Di Bireuen, Rentenir Berkedok Koperasi Bebas Beroperasi

Di Bireuen, Rentenir Berkedok Koperasi Bebas Beroperasi
Kabid Bidang Koperasi dan UKM Ir Anizar (Foto: Zulhelmi)
Penulis
Rubrik

Bireuen | Rentenir berkedok koperasi yang memberikan pinjaman modal usaha kepada masyarakat ekonomi menengah ke bawah, bebas berkeliaran di Kabupaten Bireuen.

Ironisnya, kebanyakan koperasi itu tak terdaftar pada Dinas Penanaman Modal Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Bireuen. Ini berarti, praktek yang dilakukan tidak sesuai dengan azas koperasi, Nomor 17 Tahun 2012.

Disebut-sebut, usaha "berkedok" koperasi itu pemiliknya berasal dari Medan, Sumatera Utara. Sasaran empuk mereka adalah para pedagang kecil dan para ibu rumah tangga yang membutuhkan pinjaman uang atau modal usaha.

Untuk memperoleh pinjaman sangat mudah, tidak diminta persyarat apapun. Tinggal memehon langsung diberikan.

Diduga, operasi rentenir berkedok koperasi ini, mempekerjakan anak-anak muda (pria). Mereka inilah yang ditugaskan mencari “mangsa”, untuk memberikan pinjaman yang dibutuhkan.

Lalu, setiap hari tugas mereka mengutip pinjaman pada nasabah. Pembayarannya secara cicilan dan bayarannya itu melebihi modal yang dipinjamkan.

Seorang wanita pedangan kecil di Kecamatan Kota Juang mengaku terlanjur meminjamkan modal usaha pada koperasi berkedok rentenir tadi, karena tak tahu harus meminjam kemana modal usaha yang dibutuhkannya.

”Walaupun lon teupu nyan riba, tapi putapeugot teuma, tanyoe peureulee modal usaha (walaupun saya tahu itu riba, tapi apa boleh buat, kami butuh modal usaha ),” kata wanita tadi, pada media ini, Senin 2 Desember 2019.

Modal usaha yang dibutuhkannya kata wanita tadi, hanya meminjam uang pada pemuda atau pekerja rentenir berkedok koperasi itu Rp 1 juta. “Tapi yang diberikan cuma Rp 900 ribu. Seratus ribu tadi buat buku. Pengembaliannya kita cicil per hari hingga jumlahnya melebihi yang kita pinjam,” ungkap wanita itu.

Sayang dia tak mengatakan berapa jumlah pengembalian pinjamannya. Saat ditanya berapa jumlah yang dikembalikan, dia hanya tersenyum.

Diakui, bukan hanya dia yang meminjam uang atau modal usaha pada rentenir yang berlagak koperasi. Tapi sejumlah pedagang kecil dan para ibu rumah tangga yang tak punya usaha, juga ikut meminjam.

Kepala Dinas Penanaman Modal Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Bireuen, Ali Basyah melalui Kabid Bidang Koperasi dan UKM Ir Anizar mengatakan. Jumlah koperasi itu belum terdata.

”Jumlah koperasi itu belum terdata sama kita, cuma ada satu koperasi semacam itu pernah kita data. Izinnya ada sama kita, setelah turun ke lapangan ternyata pengurusnya tidak tertera seperti di surat izin,” ungkapnya.

Dia mengakui kehadiran sejumlah rentenir yang kerkedok koperasi itu pihaknya tak memiliki wewenang untuk menindaknya.

“Kalau melihat ada koperasi semacam itu kita laporkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kita juga sudah sosialisasikan KUR. Melalui sosialisasi ini kita minta kepada masyakat jangan mengambil pinjaman pada koperasi jenis tadi, karena bungannya tinggi. Sementara KUR bunga rendah,” katanya.

Selain itu, untuk menghindari masyarakat mengambil pinjman pada koperasi itu, pihaknya telah melanjutkan surat edaran dari Kementerian Koperasi dan Usaha Menengah Republik Indonesia. Nomor 38/SE/Dep 6/X/2019, tentang bank gelap yang berkedok kopersi atau sejenisnya kepada para Camat untuk diteruskan kepada para Keuchik.***

Komentar

Loading...