Iklan Sisi Lain Special Ramadhan

Terkait Pemukulan Azhari Cage

DPRA Kecam Aksi Anarkis Oknum Polisi

DPRA Kecam Aksi Anarkis Oknum Polisi
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) menggelar konferensi pers, terkait kisruh demonstrasi mahasiswa yang berujung pemukulan terhadap Ketua Komisi I DPRA, Azhari Cage, di Ruang Badan Anggaran DPRA. Jalan Tgk Daud Beureuh, Kuta Alam, Banda Aceh, Jumat, 16 Agustus 2019.

Ketua DPRA, Muhammad Sulaiman, SE, M.S.M menceritakan, sekira pukul 10 WIB mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa secara orasi di DPRA. Lalu, dia mengutuskan Ketua Komisi I, Azhari Cage untuk menerima mahasiswa tersebut.

"Tema adik-adik mahasiswa saat itu, yaitu segera tuntaskan perdamaian Aceh UUPA dan butir-butir perjanjian MoU Helsinki," ujar Sulaiman.

Saat itu, orasi berjalan tertib dan Ketua DPRA menerima mahasiswa yang berorasi di ruangnya. Namun pada pukul 16.00 WIB, polisi melakukan pembubaran paksa. Sehingga terjadi kericuhan.

Dalam keadaan genting, Azhari dipukul secara sporadis oleh oknum polisi. Dan, pukul 20.00 WIB, Azhari membuat laporan ke Polda Aceh.

Dalam kesempatan yang sama, dilakukan visum di Rumah Sakit Bhayangkara dan dilanjutkan pemeriksaan di ruang Polda hingga pukul 01.00 WIB dini hari.

"Dari itu, kami dari DPR Aceh meyampaikan pernyataan sikap resmi tentang kisruh dalam pengamanan yang dilaksanankan kepolisian. Kami tegas mengecam dan mengutuk tindakan oknum polisi yang melakukan pukulan dan penganiaan terhadap anggota DPRA yang sedang melakukan tugas dewan sebagai perintah untuk menangani dan menerima orasi peserta aksi," katanya dengan nada tinggi.

Selain itu, DPRA menyesalkan pernyataan Kapolresta Banda Aceh yang mengatakan tidak terjadi kekerasan fisik terhadap Azhari Cage. "Melihat kronologis yang terjadi, oknum polisi memang perlu diambil tindakan lanjutan," ungkapnya.

DPRA sebagai adalah wakil rakyat, yang melaksanakan tugas dan tanggungjawab, dijamin dan diatur undang-undang dan memiliki hak untuk mengambil tindakan. Seperti menyampaikan pendapat dan menerima aspirasi masyarakat yang harusnya dilindungi dan diayomi oleh lembaga lainnya.

Untuk itu, kami meminta kepolisian untuk mengambil tindakan hukum tegas dengan bukti laporan ke Direktorat Kriminal Umum Polda Aceh," tegasnya.

Insiden "pengeroyokan" yang dilakukan oknum polisi terhadap Ketua Komisi I DPRA, masih membekas dalam ingatan Azhari Cage sehingga dia curhat beberapa kalu kepada media tentang kasus yang menimpanya.

Dia mengaku, telah bekerja sesuai prosedur hukum yang berlaku. "Sebelumnya, ketua meminta saya untuk dapat menemui para mahasiswa karena ketua menghadiri acara peringatan MoU Helsinki. Karena saya di bidang Komisi I dan pukul 10.30 WIB hari itu, saya masih di rumah namun ditelepon untuk segera menuju kantor," cerita Azhari.

Ketika sampai di kantor, pihaknya duduk sambil menunggu. Setegah jam kemudian, datang staf Sekretariat DPR Aceh dan menyuruhnya datang ke halaman kantor untuk menemui mahasiswa.

"Mahasiswa sedang menggelar pembacaan doa, setelah selesai mereka menyampaikan orasi. Mereka mendesak agar butir MoU dituntanskan termasuk lambang dan bendera Aceh. Kalau tidak dipasang, jangan ada tiang satu lagi. Kami anggota DPR Aceh dikecam dan dibilang teuget (tidur) dan banyak lagi," ungkapnya.

Masih kata peserta aksi demo, mereka datang bukan foto, tapi menuntaskan masalah bendera dan lambang Aceh. "Saya menerima buku dan mereka memaksa untuk menaikkan bendera namun dihadang polisi pada jam tersebut," jelasnya.

Saat Azan dzuhur, Azhari mengajak mahasiswa shalat berjamaah. Kemudian aksi dilanjutkan kembali dan masih terjadi perdebatan. "Saya bertanggung jawab agar ini bisa naik. Masalah ini, masih colling down di Jakarta dan masih belum tuntas.

Begitupun sebut Azhari Cage, dirinya tidak bertanggung jawab, karena itu menjadi tanggungjawab Sekwan dan Ketua DPRA. Tapi, saat itu Pak Ketua belum kembali ke kantor," ceritanya panjang lebar.

Selain itu, nomor telpon seluler Sekwan tidak aktif, sehingga dia mengambil kesimpulan untuk meredam situasi, dengan menyuruh sebagian perwakilan mahasiswa masuk ke ruang dewan menemui ketua. "Tetapi mereka tidak bersedia diwakilkan. "Terjadi negosiasi saya telpon ketua, akhirnya ikut semua," jelasnya.

Singkat cerita, DPRA memberikan lima orang perwakilan mahasiswa untuk menyampaikan maksud dan tujuan. Lalu ketua memeberikan penjelasan, namun mereka tidak puas, apa pun terjadi, bendara harus dapat dikibarkan. Jika tidak, mereka menyuruh membakar buka tentang UUPA.

Lalu, Azhari duduk di ruang terbuka hijau. "Saya turun dari ruang ketua, saya bilang kepada adik-adik, kondisi sudah demikian. Jadi, adik-adik jangan memaksakan kehendak. Kalau tidak ada izin dari ketua, saya tidak bisa memaksakan. Maka adik-adik harus memikirkan itu dengan baik agar tidak ada kejadian yang tak diinginkan," jelasnya.

Pukul 15.00 WIB, Azhari menuju ke ruangannya, karena belum makan. "Setelah itu, saya melihat adik-adik masih ada di halaman DPRA. Waktu saya keluar adik-adik tersebut sudah di depan gedung. Saya lihat adik-adik sudah dikejar dan dipukul oleh oknum polisi," ungkapnya.

"Kenapa dipukul, jangan dipukul. Ketika saya bilang begitu,  ternyata saya dikroyok sebagaimana video yang sudah disaksikan bersama. Saya dikeroyok, malah ada suara yang bilang angkat Cage, bawa Cage. Selain itu, peci yang saya gunakan jatuh, dan dibuang ke tong sampah," katanya dengan kecewa.

Dia mengaku tindakan tersebut sebagai bentuk pelecahan terhadap dirinya dan lembaga DPRA. "Kami yang diberi hak oleh undang undang, telah dilecehkan. Saya dilecehkan sama dengan lembaga DPRA dilecehkan. Sama dengan melecehkan intansi negara. Saya tidak terima," sambungnya lagi.

Untuk itu, dia berkoordinasi dengan pimpinan, melaporkan kasus tersebut. "Ini tidak boleh dibiarkan karena tindakan anarkis. Saya anggota Komisi I Bidang Keamanan dan saya diperlakukan seperti ini. Bagaimana jika masyarakat biasa. Untung saya hari ini tidak stress," tutupnya dengan wajah tersenyum, menahan emosi.

Penasihat Hukum DPRA, Bahrul Ulum SH mengatakan. Proses yang sudah dilakukan pihaknya adalah, melaporkan peristiwa ini ke Polda Aceh. Setelah dilakukan visum terhadap Azhari Cage.

"Saya melihat sendiri ditemukan lembam di rusuk bagian kiri, di kepala ada sedikit lembab, punggung tergores dan jas robek sebagai bukti," jelas Bahrul. "Kita percaya penyidik akan bekerja secara profesional, kami akan memantau proses hukum itu. Hari ini juga sudah dilakukan pemeriksaan kepada saksi yang melihat kejadian tersebut," kata Bahrul.***

Komentar

Loading...