Lhokseumawe

Disangka Mencuri, Seorang Pemuda Dikeroyok Hingga Babak Belur

Disangka Mencuri, Seorang Pemuda Dikeroyok Hingga Babak Belur
Ilustrasi (radarbandung.id)

· Keluarga korban tak terima dan melapor ke polisi

Lhokseumawe | Tragis benar nasib Mukhlis (30). Karena disangka telah mencuri telpon seluler milik pengelola Cafe Lampu Merah, Jalan Darussalam, Kecamatan Banda Sakti, Kota  Lhokseumawe. Warga Meunasah Krueng, Kecamatan Peudawa, Kabupaten Aceh Timur dihajar massa hingga babak belur.

Keluarga korban tak terima dengan dugaan perlakuan main hakim sendiri itu hingga melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Lhokseumawe.

"Kami tidak bisa menerima perlakuan ini. Adik Saya  masih diopname,  makanya kami menelusuri jejak pelaku. Lalu, kami melapor ke SPKT Polres Kota Lhokseumawe," ungkap Mursyidin, abang kandung Mukhlis pada media ini, Rabu.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber membenarkan terjadi peristiwa yang diduga main sendiri ini.

Diduga, korban mendapat penganiayaan sadis, lalu para pelaku membuang korban ditempat sepi dengan tangan dan kaki yang terikat usai puas menyiksa.  Untungnya, korban selamat setelah ditolong warga dan mengantar pulang dengan Mopen L-3000.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan melalui Kasat Reskrim Polres  Lhokseumawe. AKP. Indra. T. Herlambang, gagal dikonfirmasi karena nomor menolak panggilan masuk.

Keterangan justeru diperoleh dari Wakapolres Lhokseumawe, Kompol Ahzan. Dia membenarkan adanya korban penganiayaan yang telah membuat laporan resmi ke Polres Lhokseumawe. “Saya belum tahu secara detil, tapi saya sudah cek dan benar ada kejadian tersebut. Kami sudah terima laporan resminya,” jelasnya.

Sumber media ini juga menjelaskan. Korban Mukhlis, Selasa, 3 Maret 2020 lalu, sekira pukul 03.00 WIB dini hari, Mukhlis tiba di Kota Lhokseumawe. Merasa lapar, dia singggah di Cafe Lampu Merah,  yang saat itu suasananya sedang sepi.

Lalu, Mukhlis mencari pelayan untuk memesan makanan dan minuman. Tiba-tiba saja, dari  arah belakang muncul pelayan dan menyeret dia ke luar cafe, sambil berteriak; pencuri,,,pencuri.

Seketika, massa datang dan menghajar Mukhlis hingga babak belur. Plak,,plak, plek, kepada dan sekujur tubuh mendapat pukulan, sehingga kepala dan bagian bagian belakang tubuhnya terluka.

Entah merasa belum puas, sejumlah pekerja cafe, ramai-ramai memukuli Mukhlis dan membuka celana korban, lalu memasukkan pada bagian kepala dengan posisi wajah tertutup.

Setelah puas menghakimi, pelaku membuang korban ke lokasi sepi dan barang milik korban seperti satu unit HP Merk Oppo A 7, dompet beserta isinya dijarah para pengeroyok tadi.

Musyidin  mengaku, berdasarkan laporan polisi Nomor: LP/89/III/2020/Aceh/Res Lsmw, tanggal 9 Maret 2020. Laporan itu dibuat beberapa hari setelah kejadian, karena selain menunggu korban yang di rawat intensif di rumah sakit mulai sehat. Pihaknya juga memastikan terlebih dahulu motif dan modus operandi dari pelaku.

Dia berharap, pihak kepolisian Satreskrim Polres Lhokseumawe, dapat mengungkap aksi keji yang dialami adik kandungnya ini.

Sementara itu, pengelola Cafe Lampu Merah Ali kepada wartawan mengaku dirinya kaget atas tudingan pengeroyokan dan penjarahan oleh pekerjanya.

Tapi Ali membenarkan adanya kejadian kekerasan terhadap pria asal Peudawa tersebut dan pihaknya juga sudah pernah memenuhi panggilan penyidik Polres Lhokseumawe.

Ali menjelaskan, kejadian itu sebenarnya dipicu karena pria asal Peudawa ini tertangkap tangan saat mencuri satu unit HP miliknya yang sedang di cash pada meja kasir.

Karena ketahuan masuk ke ruang kasir, pria itu diintograsi massa dan ketika diperiksa ternyata ditemukan Hp milik Ali dalam kantong celananya. “Karena sudah dapat barang bukti, akhirnya massa marah dan memukulinya. Jadi, bukan kami pekerja pelaku pemukulan tapi massa yang memukulinya,” terang Ali.

Benarkah, tentu penyidik di Polres Lhokseumawe yang berhak mengungkapnya. Kita tunggu.***

Komentar

Loading...