Puluhan Wartawan Aksi Damai di Mapolda Aceh

Desak Polisi Gunakan UU Pers Jerat Pelaku Teror Terhadap Aidil

Desak Polisi Gunakan UU Pers Jerat Pelaku Teror Terhadap Aidil
Aksi Demo Jurnalis Aceh di Mapolda Aceh (Foto: Ist)
Penulis
Rubrik
Sumber
Reporter Banda Aceh

Banda Aceh | Sekitar 80-an wartawan dari berbagai media cetak, televisi dan siber yang tergabung dalam Jurnalis Anti Kekerasan (JANTAN), mengelar aksi demontrasi damai di Mapolda Aceh, Banda Aceh, Kamis, 9 Januari 2020.

Mereka mendesak kepada penyidik di Polres Aceh Barat, untuk menerapkan UU No: 40/199 tentang pers, terhadap Akrim, pelaku teror dan ancaman pembunuhan terhadap Aidil Firmansyah, wartawan Tabloid MODUS ACEH dan Portal MODUSACEH.CO, liputan Aceh Barat dan Nagan Raya.

Bahkan, ada beberapa diantara yang datang dari daerah seperti, Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Pidie Jaya dan Bireuen.

Awak media ini mendesak Kapolda Aceh Irjen Pol. Rio S Djambak untuk memantau langsung proses hukum yang kini berjalan di Polres Aceh Barat.

“Kami mencium adanya proses tidak normal yang terjadi dalam penyidikan kasus tersebut. Diduga, penyidik menjerat terlapor (Akrim) dengan pasal ringan, bukan UU Pers,” ungkap Pimpinan Redaksi MODUS ACEH, H. Muhammad Saleh, yang juga ikut berorasi.

Aksi tersebut terkait peristiwa pengancaman yang dialami Aidil Firmansyah, wartawan MODUS ACEH Aceh dan MODUSACEH.CO di Aceh Barat, Minggu 5 Januari 2020 dini hari.

Aidil diancam bunuh oleh Akrim, Direktur PT. Tuah Akfi Utama karena terkait berita perusahaan itu yang diwartakan MODUSACEH.CO beberapa jam sebelum pengancaman.

Peristiwa ini sudah ditangani penyidik Polres Aceh Barat setelah korban melaporkan kejadian yang dialaminya. Polisi juga sudah meminta keterangan dari Aidil (saksi korban) serta Akrim saksi terlapor. Termasuk beberapa saksi lainnya.

Ironisnya, atas pengancaman yang turut memperlihatkan mirip senjata api jenis pistol ini, penyidik hanya menjerat pelaku dengan Pasal 335 KUHPidana tentang perbuatan tidak menyenangkan. Sedangkan senjata yang digunakan dan diakui asli pelaku pada beberapa pemberitaan media, terakhir berubah wujud menjadi korek api atau mancis berbentuk pistol.

Atas peristiwa ini, pelaku justeru tidak terjerat dengan penyalahgunaan senjata api dan Undang-undang No: 40 tahun 1999, tentang pers.

"Padahal, sangat jelas pengancaman itu terjadi karena pemberitaan yang tayang di media MODUSACEH.CO," kata Ketua AJI Banda Aceh, Misdarul Ihsan dalam aksi damai di depan Mapolda Aceh.

Kata Ihsan, dalam menjalankan profesinya jurnalis dilindungi UU No.40 Tahun 1999 tentang pers yang Lex Spesialis atau berlaku khusus.

Dalam UU Pers disebutkan, mengancam bunuh jurnalis adalah tindakan membungkam kemerdekaan pers sebagaimana diatur pada Pasal 4 dan bagian dari upaya menghalang-halangi tugas jurnalistik seperti diatur pada Pasal 18 ayat (1).

20200109-demo1

"Karena itu, berhubung pengancaman ini jelas-jelas terjadi karena berita yang ditulis jurnalis yang dilindungi oleh UU Pers, maka pelakunya wajib dijerat dengan UU Pers yang berlaku khusus, dijounctokan dengan KUHPidana. Selain itu, karena UU khusus dapat mengenyampingkan UU Umum (KUHP), maka, penanganan perkara ini harus dilakukan bidang pidana khusus (Pidsus) bukan pidana umum (Pidum)," ujar Ihsan yang disambut teriakan hidup wartawan oleh para peserta aksi.

Itu sebabnya, JANTAN yang terdiri dari lintas organisasi pers di Aceh: Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengda Aceh, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh dan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Aceh, meminta Kapolda Aceh untuk mengawal penanganan kasus pengancaman terhadap Aidil Firmansyah dengan UU No.40 tahun 1999 tentang pers, mengingat pengancaman itu berkaitan dengan pemberitaan.***

Komentar

Loading...