Menuju Kursi Rektor Unsyiah 2018-2022 (bagian dua)

Dr. dr. Syahrul, SpS (K) dan Tekad Seorang Nahdliyin Tingkatkan Kualitas Unsyiah

Dr. dr. Syahrul, SpS (K) dan Tekad Seorang Nahdliyin Tingkatkan Kualitas Unsyiah
dok. MODUSACEH.CO

Sekedar untuk menggugah perasaan kita semua,  izinkan  saya  mengajak  semua pihak untuk  sejenak membuka jendela rumah kita, melihat keadaan  di  luar sana!

Banda Aceh | “Kalau kita mau mencari 10 universitas terkemuka di dunia, maka ada di Amerika Serikat, Inggris, dan  Jerman. Tidak ada di benua lain. Kalau kita mau mencari  50 universitas terkemuka di Asia, maka universitas itu ada  di Singapura, Jepang,  Hongkong, Cina, Korea dan India. Nah, kalau kita mau mencari 10 universitas terkemuka di ASEAN (Asia Tenggara), maka universitas yang terbaik itu ada di  Malaysia, Thailand, dan  Singapura. Dan, kalau kita mau mencari  10  universitas terkemuka  di Indonesia, maka universitas itu  bernama Universitas Indonesia (UI) Jakarta, UGM Yogjakarta, ITB Bandung, UNDIP Semarang, IPB Bogor, Universitas Sebelas Maret Solo, Universitas Brawijaya Malang, Universitas Negeri Yogjakarta, Univesitas Pajajaran Bandung, dan Universitas Airlangga Surabaya. Pertanyaan selanjutnya adalah, dimana  posisi Unsyiah,” ungkap Dr. dr. Syahrul bertanya.

Kritik, sekaligus keprihatinan ini disampaikan saat menyampaikan visi dan misinya sebagai calon Rektor Unsyiah Banda Aceh, Periode 2018-2022 mendatang, Senin pekan lalu di Hotel Hermes Banda Aceh. (baca; Dr. dr. Syahrul, SpS, Calon Rektor Unsyiah 2018-2022. Sadar Peran Media, Tak Ingin Unsyiah Jadi Menara Gading).

“Pertanyaan inilah yang selalu menggugah pikiran saya.  Sekaligus  mengundang kepedulian dan keprihatinan saya (mungkin  juga kita semua, para alumni,  civitas akademika dan masyarakat luas).  Bagaimana merubah kondisi Unsyiah dari keadaannya seperti hari ini (sudah berusia 58 tahun),” ucap Syahrul serius.

Menurut dia,   untuk menjadi universitas terkenal dan hebat di masa depan atau sebagai World Class University, kepemimpinan Unsyiah harus profesional, berintegritas, bersemangat anti korupsi, santun, berbudaya dan ikut berpartisipasi dengan percepatan pembangunan nasional dan daerah Aceh,  menyongsong era ekonomi global dan masyarakat ekonomi Asean.

“Kita harus meningkatkan peran dan kinerja komisi-komisi yang ada dalam tubuh senat universitas, sehingga komisi-komisi tersebut dapat bekerja seproduktif mungkin sesuai tupoksinya masing-masing. Kita juga berkewajiban membangun budaya demokrasi-akademik, yang santun dan terhormat, sehingga senat senantiasa menghasilkan dorongan, inovasi, dan saran-saran yang sangat diperlukan untuk mendorong dan meningkatkan kinerja Rektorat,” ulas Dewan Kehormatan, Pengurus Wilayah Himpunan Pengusaha Nahdliyin Propinsi Aceh Periode 2017-2022 ini.

Dosen Teladan Pertama Fakultas Kedokteran Unsyiah (1999) dan Dosen Teladan Ketiga Unsyiah (1999) ini juga tercatat sebagai penerima  Satyalancana Karya Satya XX Tahun dari Presiden Republik Indonesia (2013) serta Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (NU) Aceh.***

Komentar

Loading...