Breaking News

Festival Budaya Bukan Solusi Atasi Banjir Langsa

Festival Budaya Bukan Solusi Atasi Banjir Langsa

Langsa | Habis banjir terbitlah hiburan. Mungkin, kalimat itu tak pantas disematkan saat mensikapi kondisi yang kini terjadi di Kota Langsa. Bisa jadi, semua itu serba kebetulan.

Maklum,  sejak Senin, 11 November 2019 lalu, Kota Langsakembali dilanda banjir, khususnya di beberapa desa, Kecamatan Langsa Kota dan Langsa Lama, setelah diguyur hujan lebat.

Akibatnya, ratusan rumah warga seperti Pondok Kemuning, Seulalah Baru dan Gampong Jawa, Lengkong, Sidodadi, Karang Anyer, dilanda banjir, akibat meluapnya daerah aliran sungai Krueng Langsa, dan ketinggian air mencapai 1 meter lebih.

Kota Langsa memiliki Daerah Aliran Sungai (DAS), kawasan yang sering banjir juga meliputi Desa Sidodadi dan Sidorja, sebagian lainnya yakni desa yang berbatasan dengan sungai di kawasan kota itu.

Dari sejumlah fakta dan data menyebutkan, warga Langsa telah mengalami banjir lebih dari sepuluh tahun atau sejak Walikota Langsa dijabat Zulkifli Zainon. Ironisnya,  kondisi itu masih bertahan  sampai saat ini ketika dijabat Usman Abdullah (Toke Suum) dan Marzuki Hamid selama dua periode.

Itu sebabnya, banyak pihak berharap agar Kota Langsa tidak lagi menjadi langganan banjir. Seorang warga Sidodadi, Junaidi kepada media ini menuturkan. Sebenarnya, bukan tidak ada anggaran Pemko Langsa untuk mengatasi banjir.

Namun, setiap kali ada alokasi anggaran yang sediakan, masih sekedar pekerjaan mengatasi tanggul, dan tanpa dibarengi pengerjaan yang maksimal seperti pengerokan sungai dari hulu ke hilir.

"Sebagai warga Gampong Sidodadi saya berharap kepada pemerintah dan anggota DPRK Kota Langsa,  agar lebih melihat sungai Langsa, karena apa bila curah hujan terlalu tinggi seperti Minggu kemarin, maka mengalami banjir," kata Junaidi.

Akibatnya, ada berapa gampong di Kota Langsa terendam banjir. Tragisnya, kondisi ini seperti "dibiarkan" begitu saja. Padahal, hampir setiap tahun ada anggaran, tapi dikerjakan kurang maksimal," sebut Junaidi Burak, yang turut diamini Sukma M. Taher kepada MODUSACEH.CO, Senin (18/11/2019) malam.

Bebas dari banjir, tentu menjadi harapan bagi banyak pihak di Kota Langsa. Bukan hanya hiburan serta pencitraan semata. Maklum, terbebas dari terpaan bencana banjir seperti harapan Junaidi, sudah lama diinginkan masyarakat Kota Langsa.

Nah, data yang diperoleh MODUSACEH.CO menyebutkan; Anggaran Pendapatan Belanja Kota (APBK) Langsa untuk tahun 2018, Rp 681.844.337.665. Sedangkan pendapatan APBK-Perubahan Tahun 2017, Rp 1.024.868.402.938. Terjadi penurunan dari tahun sebelumnya sebesar, Rp 343.024.065.273.

Dirincikan, untuk belanja daerah pada tahun anggaran 2018 (Rp 685.403.982.427). Terjadi defisit anggaran sebelum pembiayaan daerah, Rp 559.644.762. Namun defisit tersebut tertutupi dari penerimaan pembiayaan daerah, yaitu Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa) Rp 559.644.762.

Kondisi ini disampaikan Wali Kota Langsa, Usman Abdullah, saat pengesahan anggaran dalam rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRK Burhansyah SH, didampingi dua wakilnya, HT Hidayat dan Faisal AMd, anggota dan sejumlah kepala SKPK, Kamis (30/11/2017) lalu.

Sedangkan untuk pengesahan anggaran tahun berikutnya baru dijadwalkan setelah terbentuknya Alat Kelengkapan Dewan (AKD) hasil Pileg 2019 lalu.

Menariknya, saat ini Pemko Langsa justeru sedang tancap gas (ngebut), membangun sarana hiburan dan objek wisata di kawasan ini.Termasuk mengalokasi anggaran untuk taman-taman dan objek wisata alam seperti Hutan Manggrove dan Taman Hutan Kota.

Selera Toke Suum terhadap seni boleh sebut; makyus! Bayangkan, ada festival seni budaya, yang kerap digelar sebagai ajang mencari bakat bagi putra-putri di kota ini.

Sayangnya, proyek pagelaran seni yang dibungkus dengan tema; 'Festival Budaya Pesona Pesisir Timur Aceh 2019' ini, memang agak bersamaan dengan datangnya bencana banjir, yang kembali melanda kawasan itu pada pekan terakhir.

Festival  itu dibuka Wakil Wali Kota Langsa, Dr. H Marzuki Hamid, MM, turut dihadiri Kabid Bidang Sejarah Dan Nilai Budaya Disbudpar Aceh Dra. Irmayani, Setdakot Langsa H Syahrul Thayib, SH, MAP, DPRK Langsa, Unsur Forkopimda, Pimpinan OPD, Camat, dan Geuchik dalam wilayah Kota Langsa.

Lokasi yang dipilih yaitu, Lapangan Merdeka Kota Langsa, Jumat hingga Minggu malam lalu.  Itu sebabnya, sejumlah pihak menilai. Pelaksanaan festival yang digelar bersamaan bencana banjir tadi, sungguh tidak tepat, dan justru dapat melukai hati masyarakat.

Seorang pemerhati masalah sosial di Kota Langsa, Popon sapaan akrab Teuku Fadli menuturkan. Kondisi bencana banjir saat ini, sungguh tak pantas bagi Pemko Langsa untuk bersenang-senang dengan mengelar festival seni.

"Kami dari masyarakat menilai, satu pergeleran yang di suplay dananya dari wewan sangat melukai hati masyarakat yang saat ini dalam kondisi bencana banjir. Alangkah naifnya, mereka bersenang-senang dengan kondisi seperti ini," ujar Teuku Fadli, Senin (18/11/2019), malam.

Apa yang disampaikan Teuku Fadli tentu mengarah pada kebijakan anggaran yang dianggap tidak pro pada kebutuhan mendesak warga. Diduga, proyek itu sengaja diciptakan melalui usulan anggota DPRA, agar menjadi prioritas di Kota Langsa.

Harusnya sebut Popon, program aspirasi (Pokir) tadilebih diprioritaskan kepada kebutuhan warga, agar tidak lagi mengalami bencana banjir. Misal, anggaran untuk penanganan kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang belum tuntas dari banjir.

"Pagelaran Festival Budaya bukan solusi atasi bencana banjir Kota Langsa," kritik  Teuku Fadli.
 
Pendapat Popon bukan tanpa sebab. Karena proyek pagelaran Festival Budaya Pesona Pesisir Timur Aceh ini, anggaranya bersumber dari APBA, yang diplotkan melalui dana aspirasi anggota DPRA tahun 2018, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh.

Informasi ini dibenarkan Yana Ayudia, Event Organizer (EO) atau pelaksana Festival Budaya Pesona Pantai Timur 2019 yang dihubungi media ini. Kata dia, kegiatan tersebut harus diusulkan terlebih dahulu.

Nah, setelah diterima pada tahap awal, baru dibuatkan konsep dan ditawarkan kembali untuk mendapatkan alokasi anggaran dari provinsi. Namun, Yana enggan menjawab kepada media ini, berapa anggaran yang digelontor untuk event tersebut.

"Kalau Rp 1 atau 2 miliar cukuplah, kalau menyangkut itu nanti saja dibahas hehehe.Yang penting konsepnya dulu seperti apa agar nanti bisa diajukan juga untuk Aceh Timur. Banyak bisa ditawarkan, ya melalui anggota DPRA Dapil Aceh Timur serta Kota Langsa dan Aceh Tamiang.  Yang penting kita duduk dulu," saran Yana Ayudia saat dihubungi MODUSACEH.CO. Senin (18/11/2019) malam.

Masih kata EO ini, dalam kegiatan itu ada Festival Budaya Langsa, ada Carnaval Parade Budaya Kota Langsa, Festival Kuliner, lomba Kebudayaan bagi pelajar dan Langsa Fashion Culture (busana adat). Ada juga persentase kebudayaan, lomba lukis imajinasi Langsa di masa depan.

Tambahnya, ada lomba permainan budaya tradisi seperti laga klatak atau rambung, congklak, engklek, patok lele, bakiak dan engrang, lomba video sinematik, sinema phonegrafi tingkat SMU, lomba masak mie Aceh, menghias buah dan decore cake serta lain-lain.

"Total hadiah keseluruhan lomba Rp 70 juta lebihnya," jawab Yana Ayudia. Sedangkan keseluruhannya Yana tak menyebutkan, karena selain untuk hadiah, ada biaya untuk sewa panggung, dekorasi, makan panitia, dewan juri dan lain-lain.

Begitupun terkait nama anggota DPRA dari Dapil Langsa dan Aceh Tamiang yang mengusulkan kegiatan itu, EO juga memilih 'tutup mulut' dan sepertinya memang dirahasiakan.

Soal kegiatan yang digelar saat Kota Langsa dilanda banjir, menurutnya hal itu memang diluar dugaan dan hanya kebetulan saja.

"Ada ibu-ibu yang lomba dan saat ikut acara jalan depan rumahnya banjir. Akhirnya kegiatan itu tidak dapat digeser, karena sudah ada jadwalnya untuk dilaksanakan," jelas Yana.***

Komentar

Loading...