Diduga Salahi Aturan dan Menganggu Warga, Dinas PUPR Banda Aceh Hentikan Pembangunan Hotel Diana

Diduga Salahi Aturan dan Menganggu Warga, Dinas PUPR Banda Aceh Hentikan Pembangunan Hotel Diana
Foto: Firdaus Hasan/MODUSACEH.CO
Rubrik

Banda Aceh | Diduga menyalahi aturan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan menggangu kenyamanan warga sekitar, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banda Aceh, akhirnya menghentikan pembangunan Hotel Diana di kawasan Kuta Alam Banda Aceh.

Pemberhatian ini bedasarkan surat No: 650/03/PPR/30/2021, tanggal 17 Maret 2021 yang ditujukan kepada pemilik Hotel Diana, agar segera menghentikan pekerjaan dan membongkar bagian bangunan yang melanggar IMB. Awalnya lima lantai kemudian dibangun (tambah) menjadi enam.

Dasarnya, ketentuan Qanun Kota Banda Aceh Nomor: 2 Tahun 2018, tentang Perubahan Atas Qanun Qanun Kota Banda Aceh Nomor 4 Tahun 2009, tentang RTRW Kota Banda Aceh Tahun 2009-2029. Isinya, peruntukkan lahan di lokasi itu sebagai 'Kawasan Pedagangan dan Jasa'.

Tak hanya itu, derdasarakan Qanun Kota Banda Aceh Nomor: 10 Tahun 2004, tentang Bangunan Gedung. Pasal 81 disebutkan, dilarang mendirikan, memperluas, mengubah, dan memperbaiki/merehab bangunan apabila; tidak mempunyai surat IMB, menyimpang dari ketentuan atau syarat surat mendirikan izin bangunan (SIMB).

Selain itu, menyimpang dari rencana dasar pemberian IMB dan dari peraturan serta syarat-syarat yang telah ditetapkan qanun ini.

Begitupun, dari pantuan media ini, Sabtu (20/3/2021), terlihat hotel yang beralamat di Jalan Mayjen T Hamzah Bendahara, Kecamatan Kuta Alam, Kota  Banda Aceh ini masih melanjutkan pembangunannya.

Foto: Firdaus Hasan/MODUSACEH.CO

Terlihat beberapa pekerja di lantai dua masih melakukan aktifitasnya seperti biasa, sementara di bagian depan bangunan masih terlihat parancah kayu, sedangkan bagian samping sudah dibongkar.

Pembangunan hotel berlantai enam ini dinilai cukup menggagu kenyamanan warga sekitar. Salah satunya diungkapkan Rony Chandra pemilik bangunan yang berdempet dengan sisi kiri pembangunan hotel tersebut.

Menurutnya, pembangunan seperti dipaksakan, sama sekali mereka tidak melihat dampak pembangunanya. ”Banyak material bangunan jatuh ke atap toko saya, seperti kayu, batu bata dan material lain. Saya sudah ingatkan sejak awal lantai satu bahkan sampai lantai enam sangat minim pengamanan," jelasnya.

"Kalau kita lihat sampai saat ini tidak ada jala-jala atau tiplek untuk pengamanan. Saya kira itu sangat buruk untuk pembangunan yang besar seperti ini," kata Rony.

Lanjut Rony, sebelum membangun memang pihak hotel sudah minta izin kepadanya. ”Sebagai tetangga saya memang mendukung, tapi ada syaratnya, nanti pembangunan ada pengaman-pengaman tidak mengangu kami di sebelah, tapi sangat disayangkan pembangunan tidak sesuai apa yang disyaratkan," sebutnya.

Rony juga mengakui banyak kerusakan bangunanya seperti atap bocor akibat perancah berdiri di atas atap, pelapon rusak dan dinding rusak, namun ia belum bisa menyebutkan berapa kerugiannya.

”Soal ganti rugi saya tidak yakin, karena hal-hal yang kecil saja tidak digubris, sepeti keamanan tadi,” ungkapnya.

Sebab itu persoalan ini sudah disampaikan ke pihak terkait, warga setempat sudah berupaya melakukan langkah-langkah secara kekeluargaan, seperti menyampaikan keluhan agar memasang jaring pengaman khusus, sehingga material, seperti kayu dan batu tidak jatuh ke atap ruko warga.

Tapi, permintaan itu terkesan diabaikan, sehingga warga setempat pun sudah meminta keuchik dan perangkat gampong untuk membantu menyelesaikan hal tersebut.

Bahkan, tidak cukup di tingkat gampong, warga sekitar juga sudah menyampaikan kondisi itu ke Muspika Kuta Alam.

Kepala Dinas PUPR Kota Banda Aceh, Jalaluddin ST, MT saat dihubungi MODUSACEH.CO, Sabtu (20/3/2021) menyesalkan sikap Hotel Diana tersebut yang tidak mengindahkan surat teguran jajarannya.

Memang pihak hotel memiliki izin IMB hanya untuk lima lantai, tapi yang jadi pemasalahan ini ada pembangunan lantai enam dan itu sangat mengangu tetangga sekitar.

"Senin, 22 Maret 2021 mendatang, pemilik Hotel Diana kami panggil ke kantor," tegas Jalaluddin.

Lalu, apa tangapan pihak menajemen Hotel Diana terkait persoalan ini? Saat dihubungi melalui telepon seeluler tidak tersambung. Tapi, melalui pesan WhatsApp (WA) Hendra menjawab bahwa saat ini dia sedang berada di Lhokseumawe.

Dan katanya, Senin, 22 Maret 2021  ada mediasi di Kampung Kuta Alam dan dirinya akan ke Kantor PUPR Kota Banda Aceh. "Untuk saat ini hanya itu yang bisa saya sampaikan," tutup Hendra.***

Komentar

Loading...