Pelanggaran Syariat Islam

Divonis Bersalah, PSK Online Dihukum 17 Kali Cambuk

Divonis Bersalah, PSK Online Dihukum 17 Kali Cambuk
Seorang wanita Menjalani Hukuman cambuk

Banda Aceh | Mahkamah Syariah Kota Banda Aceh memvonis bersalah satu pasangan non muhrim yang melakukan perbuatan Ihktilath,.

Mereka berinisial AM (23) pekerja swasta, warga Kecamatan Mutiara, Pidie dan MAM (21) mahasiswi warga Kecamatan Blang Pidie, Kabupaten Aceh Barat Daya.

Keduanya dinyatakan melanggar Qanun Nomor 6 Tahun 2014, tentang Jinayat, dan dikenakan Pasal 25 ayat(1) tentang Ikhtilath.

Akibatnya mereka harus menerima hukaman cambuk masing-masing 20 kali, dan dikurangi masa tahanan 3 kali cambuk.

Eksekusi hukuman cambuk terhadap pasangan ini disaksikan langsung Wakil Wali Kota Banda Aceh Zainal Arifin dan masyarakat yang hadir di Taman Sari atau Taman Bustanussalatin Kota Banda Aceh, Rabu kemarin.

Dalam dakwaan jaksa, pasangan tersebut ditangkap polisi syariat di sebuah hotel di Banda Aceh pada Agustus 2021 lalu. AM disebut memesan seorang pekerja seks komersial (PSK) lewat seorang perantara.

AM dipertemukan dengan terpidana MAM. Lalu, keduanya sepakat kencan dengan tarif Rp 1,5 juta. Kedua terpidana lalu bertemu di hotel yang telah dipesan terpidana AM.

Di dalam kamar, AM menyerahkan uang Rp 1 juta sebagai uang muka. Sisa Rp 500 ribu disebut bakal diserahkan setelah kencan. Keduanya kemudian digerebek polisi syariat.

"Yang kita cambuk hari ini dua orang karena pelanggaran jarimah ikhtilat," kata Wakil Wali Kota Banda Aceh Zainal Arifin.

Dia mengatakan, Pemerintah Kota Banda Aceh terus menegakkan syariat Islam. Dia meminta pendatang ke Kota Gemilang tidak membuat pelanggaran.

"Yang banyak pelanggar adalah mereka yang datang ke Banda Aceh, bukan warga Banda Aceh saja. Kita harap jangan dianggap Banda Aceh bisa sebagai tempat pelanggaran syariat Islam," jelas Zainal.

"Jadi pendatang ke Banda Aceh dan warga Banda Aceh agar menjunjung tinggi pelaksanaan syariat Islam di Aceh, terutama di Kota Banda Aceh," ucapnya.

Sementara Kasat Pol PP/WH Banda Aceh Ardiansyah mengatakan, ini merupakan proses hukum yang ditangkap di Hotel Ayani pada Agustus lalu, yang memang perempuannya terlibat dalam kasus prostitusi online atau wanita open BO (Boking), sementara prianya sebagai konsumen.

Dalam razia hari itu. Tim Gabungan Satpol PP/WH, Polisi dan TNI mengamankan dua pasangan di Hotel Ayani, Peunayong Banda Aceh.

"Pasangan ini memang sudah memenuhi unsur dan alat bukti sehingga dilimpahkan ke kejaksaan,  dan yang satu lagi belum sempat berhubungan dan atau belum cukup bukti," kata Ardiansyah.

Ia bertekad akan terus memantau jaringan-jaringan prostitusi online yang memang masih ada di berberapa titik di Kota Banda Aceh.

"Jaringan ini yang harus kita catat dan harus bongkar bersama, boking online atau cewek BO memang sudah sangat meresahkan di Banda Aceh. Jadi hasil penelusuran kita kalau memang tidak bisa kita bongkar semua lebih kurang setengahlah," ungkapnya.

Kebanyakan mereka yang ditangkap dari luar Banda Aceh, ada yang status mahasiswi ada juga yang sudah bekerja. "Selain itu ada proses hukum yang masih lanjut di kejaksaan, satu pasangan yang diamankan di daerah Jeulingke, mahasiswi dari luar Banda Aceh juga," sebutnya.

"Masyarakat dari luar kota kalau bisa saling menjaga, begitu juga pihak kampus, pemilik kos harus sama-sama menjaga kondisi kita di Kota Banda Aceh," ujarnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, memang selama dua tahun pendemi kasus pelanggaran Syariat Islam ada penurunan.***

Komentar

Loading...