Dibalik Tewasnya Hakim Pengadilan Negeri Medan

Diantara Bisnis dan Putusan Perkara

Diantara Bisnis dan Putusan Perkara

Meulaboh | Istri Jamaluddin, Zuraidah Hanum, tampak masih syok dengan kepergian sang suami untuk selamanya.

Isak tangis tak bisa dibendung melihat jasad Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Sumatera Utara itu, terbungkus kafan dan dikebumikan di tanah kelahirannya.

Ratusan warga di Desa Nigan, Kecamatan Seunagan, Kabupaten Nagan Raya juga berbondong memadati area Tempat Pemakaman Umum (TPU) di sana.

Bahkan tak sedikit pula orang-orang yang pernah menjadi tetangga almarhum sedih dan menanggis karena kepergian sosok lelaki yang dikenal murah senyum itu.

Ketiga anaknya, Kenny Akbar Jamal, Rajif Fandi Jamal dan Khanza Zahira Jamal juga begitu histeris dengan kepergian sang ayah, apalagi mereka masih menempuh pendidikan.

Tangisan mereka saat melihat jasad dimasukan ke liang lahat tak terhenti, sampai tak bisa berkata lagi.

Sekitar Pukul 14.00 WIB, Sabtu (30/11/2019) janazah Hakim Jamal tiba di rumah mertuanya di Desa Suak Bili, Kecamatan Suka Makmue, Nagan Raya.

Hakim, panitera, aparatur sipil negara PN Suka Makmue dan warga di sekitar terus berdatangan untuk melihat jenazah yang baru tiba dengan mobil ambulans. Bahkan dari Sumatera Utara pihak PN juga ikut hadir mewakili Mahkamah Agung.

Sebelumnya, jasad Jamaluddin ditemukan warga di dalam mobil berplat BK 77 HD miliknya di areal kebun sawit, Desa Suka Rame, Kutalimbaru, Deli Serdang, pada Jumat siang kemarin.

Lalu, warga langsung menyampaikan temuan itu ke kepala desa setempat dan diteruskan ke Polsek Kutalimbaru. Jenazah Jamaluddin diautopsi di RS Bhayangkara, Medan.

Kematian salah satu hakim pengadil anitu menimbulkan tanda tanya besar dan pihak kepolisian masih mendalami kasus tersebut.

Diwartakan beberapa media nasional, petugas saat ini telah memeriksa dua orang tekait temuan jasad dalam mobil, kendati aparat penegak hukum belum mau membeberkan orang yang telah diperiksa.

Pasca kejadian, jasad almarhum Jamal segera dievakuasi dan dishalatkan, lalu dibawa menggunakan ambulan ke kampung halaman di Nagan Raya.

Saat tiba dikediaman mertuanya jasad dibuka kembali, sebab pihak keluarga hendak melihat kondisi jenazah untuk terakhir kalinya. Lalu dishalatkan kembali di Masjid Suak Bili.

Usai itu, sebelum disemayamkan, jenazah kembali dishalatkan untuk ketiga kalinya di Desa Nigan, tanah kelahiran Jamal.

Ayah mertua korban, Bustami mengatakan. Lebih kurang sebelum menghadap sang khalik, alhamarhum Jamaluddin sempat pulang ke Aceh. Selama di rumah, korban sendiri memang telah menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa dilihat pihak keluarga.

“Lebih kurang 21 hari yang lalu korban ada pulang kemari (rumah mertua di Nagan), dan kami sudah melihat hal tak biasa dari dirinya. Padahal asal dia pulang kemari pasti bawaannya ceria dan bercanda sama anak-anak dan adik-adiknya di sini. Tapi, waktu itu murung, kami anggap dia sedang sakit,” jelas Bustami kepada media ini.

Keluarga Minta Pelaku Dihukum Mati

Berdasarkan data yang diperolah dari utusan PN Medan, Sumut. Jamaluddin pernah bertugas di PN Meulaboh tahun 1991, menjadi panitera penganti tahun 1994, tahun 2000 dicatat sebagai calon hakim di PN serupa.

Tahun 2002 korban ditugaskan ke PN Semeulue sebagai hakim sekaligus Kepala Pengadilan. Tahun 2007 Hakim di PN Banda Aceh, 2009 Hakim di PN Padang dan terkahir Hakim sekaligus Humas di PN Medan, Sumut.

Keluarga bersikeras meminta petugas segera mengungkap kasus ini secepat mungkin dan tidak ada yang ditutup-tutupi.

Bahkan, pelaku diberi hukum setimpal atas perbuatannya. “Kita mau pelaku segera terungkap, bila perlu dihukum seberat beratnya, kalau bisa hukuman mati saja,” tuturnya.

Keluarga mengira, kematian Jamaluddin kerap dikaitkan dengan kasus yang ditanganinya selama ini. Meski pun, tidak ada yang mengetahui persis kasus terakhir yang dikerjakan olehnya sebelum kejadian naas tersebut.

Beberapa sumber yang ditanyakan media ini mengaku. Korban memang dikenal ramah, bahkan dirinya cukup dikenal di kalangan masyarakat karena sikapnya yang suka menolong dan mudah bergaul dengan sesama.

Kehadirannya pun di tengah masyarakat mampu memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi.

Hakim PN Medan yang ikut mengantarkan jasad korban, Bambang Joko Winarno belum bisa menarik kesimpulan siapa dan apa penyebab kematian rekan seprofesinya itu. Sebelumnya dia terlihat tidak memiliki masalah dengan siapa pun.

Namun, perkiraan mereka kalau tidak menyangkut kasus yang ditangani korban, kematiannya dikaitkan dengan bisnis korban yang ada di sana. Sehingga pihak kepolisian diharapkan segera mengungkapkan kasus itu.

“Sekarang kasus ini sedang diselidiki pihak kepolisian yang di back up oleh Polresta serta Polda Sumut. Sejauh ini kami belum menerima perkembangan tindak lanjutnya, karena kita segera menuju kemari, kalau perkara yang kita  ditangani tidak tahu pasti, karena banyak sekali perkara yang ditangani olehnya, karena di sana pun sangat banyak perkara,” kata Bambang.

Selain berprofesi sebagai hakim, Jamaluddin juga memiliki bisnis di wilayah Sumut. Namun, rekannya tidak menyebutkan secara detail bisnis yang sedang ditekuni.

“Apakah ini berkaitan dengan perkara atau ada hal lain kami tidak tahu, karena masih dalam proses penyidikan. Sebab, selain menjadi hakim korban juga memiliki usaha. Nah, apakah  berkaitan dengan itu atau tidak, kami belum tahu. Belum bisa menyimpulkan secara dini. Kita tunggu saja hasil dari penyidikan kepolisian,” jelasnya.

Sementara itu,  media ini belum bisa mengambil informasi dari istri dan anak anak korban, terlihat begitu histeris dan tak bisa berkata.

Tetapi, keluarga menginginkan pihak kepolisian dapat mengungkap kasus ini secepat mungkin, mengingat ini menjadi musibah besar bagi Mahkamah Agung.***

Komentar

Loading...