Dana Aspirasi dan Pembangunan Asrama Putri Pesantren Almuslim Peusangan

Diduga, Ketua Yayasan Lama Tarik Dana Untuk “Setor Fee” Anggota DPRA

Diduga, Ketua Yayasan Lama Tarik Dana Untuk “Setor Fee” Anggota DPRA
Ketua Pembina dan Ketua Yayasan serta Pengawas meninjau pembangunan asrama putri Pesantren Almuslim (Foto: Muhammad Saleh)
Rubrik

Bireuen I Tak ada makan siang gratis. Agaknya itulah prinsip penyaluran bantuan atau program dari wakil rakyat di negeri ini maupun Aceh.

Lihat saja, walau terkesan membantu kebutuhan masyarakat. Namun, tetap saja harus ada cash back (pengembalian dana) dari si penerima kepada penyalur bantuan dalam bentuk program aspirasi.

Liriklah pembangunan Gedung Asrama Putri Pesantren Almuslim Peusangan di Matang Glumpang Dua, Kabupaten Bireuen tahun 2020 lalu.

20210202-pengurus-yayasan3

Ketua Yayasan Almuslim Tgk Munawar meninjau pembangunan kamar mandi (Foto: Muhammad Saleh)

Kabarnya, dari Rp2,8 miliar bantuan dana aspirasi dari salah seorang anggota DPRA Periode 2014-2019, tak kurang ada Rp1,5 miliar lebih yang ditarik kembali secara bertahap.

Dalihnya, untuk setoran fee bagi si pemberi dana aspirasi tadi.

Terkuaknya dugaan ini setelah Pengurus Yayasan Almuslim Peusangan yang terpilih beberapa waktu lalu, melakukan pemantauan langsung ke lokasi pembangunan asrama yang pekerjaannya dilakukan secara swakelola.

“Harusnya, dengan sistem swakelola justeru kualitas dan volumenya lebih baik. Tapi faktanya, terkesan ada yang tidak beres alias dipaksakan dari pekerjaan tersebut,” ungkap Tgk Munawar, Ketua Yayasan Almuslim hasil Musyawarah Almuslim IX Tahun 2020 di Auditorium Academic Center (ACC), Gedung Ampon Chik Peusangan, Sabtu, 28 November 2020 lalu.

Sekedar informasi. Pendirian Pesantren Terpadu Almuslim Peusangan tidak terlepas dari berdirinya Jami’atul Muslim (sekarang Yayasan Almuslim Peusangan) tanggal 21 Jumadil AKhir 1348H atau bertepatan tanggal 24 November 1929M.

Yayasan ini didirikan T. H. Chik Johan Alamsyah (Uleebalang Peusangan) sebagai umara bersama Tgk. Abdurrahman Meunasah Meucap (ulama), Tgk Ibrahim Meunasah Barat, Tgk Abbas Bardan, Tgk Abid Idham,
Tgk Habib Mahmud, Tgk. Muhammad Amin Bugak, Tgk. H. Ridwan Cot Meurak Bireuen, Tgk. H. Usman Aziz Lhokseumawe serta sejumlah tokoh-tokoh lainnya saat itu.

Tujuannya, untuk melawan segala bentuk penjajahan dan penindasan Belanda dengan cara menggunakan ilmu, pemikiran dan wawasan, dalam bentuk pendidikan formal yang moderat sehingga dapat melahirkan sosok alumni yang memiliki ilmu pengetahuan umum dan agama secara seimbang.

Mengawali pendirian perserikatan tersebut, dibukalah lembaga pendidikan diniyyah (Pendidikan Agama Yang Moderat) tingkat dasar. Lalu, berkembang pesat dengan berdirinya MTs dan MAS Almuslim, SMA Almuslim, sampai pada level perguruan tinggi yaitu Universitas Almuslim (Umuslim) dan Institut Agama Islam Almuslim (IAI).

Dalam perjalanannya, Yayasan Almuslim pada Musyawarah Besar Yayasan, bertepatan dengan setengah Abad (tahun 1979) yang ketika dipimpin H.M.A. Jangka (Ketua Yayasan) bersama peserta musyawarah, melahirkan keputusan untuk mendirikan suatu pesantren terpadu, yang sesuai dengan perkembangan zamannya. Namun, keinginan itu hampir 40 tahun baru dapat diwujudkan atau Tahun 2015. Ini ditandai dengan dibuka dan diterimanya santri putri di Pesantren Terpadu Almuslim, yang kemudian berkelanjut dengan menerima santri putra pada tahun berikutnya.

Lantas, apa yang jadi masalah? Pertanyaan inilah yang patut dijawab. “Kami menduga ada persekongkolan jahat dari pengurus yayasan lama untuk menguras kas Pesantren Almuslim Peusangan. Ini sejalan dengan laporan yang kami dapatkan,” ujar Tgk Munawar kepada media ini, Minggu lalu di Matang Glumpang Dua.

Itu sebabnya tegas Tgk Munawar, pihaknya telah melakukan audit internal dan hasilnya sangat mengecewakan. “Kami sedang merumuskan kebijakan untuk melakukan audit keuangan secara independen,” ujar dia.

20210202-pengurus-yayasan2

Ketua Pembina dan Pengawas Yayasan Almuslim Peusangan meninjau hasil pekerjaan (Foto: Muhammad Saleh)

Nah, benarkah semua dugaan tadi serta kemana dana tersebut mengalir? Sayangnya, mantan Ketua Yayasan Almuslim Dr. Amiruddin Idris yang juga mantan Rektor Universitas Almuslim, tak menjawab konfirmasi yang dikirim media ini, Selasa siang.

Sikap serupa juga diperlihatkan H. Anwar Idris, mantan Ketua Pembina Yayasan Almuslim Peusangan. Antara Anwar dan Amiruddin memiliki pertalian darah. Sebab, keduanya adik dan abang. Ada apa?***

Komentar

Loading...