Breaking News

Dibalik Lelang Tiga Rumah Sakit Regional Aceh (bagian satu)

Diduga, "Ada Mengalir Fee Enam Persen" Untuk Oknum ULP dan Pokja

Diduga, "Ada Mengalir Fee Enam Persen" Untuk Oknum ULP dan Pokja
Rubrik
Sumber
Foto: Harian Aceh

Banda Aceh | Berbagai rumor dan dugaan terus muncul dan mengalir dibalik proses lelang tiga rumah sakit regional di Aceh. Diduga, praktik pat gulipat ini sudah berlangsung sejak rumah sakit ini dibangun tahun 2017 hingga 2019.

Hanya saja, “bau busuk” tersebut baru mencuat sejak proses lelang tahun 2018 dan 2019 berjalan.

Misal, setiap perusahaan pemenang lelang, harus mengeluarkan “dana ekstra” untuk “menjamu” oknum ULP, Pokja serta PPTK. Termasuk Kuasa Penguna Anggaran (KPA), Dinas Kesehatan Aceh. Jumlah berkisar 6 persen.

“Ya, kabar yang beredar memang demikian, sehingga satu perusahaan bisa memenangkan dua paket pekerjaan di tahun yang sama,” ungkap sumber media ini, Selasa, 17 September 2019 di Banda Aceh.

20190917-langsa

Rumah Sakit Regional di Langsa (Foto: waspadaaceh.com)

Sumber dari jajaran aparat penegak hukum di Aceh ini juga mengurai. Untuk Rumah Sakit Regional di Kota Langsa dan Takengon, Kabupaten Kabupaten Tengah contohnya.

Lelang pembangunan dua rumah sakit ini 2019, di menangkan PT Pulau Bintan Bestari dibawah Kepala ULP Pemerintah Aceh, Irawan Pandu Negara serta Pokja 43, Mutaqqin.

Sementara proyek yang sama di Aceh Selatan tahun 2018, pemenang lelang PT. Linggarjati Perkasa (Kerjasama Operasional atau KSO dengan PT Putra Indo Manunggal.

Sedangkan 2019, paket serupa dimenangkan PT. Bijeh Pade Tepula, dengan Pokja M. Zakir. Diduga, antara PT. Linggarjati Perkasa dan PT. Bijeh Pade Tepula masuk satu grup usaha.

Nah, tiga proses lelang tadi sudah mendapat perhatian khusus dari KPPU (di Langsa dan Takengon) serta Kejaksaan Agung (Kejagung) RI di Aceh Selatan. Akankah kasus ini berakhir di pengadilan atau hilang ditelan; markus alias mafia kasus? Kita tunggu saja. (selengkapnya baca edisi cetak).***

Komentar

Loading...