Diduga Masuk Tanpa Izin, Bupati Aceh Barat Merasa Diperas dan Dipaksa

Diduga Masuk Tanpa Izin, Bupati Aceh Barat Merasa Diperas dan Dipaksa
Bupati Aceh Barat, Ramli MS. Foto: MODUSACEH.CO/Aidil Firmansyah

Meulaboh | Kisruh yang terjadi di Pendopo Bupati Aceh Barat, Jalan Imam Bonjol, Desa Seneubok, Kecamatan Johan Pahlawan, tampaknya berbuntut panjang.

Selain orang nomor 1 sudah dilaporkan korban, kini mereka juga melaporkan balik ke polisi atas perkara yang berbeda.

Sejauh ini masalah tersebut masih menyangkut dugaan hutang piutang seperti kabar yang beredar melalui pemberitaan.

Hal itu rupanya bertolak belakang dengan yang disampaikan Bupati Aceh Barat, Ramli MS yang mengaku tak mengenal dan tidak pernah memiliki hutang kepada korban yakni Zahidin.

Dalam konferensi Pers yang berlangsung di Pendopo Bupati, Kamis (10/2/2020). Ramli MS menduga, kejadian tempo hari itu sengaja disetting untuk menjebak dirinya masuk dalam tindakan tersebut dan membantah sudah memukul pipi kiri korban.

“Pertama sekali mereka itu datang ke saya berjumlah lima orang, begitu saya duduk dan mereka duduk dekat saya dan memperkenalkan diri. Saya kuasa hukum Akrim dan saya salah satu ustad dari Aceh Selatan, Bakongan dan pernah mendoakan bapak untuk jadi bupati dan Insya Allah bapak jadi bupati. Sebelum itu saudara Akrim pernah memberikan kerbau kepada saya untuk kanduri, jadi Alhamdulillah bapak jadi bupati,” Ramli bercerita awal mula peristiwa itu.

Lalu, para tamu yang masuk ke pendopo melalui Aziz, seorang supir Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Aceh Barat ini, tanpa menjumpai ajudan terlebih dahulu.

Lalu, mereka meminta Ramli untuk bertanggung jawab atas uang yang telah diambil, yang disebut-disebut untuk menunjang keberhasilan memperoleh kursi Aceh Barat 1 pada Pilkada 2017 lalu.

Mereka, menyodorkan surat dengan Kops Jurnal Bhayangkara News. Sebelumnya Ramli MS mengaku juga pernah menemukan surat tersebut di meja kerjanya di Kantor Bupati.

Ia hanya mengira surat tersebut berhubungan dengan media pemberitaan.

“Setelah itu dia (Zahidin) bilang pada  saya ada persoalan dengan bapak karena sudah dikuasakan ada masalah penagihan. Ditunjuklah surat ini. Saya teringat surat itu pernah masuk ke saya di Kantor Bupati dan saya pikir ini jurnal apa. Jurnal Bayangkhara saya pikir ini media, saya sebutkanlah disitu untuk menghadap Sekda. Akhirnya mereka telaah, dibuka semuanya. Setelah mereka telaah apa yang ada di sini tidak ada sangkut pautnya sama saya,” ujar Ramli.

Masih kata Ramli. “Yang ambil uang orang lain semua orang lain, jadi tidak ada hubungan dengan pelantikan Bupati. Jadi setelah masalah ini, kata beliau (Zahidin) Pak Bupati apapun ceritanya wajib bertanggung jawab. Bertanggung jawab apa saya tanya, ya bayar kata dia. Saya tidak mau, tidak ada hubungan dengan saya, apa yang harus saya bayar. Tanya sama mereka (pengutang) kemana hutang itu dibawa,” jelas Ramli.

Menurutnya, ia telah dipaksa dan diperas untuk membayar sejumlah uang yang diambil oleh orang lain.

Sementara dirinya tak pernah mengetahui hal itu. Pada saat kejadian seperti video yang beredar melalui Whatsapp Grub (WAG), kebenaran yang diceritakan Ramli yakni usai dirinya memegang Zahidin, lalu Zahidin sudah lebih dulu berdiri dengan memasang kuda-kuda.

Merasa terancam Bupati kemudian mendorong tangan Zahidin bukan meninju.

“Saya semacam diperas dan dipaksa, kalau tidak saya dorong tangannya akan mengenai saya pasti kena. Tidak ada pemukulan di pipi kirinya, saya hanya mendorong tangannya, karena tangannya sudah dengan kuda kuda. Sesudah saya dorong, saya menghindar, saya lihat temannya yang lima orang tadi, mengambil kursi, saya sudah disuruh masuk ke sini (rumah dinas), kemudian selesai,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan, dirinya tidak mengetahui kursi yang mengenai tubuh Zahidin. Sebelum kejadian Ramli hendak mengajak mereka shalat Maghrib berjamaah karena mengira dia seorang ulama. Sementara dari tamu lain yang hadir, Ramli mengaku tak mengenal satupun dari mereka sebelum peristiwa ini.

“Kalau saya lihat peristiwa itu memang merupakan jebakan terhadap saya. Karena mereka sudah siap dengan ketawa-ketawa, dan sudah siap dengan rekamannya. Saya sudah perintahkan Kabag Hukum untuk melapor, saya sudah merasa tidak nyaman dan merasa diperas, sesudah saya lihat berita-berita, seolah-olah saya ada berhutang sana sini, kemudian diviralkan rekaman itu tanpa izin. Dan mereka bertamu pun bukan pada tempatnya,” jelasnya lagi.

Meski mengaku timsesnya pada Pilkada 2017 lalu, ia masih tak habis pikir, mengenai  tujuan mereka  datang sebenarnya dan  menghadap pada sore hari.

Apalagi mereka masuk tidak sesuai Standar Oprasional Prosuder (SOP) yang berlaku di rumah dinas.

“Mereka masuk pendopo sembrono, langsung masuk terus, tanpa izin, biasanya kan ada ajudan. Ketemu ajudan dulu, ini tidak, mereka langsung ketemu saya. Pertama saya senang karena dia seorang ulama, setelah itu saya merasa tidak nyaman karena merasa diperas dan ditekan. Saat pertama masuk langsung menjurus kepada hutang,” ungkap Ramli.

Dirinya berharap pihak kepolisian  bisa bekerja secara profesional dalam mengungkap kasus tersebut.

Saat ini kondisi Ramli masih mengalami syok atas peristiwa diluar dugaannya itu. Tidak seperti tamu lain yang datang dengan santun untuk menemuinya.

“Saya terjebak karena menilai dia (Zahidin) seorang ulama, tapi rupanya seorang debt colector, kepada masyarakat berhati-hatilah terima tamu jangan sampai seperti saya dan saya tidak pernah memukul,”  jelas  Ramli MS.***

Komentar

Loading...