Dyah Erti Idawati, Istri Pertama Plt Gubernur Aceh Raih Penghargaan Perempuan Inspiratif

Dyah Erti Idawati, Istri Pertama Plt Gubernur Aceh Raih Penghargaan Perempuan Inspiratif
Dyah Erti Idawati menerima penghargaan dari UNICEF (Foto: Humas.acehprov.go.id)
Rubrik

Banda Aceh | Akhir November 2019 lalu, bisa jadi salah satu hari paling bahagia bagi Dyah Erti Idawati, istri pertama Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Betapa tidak, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Aceh ini menerima penghargaan dari UNICEF sebagai Perempuan Inspiratif yang mempunyai komitmen terhadap pemenuhan dan perlindungan hak anak.

Penghargaan itu diserahkan pada Malam Syukuran, Apresiasi, dan Silaturrahmi Untuk Para Pejuang Hak Anak di Hotel Hermes, Banda Aceh, Kamis, 28 November 2019.

Berbagai suka cita, dilanjutkan dengan ucapan selamat pun bergalir deras. Termasuk di sejumlah media pers cetak maupun siber lokal.

Apalagi, paska kurang aktifnya Darwati A. Gani, istri Gubernur Aceh nonaktif, Irwandi Yusuf, yang terjerat kasus korupsi 2018 lalu. Kiprah dan langkah Dyah Erti Idawati, memang semakin mulus menjadi fist lady (perempuan nomor satu) di Aceh.

Salut! Begitulah banyak orang kagum. Maklum, penghargaan itu diberikan atas komitmen besar dari Dyah dalam melakukan berbagai upaya pemenuhan hak anak di Aceh. Salah satunya adalah membebaskan anak Aceh dari stunting melalui program Rumoh Gizi Gampong (RGG).

Selain itu, Dyah yang juga akademisi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh ini, juga dinilai berperan aktif dalam melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap anak agar anak Aceh dapat hidup aman dan terlindungi dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.

“Alhamdulilllah, penghargaan ini akan menjadi semangat dan motivasi bagi saya untuk terus mengupayakan pemenuhan hak-hak anak di Aceh,” kata Dyah optimis.

Seperti diwartawkan laman humas.acehprov.go.id, Kamis, 28 November 2019 lalu. Selain itu, Pemerintah Aceh juga turut memperoleh penghargaan sebagai instansi Pemerintahan Provinsi yang memiliki komitmen kuat dalam mengedepankan pemenuhan hak anak-anak untuk mengatasi malnutrisi dan meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Hal itu terbukti dari launching Gerakan Anti Stunting (GENTING) yang sukses dilakukan pemerintah.

Termasuk Kota Sabang, Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Simeulue, Aceh Jaya, dan Forum Anak Tanah Rencong, juga turut menerima penghargaan yang diberikan oleh salah satu organisasi PBB tersebut sebagai kabupaten dan kota dan insan yang telah berjuang dan berdedikasi tinggi dalam upaya pemenuhan hak anak.

Plt Gubernur Aceh dalam sambutannya, dibacakan Staf Ahli pemerintah Aceh, Darmasnyah mengucapkan rasa terimakasih kepada Unicef dan semua pihak yang sudah menunjukkan kepeduliannya pada pemenuhan hak anak di Aceh.

Ia menyebutkan bahwa perlindungan anak adalah isu penting yang harus mendapat posisi dan porsi perhatian khusus, sebab anak adalah generasi yang akan meneruskan estafet bangsa di masa depan.

Perhatian terhadap perlindungan anak tersebut, kata Darmansyah, sudah dituangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945, yang menegaskan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, serta harus mendapat perlindungan dari kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi.

Di Aceh sendiri untuk mendukung penguatan perlidungan anak, sudah dibentuk regulasi lokal, yaitu Qanun Nomor 11 tahun 2008 tentang Perlindungan Anak dan Peraturan Gubernur Nomor 85 tahun 2015 tentang Komisi Perlindungan Anak di Aceh. Yang pada dasarnya kebijakan tersebut mewajibkan kepada semua kalangan untuk melindungi anak dari segala bentuk kekerasan.

Karena itu, dia menuturkan, kesempatan silaturrahmi tersebut menjadi momentum yang pas dalam memperkuat semangat kerja bersama untuk memberikan perlindungan kepada anak Aceh sehingga masa depan anak-anak semakin cerah.

Sekedar informasi, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah memiliki dua istri. Selain Dyah, juga ada Yuyun Arafah, yang dia nikahkan secara sah. Hanya saja, Yuyun nyaris tak tampil ke publik.

"Ya, Bu Yuyun hanya ikut memberi saran dan pendapat dalam kebijakan pengelolaan dana beasiswa dari Pemerintah Aceh," ungkap seorang sumber media ini di BPSDM Aceh, Sabtu kemarin.

Keduanya bergelut dalam dunia akademisi atau sama-sama menjadi dosen di Unsyiah. Saat ini, kabarnya Yuyun sedang menyelesaikan studi Strata 3 (S3) di Negeri Sakura, Jepang.

Sebelum terjun ke dunia politik (Partai Demokrat), Nova Iriansyah juga dosen Fakultas Teknik Unsyiah. Namun, status PNS itu dia tinggalkan, seiring dengan keberhasilannya menjadi anggota DPR RI dari Partai Demokrat pada periode 2009-2012.

Namun, dia sempat gagal sebagai calon Wakil Gubernur Aceh bersama Cagub Muhammad Nazar pada Pilkada   Aceh 2012 silam.

Sebaliknya, dewi fortuna akhirnya memihak pada dirinya. Bersama Irwandi Yusuf, dia berhasil memenangkan kontestasi Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh pada Pilkada 2017 lalu.

Kini, Pemerintah Aceh tunggal berada di tanganya, setelah Irwandi Yusuf terjerat kasus korupsi melalui OTT, KPK, 3 Juli 2018 lalu. Selamat!***

Komentar

Loading...