Breaking News

Karena Faktor Keamanan dan Over Kapasitas

Enam Terpidana Mati dan Seumur Hidup LP Lhokseumawe Dipindahkan

Enam Terpidana Mati dan Seumur Hidup LP Lhokseumawe Dipindahkan
Kalapas Lhokseumawe Nawawi (Foto: Din Pasee)

Lhokseumawe | Karena faktor keamanan dan Lapas Klas II A Kota Lhokseumawe sudah over kapasitas, ada enam terpidana hukuman mati dan seumur hidup terpaksa dipindahkan ke Kota Medan, Sumatera Utara dan Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kota Lhokseumawe, Nawawi mengatakan. Alasannya, beberapa waktu lalu tanpa menyebut tanggal, pihaknya telah memindahkan enam terpidana mati dan seumur hidup ke Kota Medan dan Banda Aceh.  Keenam terpidana itu terjerat dalam kasus narkotika.

Menurut Nawawi, keputusan itu terpaksa dilakukan pihaknya, untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan dalam penjara, selain faktor keamanan dan over kapasitas di Lapas Kelas IIA Lhokseumawe.

Keenam napi yang dipindahlan itu adalah, Muhammad Arazi Ibnu Sakdan (27). Hamdan Syukranilillah bin Ibnu Sakdan(25), dan Irwandi bin Ahmadi (28). Ketiganya merupakan warga Desa Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, dan terpidana seumur hidup karena terlibat kasus narkotika.

“Ketiga terpidana seumur hidup dari Desa Ujong Blang ini kita pindahkan ke Lapas Kelas IIA Banda Aceh, tanggal 15 Januari 2020,” terangnya.

Selanjutnya, terpidana seumur hidup karena kasus narkotika atas nama Zahari bin Hasan Husen (41), warga Desa Geulumpang Bungkok, Kecamatan Baktya, Kabupaten Aceh Utara, tanggal 18 Januari 2020 dipindahkan ke Lapas Kelas I Medan, Sumatera Utara.

Berikutnya, terpidana mati atas nama Ibnu Idris bin Idris (40), terlibat kasus narkotika. Dia merupakan warga Desa Ulee Rubeik Barat, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, telah dipindahkan dari Lapas Kelas IIA Lhokseumawe ke Lapas Kelas I Medan, Sumatera Utara, tanggal 18 November 2019.

Terakhir, terpidana mati atas nama Ibnu Sahar alias Bin Ibnu Sakdan (36), warga Desa Runtoh, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, pada tanggal 15 Januari 2020 telah dipindahkan ke Lapas Kelas IIA Banda Aceh.

“Mereka kita pindahkan lebih karena aspek keamanan. Ada kekhawatiran kami akan terjadi gangguan keamanan maka harus diantisipasi secepatnya dengan cara memindahkan mereka ke Lapas yang lain baik yaitu Banda Aceh maupun ke Medan, Sumatera Utara,” ungkap dia.

Nawawi juga mengaku, pihaknya baru usai melaksanakan kegiatan media gathering secara nasional tanggal 27 Februari 2020. Kegiatan itu dalam rangka mewujudkan resolusi pemasyarakatan yang dipandang perlu adanya peningkatan sinergi dan kolaborasi antara jajaran pemasyarakatan dengan awak media dan stakeholder lainnya.

“Kegiatan media gathering ini dilaksanakan terpusat pada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dan pada masing-masing UPT Pemasyarakatan secara serentak melalui telecomference. Seluruh UPT pemasyarakatan diwajibkan mengundang teman-teman media apakah itu elektronik, cetak, media online TV maupun radio dan stakeholder setempat. Alhamdulillah ini sudah berhasil kita laksanakan waktu itu dan semua berjalan dengan baik dan lancar,” jelasnya.***

Komentar

Loading...