Catatan Tersisa HUT Ke-47 Bank Aceh 2020

Dinilai Melanggar Aturan Dapat Ancaman, Yang Salah Justeru Dipromosi

Dinilai Melanggar Aturan Dapat Ancaman, Yang Salah Justeru Dipromosi
Dirut Bank Aceh Syariah Haizir Sulaiman (Foto: MODUSACEH.CO)
Rubrik

Kamis, 6 Agustus 2020, Bank Aceh berusia 47 tahun. Hari Ulang Tahun (HUT) tahun ini diperingati pada Kantor Pusat Bank Aceh Syariah, Batoh, Kota Banda Aceh. Namun, dibalik senyum sumingrah dan catatan (yang katanya prestasi), masih terselip sisa catatan kaki miris.

MODUSACEH.CO | Kisah tak elok ini terjadi tahun 2018 lalu. Namun, bukan berarti tidak menarik untuk diwartakan kembali. Setidaknya, menjadi catatan kaki bagi direksi dalam bersikap dan mengambil sertamemutuskan kebijakan yang tidak sepihak. Apalagi, dalam waktu tak lama lagi, Haizir Sulaiman akan memasuki pensiun dari PT. Bank Aceh Syariah (BAS).

Bermula ketika ada istri salah seorang karyawan bank plat merah ini, yang tidak mendapat izin dari suaminya (karyawan Bank Aceh Syariah Cabang Banda Aceh) untuk mengikuti arisan.

Sebaliknya, sang suami tadi meminta istrinya tersebut untuk mengikuti pengajian. Dia menilai, kegiatan arisan istri karyawan (Dharma Wanita) tak memberi efek positif bagi istrinya yang memang sedang menderita sakit. Diduga, mengalami kanker.

Itu sebabnya, dari  pada kongko-kongko dan cipika-cipiki para arisan tadi, dia lebih memilih dan menganjurkan istrinya mengikuti pengajian. Apalagi, disebut-sebut dia dan istri sudah hijrah.

Singkat cerita, absennya istri karyawan tadi pada kegiatan arisan istri karyawan Bank Aceh Cabang Banda Aceh sampai juga ke telingga Haizir Sulaiman. Ketika itu, dia menjabat sebagai Direktur Dana dan Jasa Bank Aceh. 

Ini sejalan dengan surat PT. Bank Aceh Syariah Cabang Banda Aceh, Nomor:0268/Csy.01/II/2018, tanggal 5 Februari 2018. Isinya, ketidakikutsertaan kegiatan Dharma Wanita.

Menariknya, sebagai pimpinan Haizir bukannya melakukan pembinaan terhadap karyawan dan istri tadi. Sebaliknya, menanggapinya surat dengan mengaluarkan surat berimplikasi ancaman kepada karyawan tersebut.

Dalam suratnya Nomor:864/DSI.01/II/2018, tanggal 20 Februari 2018 yang ditujukan kepada Pimpinan Bank Aceh Syariah Cabang Banda Aceh saat itu menegaskan.

Pertama, kegiatan Dharma Wanita PT. Bank Aceh Syariah adalah kegiatan wajib yang harus diikuti seluruh istri karyawan bank ini. Kedua, apabila istri karyawan tadi tidak turut serta dalam kegiatan Dharma Wanita Persatuan PT. Bank Aceh Syariah (BAS), dengan alasan apapun, maka akan diberikan sanksi.

Mau tahu? Tragis memang. Pertama, hak-hak yang berkaitan dengan istri akan dihapus seperti tunjangan istri, fasilitas kesehatan istri dan anak dan fasilitas BPJS kesehatan untuk istri dan anak. Kedua, tunjangan kinerja dari total gaji akan dipotong atau komponen istri dikeluarkan. Ketiga, akan dipindahkan ke cabang lebih jauh dan keempat. Ini lebih gawat lagi, disarankan untuk mengundurkan diri dari PT. BAS.

Entah itu sebabnya, ancaman tersebut dinilai sejumlah karyawan di PT.BAS sangat tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) perjanjian kerja antara karyawan dan perusahaan. “Bahkan tidak ada aturan yang dilanggar sesuai UU ketenagakerjaan. Jadi, dasarnya apa ancaman seperti itu dikeluarkan,” ungkap beberapa karyawan, setengah menggungat pada media ini beberapa waktu lalu.

Tak hanya itu, walau peristiwa ini terjadi tahun 2018 lalu. Namun, ancaman verbal seperti ini dinilai sangat tidak patut untuk bank yang berlandaskan syariat Islam.

“Pada masa Rasulullah saja bahkan ada seorang wanita yang tidak diizinkan suaminya menjenguk orangtuanya yang meninggal. Namun, dengan kepatuhannya kepada suami membuat orangtua si wanita tersebut masuk surga atas izin Allah SWT,” kata seorang karyawan sambil geleng-geleng kepada.

Begitupun, hingga kini, media ini tak lagi mendapat informasi dimana serta posisi apa yang diduduki karyawan tersebut, setelah masalah ini mencuat.

Hanya itu? Tunggu dulu. Ironisnya, sejumlah sumber di PT. Bank Aceh Syariah menduga. Sebagai salah satu direksi PT.BAS ketika itu, Haizir Sulaiman sangat melindungi kroninya.

“Misal, dia sangat melindungi seorang oknum kepala cabang saat itu, yang kabarnya saudara kandung pejabat Aceh. Ini dilakukan Haizir untuk bisa naik sebagai Dirut Bank Aceh,” ungkap dia.

Selain itu, Haizir juga melindungi kroninya berinisial DN, mantan Pemimpin Cabang Medan Suparman, yang terungkap kasus dugaan perselingkuhan dengan salah seorang kepala unitnya RN.

Ironisnya, bagi karyawan lain Haizir sangat tegas, tapi berbeda terhadap DN dan RN.

Berikutnya, Haizir juga mempromosikan salah seorang mantan Pimpinan Bank Aceh Syariah Cabang Sisingamangaraja Medan, yang tersangkut kasus pencairan dan penyaluran kredit bermasalah.

“Tapi dipromosikan menjadi salah satu direksi. Padahal, saat itu Dirut Bank Aceh Aminullah Usman telah memberi sanksi kepada yang bersangkutan,” ujar sumber yang tak mau ditulis namanya ini.

Benarkah semua informasi dan dugaan tadi? Hingga Jumat, 7 Agustus 2020 malam, Dirut PT. BAS Haizir Sulaiman tidak menjawab beberapa konfirmasi yang dikirim media ini.

Jawaban singkat didapat dari Kepala Bagian Humas PT. BAS Riza. “Seluruh isteri dari karyawan Bank Aceh, merupakan bagian dari Dharma Wanita Bank Aceh. Kegiatan tersebut juga bagian dari kebersamaan dan mendukung kegiatan-kegiatan perusahaan,” jelas Riza.

Terkait persoalan lain seperti dugaan perselingkuhan dan pejabat bermasalah dalam penyaluran kredit di cabang Medan. Riza memilih diam dan tidak menjawab.***

Komentar

Loading...