Breaking News

Eeh, Saya Jadi Ingat Bang Wandi!

Eeh, Saya Jadi Ingat Bang Wandi!
Irwandi Yusuf (Foto: Aceh Online)
Rubrik

Tak ada lagi puja dan puji serta kisah heroik sebagai propaganda GAM. Cerita tentang ketangkasan menerbangkan Shark Aero; Hanakaru Hokagata (Eagle One). Hikayat asmara bersama Stefy dan kasus korupsi. Pelan tapi pasti, semua “tenggelam” bersama waktu. Irwandi sendiri menghitung hari.

SABTU, 6 Juli 2019  pagi, untuk beberapa saat, saya sempat ngopi sendiri di Meja 87, Warung Kopi Solong Ule Kareng, Kota Banda Aceh.

Matahari bergerak tinggi, hawa panas mulai menyinari kota ini. Saya coba menghitung hari, merenung jejak kaki, karena tersurat lahir tanggal 10 Juli.

Rupanya sudah tua aku ini. Usia pun masuk “kepala lima”, tentu tak muda lagi.

Entah mengapa, tiba-tiba saya jadi ingat  Bang Wandi (Irwandi Yusuf), Gubernur Aceh nonaktif yang penuh kisi dan relatif misteri.

Antara saya dan dia memang pernah berbeda, sempat dekat, lalu berbeda haluan lagi.

Jika mengenang kisah tadi, saya tersenyum sendiri, cerita kami bolehlah disebut mirip: Tom and Jerry!

Untuk menghibur diri, saya buka youtube di android yang saya miliki.

Saya nikmati lirik: July, July, July, July   yang dilantunkan  Paul Williams  atau  Billy Paul, seorang penyanyi kulit hitam, bergaya genre: Soul, R&B dan Jazz.

Dia kelahiran 1 Desember 1934 di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat. Tempat Bang Wandi pernah menuntut ilmu dan melarikan diri.

July, July, July, July (Juli, Juli, Juli, Juli).

Oh me, oh me, oh me, oh my (Oh saya, oh saya, oh saya, oh saya).

July, July, July, July (Juli, Juli, Juli, Juli).

Oh me, oh me, oh me, oh my (Oh saya, oh saya, oh saya, oh saya).

I never thought the day would come (Saya tidak pernah berpikir hari akan tiba). 

When I would be so sure (Kapan aku akan sangat yakin). 

Of who I am and exactly where I'm going (Dari siapa saya dan ke mana saya pergi?)

I never thought the day would come (Saya tidak pernah berpikir hari akan tiba).

When I'd be knowing truth like I'm knowing (Saat aku tahu kebenaran seperti aku tahu). 

Lucky, lucky me (Beruntung, untung aku). I'm as happy as I can be (Saya bahagia seperti saya).

But I was able to find that right road (Tapi aku bisa menemukan jalan yang benar). 

That makes me be on time (Itu membuat saya tepat waktu). 'Cause I feel like I was just born, just born, just born again (Karena aku merasa seperti baru saja lahir, baru lahir, baru lahir lagi)  dan seterusnya.

***

Tiba-tiba saya ingat Bang Wandi. Setidaknya, pernah saya bawa dia ngopi di Meja 87 yang penuh misteri. Mulai dari pengusaha yang tak dapat proyek hingga nasib caleg yang gagal alias tak jadi.

Ya, karena bulan Juli hari keberuntungan, sekaligus tragedi untuk Bang Wandi.

Tentu belum lupa dari ingatan. Dia dilantik menjadi orang nomor satu Aceh bersama Nova Iriansyah (Wakil Gubernur Aceh), 5 Juli 2017.

Tragisnya, dia pun meninggalkan kursi empuk itu, dua hari (3 Juli 2018), jelang setahun kepemimpinan keduanya sebagai Gubernur Aceh.

Dan, 5 Juli 2019, genap dua tahun singgasana tadi dia tinggalkan, setelah dijerat OTT KPK hingga akhirnya divonis bersalah, Majelis Hakim Tipikor Jakarta.

Lepas, dari proses hukum yang kini coba dia raih kembali.

Itu sebabnya, sebagai rakyat biasa dan wartawan lokal. Saya pun tak melupakan berbagai janji (jika tak elok disebut sumpah serapah) yang pernah dia ucapkan kepada rakyat dan saya pribadi. 

“Mulai hari ini amanah itu saya pikul dan siap menjadi pelayan bagi seluruh rakyat Aceh, sekali lagi seluruh, dalam makna keseluruhan dan bukan sebagian, yang berarti adalah kewajiban bagi saya melayani tanpa mendahulukan kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, atau golongan”.

Itulah, diantara kata Irwandi, di hadapan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, saat melantiknya atas nama Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, pada Sidang Paripurna Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Jalan Tengku Daud Beureueh, Banda Aceh, Rabu, 5 Juli 2017.

Secara pribadi, dalam teks pidato setebal 15 halaman itu, Irwandi mengatakan. Sumpah dan pelantikan kedua kalinya sebagai orang nomor satu di Bumi Serambi Mekkah ini, merupakan kepercayaan dari rakyat Aceh, karena itu ia mengucapkan terimakasih kepada rakyat Aceh yang telah memberikan kepercayaan kembali padanya.

“Dengan kepercayaan yang sama kuatnya, saya haqul yakin bahwa bersama-sama kita akan membuat Aceh lebih baik, lebih sejahtera, lebih adil, bermartabat, dengan cahaya Islam yang memberi rahmat bagi semua,” katanya.

Ketika itu, Irwandi Yusuf berharap berhentilah saling menjelek-jelekkan, saling menepuk dada, saling menjatuhkan, dan semua perangai buruk yang hanya merusak persatuan masyarakat Aceh.

“Hari ini semua kita adalah Aceh, yang hidup dari tanah dan air yang sama, yang saling membagi mimpi dan harapan yang sama, menuju masyarakat Aceh yang maju, adil, beradab, dan sejahtera,” ujarnya.

Syahdan, tiga bulan kemudian atau Senin, 2 Oktober 2017, Irwandi pun mengingatkan seluruh jajaran pemerintahannya dan Bupati/Wali Kota, supaya bekerja sesuai aturan.

Dalam menjalankan tugas harus benar-benar bersih dari segala pelanggaran hukum. Termasuk tidak boleh sewenang-wenang untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok.

"Jangan sampai terjadi operasi tangkap tangan (OTT) KPK seperti di surat kabar. Ini saya ingatkan diri saya pribadi, serta seluruh Bupati/Wali Kota di Aceh," kata Irwandi saat melantik Bupati/Wakil Bupati Aceh Tenggara Periode 2017-2022, Raidin Pinim-Bukhari di Kutacane, Ibu Kota Kabupaten Aceh Tenggara.

Irwandi  mengaku sering membaca di media atau surat kabar bahwa ada bupati/wali kota terkena operasi tangkap tangan (OTT), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena melakukan suap atau korupsi uang negara di wilayah yang dipimpin mereka.

“Itu harus diwaspadai jangan sampai terjadi di Aceh,” tegasnya menginggatkan.

Irwandi juga mengajak supaya dalam melaksanakan pembangunan seperti proses tender proyek, menghindari mengambil fee dan nepotisme dari pengusaha atau rekanan.

Ia akan menerapkan mazhab hana fee (bahasa lokal = mazhab tidak ada fee). "Artinya, tidak ada fee proyek dan hindari nepotisme dengan pengusaha," katanya diberbagai tempat.

Namun, Irwandi berjanji, dia pula yang mengingkari. Bang Wandi "termakan" kata sendiri.

***

Kini, setelah dua tahun berlalu, entah kenapa saya ingat Bang Wandi.

Tentu, bukanlah waktu panjang bagi dia menjalankan kepemimpinan tadi.

Namun, tak singkat pula untuk menghitung hari-hari di ruang tahanan, tanpa ajudan dan  teman (katanya sejati) yang satu per satu pergi.

20190706-bw

Inilah nasib yang kini harus dijalani Bang Irwandi, sang Gubernur Aceh nonaktif yang sempat tersanjung dengan segudang puja-puji.

Dan nyaris membuat dia "terperosok" dengan tuduhan mengisi pundi-pundi. Walau dia mengaku tak melakukan perbuatan tak terpuji ini.

Antara kami memang sempat berbeda tajam, setajam silet! Termasuk kisah tentang sosok yang menusuknya dari belakang (tak usahlah saya ungkap di sini).

Sebagai teman dan sahabat yang pernah dekat. Saya harus akui berbagai terobosan yang dia lakukan, dan terus berusaha untuk melupakan kasus yang menerpanya, sambil berharap ada waktu untuk bisa bertemu dia kembali.

Eeh, entah kenapa saya jadi ingat Bang Wandi.

Jarum jam terus bergerak. Saya pun mulai larut dengan alunan syair: July, July, July, July (Juli, Juli, Juli, Juli).

Oh me, oh me, oh me, oh my (Oh saya, oh saya, oh saya, oh saya).

July, July, July, July ( Juli, Juli, Juli, Juli).

Oh me, oh me, oh me, oh my (Oh saya, oh saya, oh saya, oh saya).

Deep down inside I guess I knew (Jauh di lubuk hatiku kurasa aku tahu). 

That all I needed was some one (Yang saya butuhkan adalah seseorang). 

To come along to show me the way (Datanglah untuk menunjukkan jalannya).

I can't explain how much I got (Saya tidak bisa menjelaskan berapa banyak yang saya dapatkan). Out of all the things I hear you say (Dari semua hal yang saya dengar Anda katakan).

 Lucky, lucky me I was just born, just born, born again (Beruntung, untungnya aku baru lahir, baru lahir, terlahir kembali). 

July, July, July, July (Juli, Juli, Juli, Juli). Oh me, oh me, oh me, oh my (Oh saya, oh saya, oh saya, oh saya).

July, July, July, July (Juli, Juli, Juli, Juli). Oh me, oh me, oh me, oh my (Oh saya, oh saya, oh saya, oh saya).

January, February, March, April, May, June, then comes July (Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, kemudian datang bulan Juli).

That's when it all started, when it all started in July (Saat itulah semuanya dimulai, kapan semuanya dimulai pada bulan Juli). 

I was born, I was born, I was born, I was born, born again in July (Saya lahir, saya lahir, saya lahir, saya lahir, lahir kembali pada bulan Juli).

I found love was happenin', I found love was happenin' in July (Saya menemukan cinta sedang terjadi, saya menemukan cinta terjadi pada bulan Juli).

Our love sticks under the weather, our love stick under the weather in (Cinta kami bertahan di bawah cuaca, cintamu di bawah cuaca). 

July (Juli). I was able to pick the right road, I was able to pick the right road in (Saya bisa memilih jalan yang benar, saya dapat memilih jalan yang benar).

July (Juli). I knew exactly where I was goin', I knew exactly where I was goin' in (Aku tahu persis di mana aku pergi, aku tahu persis di mana aku masuk). July July, July!

Eeeh, tiba-tiba saya jadi teringat Bang Wandi!

Kini, tak ada lagi puja dan puji serta kisah heroik sebagai propaganda GAM. Cerita tentang ketangkasan menerbangkan Shark Aero; Hanakaru Hokagata (Eagle One). Hikayat asmara bersama Stefy dan kasus korupsi. Pelan tapi pasti, semua “tenggelam” bersama waktu. Irwandi sendiri menghitung hari.***

 

Komentar

Loading...