Empat Pelaku Pelecehan Seksual dan Rudapaksa, Dicambuk di Halaman Kajari Lhoksukon

Empat Pelaku Pelecehan Seksual dan Rudapaksa, Dicambuk di Halaman Kajari Lhoksukon
Salah satu dari empat pelaku pelecehan seksual menjalani hukuman cambuk diatas panggung terbuka di Halaman Kantor Kejaksaan Negeri Lhoksukon Kabupaten Aceh Utara, Selasa (15/9).

Lhoksukon | Empat pria, pelaku kasus pelecehan seksual dan rudapaksa, Rabu, 16 September 2020,  menjalani hukuman cambuk dengan jumlah bervariasi.

Ini sesuai takaran perbuatannya yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Eksekusi berlangsung di halaman Kantor Kejaksaan Negeri Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara.

Meski berlangsung di atas panggung terbuka sekira pukul 10.30 WIB, tidak banyak warga yang menyaksikan proses implentasi hukum Syariat Islam ini.

Suasananya terasa berbeda, karena kehadiran Wakil Bupati Aceh Utara Fauzi Yusuf alias Dompeng. Dia ikut menyaksikan langsung proses pelaksanaan hukum cambuk hingga tuntas.

Terpidana yang dicambuk adalah, Riki Aulia (21) warga Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Jufriyadi (18) warga Kecamatan Meurah Mulia, Juanda (25) warga Kecamatan Baktiya dan Zulfahmi (20) warga Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara.

Pantauan di lapangan, keempat terpidana secara bergiliran atau satu per satu digiring petugas untuk naik ke panggung yang sudah disiapkan.

Riki Aulia mendapat giliran pertama dicambuk 105 kali dari seharusnya 110 kali. Karena pria tersebut sudah menjalani hukuman kurungan selama 5 bulan, sehingga cambuk yang harus diterima terpidana 105 kali. Sedangkan Jufriadi selain dicambuk 100 kali juga harus menjalani hukuman 10 bulan penjara.

Berikutnya, Juanda dicambuk 75 kali dari seharusnya 90 kali. Karena terpidana tersebut sudah menjalani hukuman penjara selama 15 bulan.

Sedangkan Zulfahmi dicambuk 25 kali dari putusan 30 kali. Karena terpidana juga sudah menjalani hukuman selama lima bulan.

Kepala Kejaksan Negeri Aceh Utara Pipuk Firman Priyadi MH mengatakan. Keempat pelaku itu mendapatkan hukuman cambuk dalam jumlah yang berbeda-beda tergantung dari perbuatannya.

“Mereka terlibat kasus pelecehan dan perzinaan,” ujarnya.

Kajari mengaku, dirinya merasa salut terhadap salah satu diantara pelaku yang tadinya sempat hadir dalam waktu terlambat. Karena semula pihak jaksa mengira pelaku telah melarikan diri setelah petugas melakukan pencarian.

Tetapi dugaan itu ternyata salah, lantaran sang pelaku justru bersikap kooperatif dan jujur hingga datang ke Kantor Kejaksaan tanpa perlu dijemput.

Disebutkan, selama pandemic Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Kejari Aceh Utara sudah mengadakan tiga kali cambuk dengan pengawalan dari Polres Aceh Utara serta Personel Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Aceh Utara.

Wakil Bupati Aceh Utara Fauzi Yusuf alias Dompeng mengatakan,  pihaknya akan terus mendukung penerapan hukuman cambuk sesuai syariah Islam.

Karena dengan adanya hukuman cambuk ditempat umum dan terbuka, tentu akan memberi efek jera kepada pelaku dan juga pelajaran bagi masyarakat lain agar tidak melakukan kesalahan atau pelanggaran tersebut.

Wabup juga menegaskan, penerapan syariat Islam tidak hanya berlaku di pusat ibukota, tapi juga akan diimplementasikan sampai ke tingkat desa serta mendorong calon generasi masa depan Aceh untuk menuntut ilmu Agama Islam di dayah atau pesantren.

Wabup berharao masyarakat Aceh benar-benar menjadikan moment hukuman cambuk sebagai efek jera yang paling efektif yang dipadukan dengan hukum pidana yang berlaku.***

Komentar

Loading...