Ikut Gandeng Perusahaan Lokal

Duh! Tersangka KPK Pemenang Proyek Jembatan Teunom

Duh! Tersangka KPK Pemenang Proyek Jembatan Teunom
Tribunnews.com

Aceh Jaya | Proses penegakkan hukum, terkait haru biru dunia usaha, semakin lucu saja di negeri ini, tak kecuali Aceh. Bayangkan, walau direktur utamanya (dirut) telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Eeh, perusahaannya tetap saja jadi pemenang. Itu terjadi pada proyek jembatan Teunom, Kabuapaten Aceh Jaya, yang sumber dari APBN dengan total nilai Rp 80 miliar.

Nah, pemenangnya adalah PT. Mawatindo Road Construction yang dipimpin Hobby Siregar (dirut). Sementara, dua pekan sebelum pengumuman lelang itu dikeluarkan oleh Balai Jalan Nasional Wilayah I Aceh, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Hobby Siregar ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, tapi tidak ditahan, terkait proyek jalan di Bengkalis, Riau.

Bersama Hobby Siregar, KPK juga menjerat eks Kadis Pekerjaan Umum Bengkalis M. Nasir sebagai tersangka proyek pembangunan jalan. Ia disangka memperkaya diri bersama Direktur Utama PT Mawatindo Road Construction Hobby Siregar.

"Dalam penyidikan, ditetapkan 2 tersangka, yaitu MNS (M Nasir), Kadis PU Kabupaten Bengkalis tahun 2013-2015 selaku pejabat pembuat komitmen, dan yang kedua HOS (Hobby Siregar) Direktur Utama PT Mawatkindo Road Construction," ujar Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (11/8/2017) lalu.

Kasus ini terkait dengan peningkatan Jalan Batu Panjang, Kecamatan Nyirrih, Kabupaten Bengkalis, Riau, tahun anggaran 2013-2015. "Keduanya diduga melawan hukum memperkaya diri sendiri atau orang lain atau sebuah korporasi yang dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara. Dalam proyek peningkatan Jalan Batu Panjang, Pangkalan Nyiri, Kabupaten Bengkalis, Riau, tahun anggaran 2013-2015," ungkap Febri.

Dalam kasus ini, indikasi kerugian keuangan negara sekurang-kurangnya Rp 80 miliar. KPK menyangkakan kedua tersangka dengan Pasal 2 (1) UU No 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, sebagaimana telah diubah dengan UU 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Terkait proyek jembatan Teunom, PT Mawatkindo mengandeng perusahaan lokal sebagai mitra (GO) yaitu, PT Prapen. Proyek ini dibawah kendali Kepala Balai Aceh, Fatur dan  Amat Faisal (Kasatker Wilayah II) serta  Akbar Pokja atau ketua panitia.

Tender atau lelang proyek jembatan Teunom diikuti seratusan perusahaan lokal dan nasional. Namun, ada tujuh perusahaan yang diunggulkan yaitu, Mawatindo dengan harga penawaran Rp 78,6 miliar lebih. PT Adhi Karya (Persero) Rp 80,5 miliar. Sementara PT Tirta Dhea Addonics Pratama disebutkan tidak melampirkan pekerjaan Subkon2 serta melampirkan pekerjaan utama serta lainnya.

Lalu, ada PT. Multi Karya, dinyatakan daftar isian kualifikasi personil inti pada SPSE tidak lengkap dan alasan lainnya. PT. Daya Mulai Turangga dinyatakan, pekerjaan yang disubkonkan, merupakan pekerjaan utama (rel pengaman) serta alasan lainnya.

Sementara PT Dewanto Cipta Pratama tidak dinyatakan sebagai pemenang, karena beberapa daftar peralatan utama yang tertera pada surat perjanjian sewa tidak dapat dibuktikan. Terakhir, PT Sumbersari Cipta Marga. Perusahaan ini memasukkan harga penawaran Rp 74,6 miliar lebih. Namun, dinyatakan tidak bisa menghadirkan dan membuktikan SKA asli atas nama Ir. Nicolaus Bambang Wijarnako Bridge Engineer.

Saat dikonfirmasi MODUSACEH.CO Sabtu siang (30/9/2017), Kepala Balai Jalan Nasional Wilayah I Aceh, Faturrahman mengatakan. Semua proses pelelangan adalah Pokja, dibawah ULP. Katanya, kegiatan tersebut berada pada Satker PJN 2. Selain itu, dia mengaku prosesnya sudah melalui tahapan transparansi dan klarifikasi.

“Informasi yang kami dapatkan pada saat klarifikasi, direktur (Hobby Siregar) yang diundang hadir dan memberikan penjelasan pada Pokja. Walau telah ditetapkan sebagai tersangka, namun Hobby tidak ditahan. Mungkin, jika dia ditahan pasti akan kami batalkan,” ujar Fatur.

Begitupun, saat ditanya; bukankah Hobb Siregar, Direktur Utama PT Mawatkindo sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, dua pekan sebelum lelang diumumkan? Menurut  Fatur, itu memang benar, namun dia tak ditahan dan datang saat diundang. Selain itu, pihaknya juga mengantongi surat dari KPK yang menyebutkan bahwa Hobby Siregar tersangka tapi tidak ditahan. “Karena belum ada putusan tetap (ingkrah), kami tetap menganut azas praduga tak bersalah,” kata Fatur. Oh begitu?***

Komentar

Loading...