keempat terkait tudingan pada Haldeman.

Bernstein membuat kesepakatan, jika sampai hitungan sepuluh pengacara itu tak menutup telepon, berarti tudingannya pada Haldeman benar. "Anda sudah mengerti sekarang?" tutur pengacara itu usai hitungan kesepuluh.

Itulah sumber emas yang membuat naskah berita menjadi solid. Bradlee meloloskan naskah itu untuk dimuat dengan ekspresi naturalnya yang datar. Begitupun, semua itu bukan tanpa resiko. The Post sempat dikucilkan sebagai media cetak “sampah”.

Tak hanya itu Ronald Louis Ziegler, Sekretaris Pers Gedung Putih dan Asisten Presiden, membantah tudingan The Post soal Heldeman. Dia menjadi perwakilan pemerintah pertama yang memberikan intimidasi. Ziegler melumpuhkan kredibilitas The Post dengan menyatakan media itu bergerak dalam jurnalisme berlandaskan desas-desus dari narasumber anonim.

"Saya menghormati pers yang bebas. Saya tidak menghormati jenis jurnalisme keji yang dipraktikkan Washington Post," kata Louis Ziegler. Dia juga mengumbar kedekatan Bradlee dengan Kennedy dan menyatakan seluruh isi The Post adalah anti-Nixon.

Film All The President's Man (1976) yang disutradarai Alan J. Pakula—Bredlee berkata; dari jajak pendapat terbaru Gallup, setengah penduduk Amerika tak pernah mendengar kata Watergate. "Tak seorang pun peduli". Satu-satunya yang mendukung mereka adalah amandemen pertama konstitusi terkait kebebasan pers.

Hari-hari setelah itu, secara beruntun sejak 11 Januari 1973, satu per satu orang-orang suruhan Nixon terbukti telah melakukan penggalangan dana dan strategi pemenangan ilegal.

Louis Ziegler meminta maaf kepada The Post seminggu sebelum media itu mendapat penghargaan Pulitzer. John N Mitchel, Haldeman, James McCord, beserta lebih dari 30 orang lainnya divonis penjara.

Tanggal 8 Agustus 1974, saat perwakilan seluruh negara bagian berarak menuju pemakzulan, Nixon mengancam akan menjatuhkan nuklir di Capitol Hill jika didakwa sebagai dalang Skandal Watergate. Nixon kemudian buru-buru mengumumkan pengunduran dirinya. Gerald Ford menggantikannya menjadi Presiden ke-38 Amerika Serikat.

Lantas, siapa Deep Throat si sumber anonim itu? Akhirnya terbongkar juga pada Juli 2005. John D. O'Connor, pengacara di San Francisco, menulis untuk Vanity Fair tentang seorang bernama Mark Felt yang mengaku sebagai Deep Throat.

Woodward dan Bernstein kaget karena mereka berdua berjanji tak akan membuka suara sampai Mark Felt mati. Padahal kebocoran informasi itu berawal dari anak Carl Bernstein, Jacob Bernstein.

Deep Throat ternyata mantan pejabat nomor dua di FBI. Pada 19 Desember 2008, Mark Felt meninggal di usia 95 tahun. “Anda lihat bahwa Felt atau Deep Throat secara luas mengkonfirmasi informasi yang kami dapatkan dari sumber lain,” kata Carl Bernstein kepada reporter The Post, David Von Drehle.

***

Skandal Watergate adalah nyata bukan fiksi. Itu sebabnya, kisah ini menjadi pelajaran penting bagi jurnalis tentang liputan mendalam (indept) dan investigasi.

Setiap jurnalis “wajib” menonton film berdurasi tiga jam tanpa adegan kekerasan dan bumbu seks ini, sehingga nyaris membuat bosan atau membaca dalam versi cetak (buku) yang tebal dan membuat mata nyaris perih.

Karena itulah, walau tak sama persis, tapi kisah atau skandal Watergate tadi mengingatkan saya pada cerita penyaluran kredit Rp83 miliar dari PT. Bank Aceh Syariah (BAS) kepada pengusaha Aceh, Makmur Budiman yang hingga kini masih jadi buah bibir.

Syahdan, medio Juli 2019, satu rekaman menyebut adanya penyaluran dana tersebut dan beredar luas di masyarakat, termasuk jurnalis media ini. Diduga, narasumber dari rekaman tadi juga seorang sosok Pengurus Kadin Aceh.

Seperti halnya kisah skandal Watergate, rekaman itu hanya memberi petunjuk awal tentang bagaimana proses pencairan kredit itu berlangsung dan terjadi.

Bahkan, si nara sumber dalam rekaman 2 menit, 45 detik itu menduga, ada campur tangan penguasa untuk memuluskan fulus dari bank plat merah ini kepada pengusaha tadi.

Namun, alih alih melakukan reportase atau investigasi tentang kebenaran dari isi rekaman itu. Sejumlah media meanstream  dan jurnalis di Aceh justru tak tergoda untuk melacaknya secara lebih dalam atau indept.

Seiring bergulirnya waktu, sejalan beredar kabar tentang dimulainya penyelidikan di Polda Aceh. Isi rekaman 2 menit, 45 detik ini pun kembali menjadi “seksi”. Media daring memburu dan menulisnya dengan sejumlah nara sumber yang ada.

Ibarat memancing “ular” keluar dari sarang. Pelan tapi pasti, satu per satu, dalil dan fakta muncul ke permukaan. Mulai dari jumlah kredit hingga proses yang terjadi.

Ada yang menyebut, Rp108 miliar, Rp98 miliar, Rp68 miliar. Terakhir menurut Dirut Bank Aceh Syariah, Haizir Sulaiman, Rp83 miliar. Ironisnya, entah sengaja atau kebetulan, sumber utama dari rekaman tadi justru terpinggirkan alias luput dari perhatian.

Bisa jadi, narasumber dalam rekaman itu, memiliki kaitan atau tali temali dengan proses suksesi kursi Ketua Kadin Aceh beberapa waktu lalu. Sebab, banyak sumber menyebut; tiket Makmur Budiman menuju kursi Ketua Kadin Aceh 2019, tak lepas dari peran narasumber dalam rekaman misteri ini. Entahlah!***

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!
Rubrik

Komentar

Loading...