Dibawah Bayang Steffy

Dibawah Bayang Steffy

Penyelenggaraan event olahraga merupakan sebuah aktivitas yang lazim dilaksanakan di masyarakat. Biasanya, beberapa moment penting selalu menghadirkan acara dengan berbagai pertandingan dan perlombaan. Ini bermakna, penyelenggaraan event olahraga sebenarnya bukan merupakan baru dalam pertumbuhan dan perkembangan budaya di masyarakat kita.

***

Ada event yang diselenggarakan secara formal. Namun banyak event yang justru diselenggarakan secara nonformal dan bersifat temporal spontanitas. Ini terkait ajang kompetisi cabang olahraga pada level tertentu. Salah satu bisa disebut; Aceh Marathon 2018.

Dalam tataran event formal misalnya, kita telah familiar dengan Pekan Olahraga Pelajar, Pekan Olahraga Mahasiswa, Pekan Olahraga Daerah, Pekan Olahraga Nasional, Sea Games, Asian Games, bahkan Olimpiade. Tapi, terdapat banyak penyelenggaraan event olahraga nonformal yang bentuk dan variasinya amat beragam.

Berbagai festival olahraga dan aktivitas kompetisi hiburan, dikembangkan dan dikreasikan oleh beberapa event organizer (EO). Karena itu, bentuk, mutu, dan dampak penyelenggaraan menjadi indikator tentang eksistensi kemasyarakatan bahkan kebangsaan. Karena itu tidaklah mengherankan jika banyak daerah maupun negara yang “berebut” untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan suatu event olahraga formal maupun nonformal, yang sudah diagendakan secara berkala dalam tingkat domestik maupun internasional. Misal, Aceh Marathon 2018.

Yang jadi soal adalah, bagaimana mutu penyelenggaraan Aceh Marathon 2018? Ini menjadi penting. Sebab, hakikat penyelenggaraan setidaknya memiliki berbagai substansi. Pertama, bagian integral dari upaya pembinaan olahraga sekaligus sebagai titik kulminasi upaya pembinaan secara menyeluruh: membangkitkan minat, pemanduan bakat, seleksi, dan kompetisi.

Kedua, ajang pertarungan martabat dan kehormatan bangsa serta daerah. Ketiga, ajang persaingan bisnis dan industri olahraga dan keempat, sarana edukasi sosial dan entertainment.

Karena itulah, setiap event harus dijamin memiliki manfaat yang jelas bagi upaya pembinaan olahraga secara menyeluruh. Maka, penyelenggaraan event olahraga seperti Aceh Marathon 2018, seharusnya mengandung aspek manajerial yang memfasilitasi dan mengkondisikan nuansa seleksi dan kompetisi secara optimal dan fair play. Tahap perangsangan minat dan motivasi berprestasi juga merupakan bagian yang harus dituju dalam penyelenggaraan event olahraga, apapun tatarannya. Sekali lagi, sudahkah semua visi, misi dan tujuan itu termaktub dalam Aceh Marathon 2018? Atau hanya sekedar berdalih untuk meningkatkan atau mendongkrak arus wisatawan ke Aceh umumnya dan Sabang khususnya?

Pada awalnya, olahraga memang merupakan aktivitas sosial yang ditopang oleh investasi perekonomian. Namun, pada sisi yang lain, olahraga memberikan keuntungan secara ekonomis dan nonekonomis. Dengan kata lain, terdapat multiplier effect dari sebuah kegiatan olahraga.

Makanya, potensi event olahraga sebagai ajang hiburan memang tidak dapat disangkal, karena event olahraga memang bersifat atraktif sehingga jika dikemas secara baik dan profesional, maka akan bernilai sebagai showbiz.

Daya atraktif demikian, biasanya amat diminati oleh masyarakat, terutama segmen anak muad yang memiliki sifat dinamis. Itu sebabnya, nilai publikasi yang amat tinggi serta relasi sosial yang kuat, dapat dijadikan sarana efektif dalam pengembangan nilai edukatif dan entertainment. Dengan kata lain, untuk mengemban hakikat penyelenggaraan event bermutu, perlu didukung payung hukum yang mengatur tentang standar nasional, khususnya standar nasional keolahragaan.

Sejak lahirnya Undang-undang Nomor 3 Tahun 2005, tentang Sistem Keolahragaan Nasional (UUSKN). Gerakan penataan keolahragaan nasional sudah sampai pada tahap penguatan secara yuridis formal.

Secara lebih operasional, UUSKN kemudian diikuti dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2007, yang mengatur tentang Penyelenggaraan Olahraga. Nah, pasca lahirnya PP Nomor 16 Tahun 2017 tadi, secara kongkret menjelaskan bahwa pemerintah tidak sekadar telah meletakkan payung hukum yang lebih kuat, tetapi juga menjelaskan secara tegas tentang sebuah kebijakan olahraga nasional yang mensistem dan diberlakukan secara nasional.

Sedikitnya, ada dua pengertian dari event. Pertama, kegiatan rutin yang dipertunjukkan, tidak dibuat-buat dan menjadi menarik bagi wisatawan, sedangkan pengertian kedua pariwisata event adalah, kegiatan yang memang sengaja dibuat dan dipertunjukkan untuk menarik wisatawan.

Begitupun, pembangunan kepariwisataan memerlukan keterlibatan peran serta masyarakat, dan diarahkan untuk memacu peningkatan daya saing global dan pemasukan devisa, peningkatan citra pariwisata Indonesia dan daerah yang disertai pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

***

Upaya  untuk memajukan pariwisata memang dapat dilakukan melalui pengenalan dan pengembangan sports tourism berkelas Internasional seperti marathon.  Sebab, marathon sudah menjadi salah satu sport yang populer di luar negeri seperti New York City Marathon, Parias Marathon, Asia Tokyo Marathon, Tour De France dan lain-lain.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009, tentang Kepariwisataan menyebutkan. Pariwisata adalah berbagai kegiatan wisata yang didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat. Fakta memang, saat ini wisata olahraga dikenal juga dengan sporting event yaitu, kegiatan wisata seraya berolahraga. Olahraga dalam  wisata bukan hanya bagi para profesional, tetapi untuk kalangan dapat merupakan segmen tertentu, meliputi komunitas profesional maupun amatir.

Itu sebabnya, lomba lari marathon yang pernah dilakukan pada berbagai negara dan daerah di Indonesia, seakan telah menjadi induk wisata olahraga (sports marathon). Misal, Tour de Singkarak Musi Triboatton dan Sail Indonesia, yang mengasosiasikan persepsi masyarakat dunia tentang luas dan indahnya wisata bahari di Indonesia sebelumnya.

Namun, perlu juga diteliti apakah tujuan wisata olah raga dapat berkontribusi secara maksimal bagi daerah atau tidak? Termasuk untuk mengetahui, apakah keberhasilan sport even marathon dan pengembangan sport even, dampak berganda terhadap masyarakat?

Sport Tourism atau Pariwisata Olahraga merupakan paradigma baru dalam pengembangan pariwisata dan olahraga di Indonesia. Tujuannya, mampu menunjukan potensinya sebagai sesuatu yang menarik, sehingga dapat menciptakan sebuah atraksi wisata yang dapat menjadikan multicultural tourism. 

Nah, agar suatu daerah tujuan wisata mempunyai daya tarik maka beberapa syarat yang harus dimiliki yaitu, adanya sesuatu yang dapat dilihat. Adanya sesuatu yang akan dilakukan dan adanya sesuatu yang dapat dibeli. Ini menjadi penting karena pengembangan Pariwisata Olahraga memerlukan sumber daya manusia yang unggul dan handal dalam mendesain berbagai kegiatan olahraga sehingga menjadi atraksi wisata yang layak jual, karena memiliki nilai ekonomi (economic values) dan mendatangkan keuntungan suatu negara atau daerah.

Jakarta Marathon yang merupakan event lomba lari terbesar di tanah air misalnya, sekaligus menjadi alat untuk mempromosikan Jakarta sebagai kota tujuan wisata dunia dan domestik, dengan melombakan beberapa kategori, yaitu: Full Marathon (42km), Half Marathon (21km), 10km, dan Maratoonz untuk anak-anak dengan jarak 1,3 km. Menariknya, rute lomba lari akan melewati beberapa landmark Ibu Kota yang paling terkenal seperti Monumen Nasional, Masjid Istiqlal, Katedral, Kota Tua, dan Hotel Indonesia.

Pertanyaannya adalah, apakah Aceh Marathon 2018 di Sabang akan memakai rute objek wisata di sana? Atau hanya sebatas seremoni yang berbalut olahraga sehingga bisa dengan mudah meraup uang negara dan pihak sponsor?

Sayangnya, belum lagi pertanyaan itu terjawab, rencana akbar yang digagas model dan presenter cantik, Fanny Steffy Burase, yang disebut-sebut sebagai perempuan istimewa (diduga istri kedua Irwandi Yusuf), sudah keburu bermasalah. Ini sejalan dengan tertangkapnya Gubernur Aceh non aktif Irwandi Yusuf yang dijerat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui operasi tangkap tangan (OTT), 3 Juli 2018 lalu.

Dari sanalah kemudian terkuak berbagai cerita dan pertanyaan tak elok, dibalik proyek akbar bertajuk: Aceh Marathon 2018. Misal, siapakah sesungguhnya Steffy dan apa kompetensinya di bidang olahraga lari? Kenapa event ini terkesan berdiri sendiri sehingga memposisikan KONI Aceh serta PASI Aceh pada lapis ketiga. Begitu profesionalkah peran dari Steffy? Bayangkan, mulai dari menerima uang pendaftaran dari peserta hingga penyediaan medali dan atribut lomba lainnya.

Mungkin, jika posisinya bukan sebagai staf ahli Gubernur Aceh Irwandi Yusuf atau hanya sebagai event organizer (EO), tak jadi soal. Tapi, ketika posisi sebaliknya maka pertanyaan tentang besarnya peran Steffy menjadi persoalan tersendiri. Apalagi, ada aliran dana Rp 500 juta yang mengalir dalam rekeningnya dan menurut dugaan KPK, berasal dari komitmen fee sejumlah proyek Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) 2018. Tentu, kisah dan ceritanya menjadi beda.***

 

Komentar

Loading...