Breaking News

FBI Disebut Pernah Menyusup di Masjid AS

FBI Disebut Pernah Menyusup di Masjid AS
Dearborn Mosque, masjid tertua kedua di Amerika. (Foto: brilio.net)
Penulis
Rubrik
Sumber
cnnindonesia.com

Jakarta | Mahkamah Agung Amerika Serikat akan mempertimbangkan laporan tiga laki-laki muslim di California yang mengaku diawasi Biro Investigasi Federal (FBI) di masjid hanya karena agamanya setelah serangan 11 September 2011 lalu.

Ketiga laki-laki itu yakni, Imam Yayasan Islam Orange County, Yassir Fazaga, serta Ali Uddin Malik dan Yasser Abdelrahim.

Mereka mengatakan FBI mengirim informan terpercaya ke sejumlah masjid di wilayah itu pada tahun 2006 dan 2007.

Menurutnya, informan itu diperintah untuk berpura-pura mengaku menjadi mualaf agar bisa mengumpulkan informasi.

"FBI mempekerjakan informan bayaran yang memiliki rekam jejak kriminal sebelumnya untuk menyusup ke masjid-masjid ini," kata pengacara kelompok hak sipil ACLU yang juga menjadi pembela ketiga laki-laki itu, Ahilan Arulanantham, seperti dikutip AFP, Senin (8/11/2021).

Informan itu, lanjutnya, menceritakan kepada semua orang bahwa dirinya mualaf dan ingin menemukan kembali jati dirinya sebagai keturunan Prancis-Aljazair.

"Dia kemudian diperintah FBI untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang orang di komunitas ini, nomor telepon, alamat email, percakapan yang diam-diam direkam," terang Arulanantham.

Menurut ACLU, informan merekam kelompok dzikir di dalam masjid, meninggalkan alat perekam tersembunyi di mobilnya dan diam-diam membuat video di masjid, rumah dan tempat bisnis.

"Mulai, sekali lagi atas nama petugas FBI-nya, mencoba menghasut kekerasan, tetapi dia menakuti banyak orang. Saat dia berbicara soal hal-hal seperti pengeboman, Jihad dan perang di Irak dan Afghanistan (dan) mereka melaporkannya ke FBI," kata Arulanantham.

Dia juga mengatakan informan menjadi tak puas dengan penjelasan penanganan FBI dan memutuskan untuk menceritakan semua pengalamannya ke publik.

Imam itu dan dua jamaahnya kemudian melaporkan FBI karena memata-matai mereka yang melanggar hukum federal dan hak konstitusional.

Sementara itu, Departemen Kehakiman mengklaim mereka meluncurkan program pengawasan untuk alasan obyektif, bukan karena yang diawasi adalah muslim AS. Alasan itu digunakan untuk meminta pengadilan menolak laporan tersebut saat itu.

Pengadilan Tinggi California menolak klaim penggugat dan menerima argumen FBI bahwa rahasia negara berisiko terungkap.

Namun, Pengadilan Banding Ninth Circuit AS tidak setuju. Mereka menyatakan pengadilan yang lebih rendah seharusnya menggelar sidang tertutup untuk meninjau bukti rahasia.

FBI mengajukan banding atas keputusan itu dan pengadilan tinggi AS setuju untuk menggelar kasus tersebut.

Hal itu akan memutuskan apakah pengadilan distrik dapat mempertimbangkan bukti rahasia dalam menentukan sah atau tidaknya pengawasan rahasia menurut hukum.

Kasus itu bagi Arulanantham sangat penting. Karena pertanyaannya adalah apakah pemerintah dapat dengan mudah meminta rahasia negara untuk membatalkan tantangan apa pun terhadap program pengawasannya.

"(bahkan) klaim yang sangat serius, yang didukung dengan baik oleh deklarasi dari diskriminasi agama," katanya.

Pengadilan yang menangani Kasus Biro Investigasi Federal versus Fazaga, diperkirakan akan memberikan keputusannya pada Juni 2022.***

Komentar

Loading...